Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kemakmuran Masjid Tak Diukur dari Kemegahan Fisik

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Kemakmuran Masjid Tak Diukur dari Kemegahan Fisik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Meski penting, tapi fisik bangunan masjid yang besar, karpet mahal, sound yang canggih, dan kendaraan mewah bukan ukuran utama keberhasilan masjid Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal pada Sabtu (11/7) dalam Rapat Kerja Nasional Dewan Kemakmuran Masjid dan Musala Muhammadiyah (Rakernas DKM3) di ITM, Kasihan Bantul.

Fathurrahman menegaskan supaya terma masjid makmur jangan menjebak hanya pada urusan-urusan fisik. Sebab ukuran masjid makmur lebih mendasar yaitu kemampuan melahirkan manusia beriman, berilmu, berintegritas, dan peduli sosial.

“Kita jangan sampai sibuk dengan hal-hal yang tampak megah, tetapi melupakan substansi dan misi utama masjid,” tutur Fathurrahman Kamal.

Mengajak kembali pada kisah masa lalu, dia menceritakan tentang kebanggaan musyrikin Makkah yang membanggakan pelayanan terhadap jemaah haji dan pemeliharaan bangunan Masjid al Haram.

Fakta sejarah itu menurutnya menjadi wajah konkrit, bahwa pelayanan fisik tidak dapat disamakan dengan keimanan, ketakwaan, dan perjuangan di jalan Allah yang membutuhkan niat lurus dan hati yang bersih.

Bagi Fathur, pembangunan gedung, penyediaan fasilitas, penyusunan jargon, dan penyelenggaraan kegiatan seremonial harus selalu ditopang oleh keikhlasan, kesucian jiwa, dan orientasi pengabdian kepada Allah.

Oleh karena itu, masjid tidak boleh hanya menjadi pusat ritualitas. Masjid harus menjadi ruang pendidikan, kaderisasi, pemberdayaan, pelayanan sosial, dan transformasi kehidupan masyarakat.

Di sisi yang lain, kata Fathur, masjid-masjid Muhammadiyah harus mampu memerankan peran sebagai transformasi sosial– dari ketakwaan personal menjadi ketakwaan sosial.

Masjid Muhammadiyah menurutnya harus manifes dalam pelayanan kemanusiaan, membangun kepedulian dan mengambil aksi nyata untuk membela kelompok lemah, sampai pada ikut bertanggung jawab pada urusan kebangsaan.

“Masjid harus menjadi pusat kepedulian dan pelayanan sosial. Masjid harus hadir merawat kemanusiaan,” jelasnya.

Dalam pandangan Muhammadiyah, lanjut Fathurrahman, masjid harus menjadi pusat gerakan ilmu, dakwah, dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga fungsi tersebut harus dikembangkan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan