Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Islam Berkemajuan Membebaskan Umat dari Kejumudan Beragama

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Islam Berkemajuan Membebaskan Umat dari Kejumudan Beragama

MUHAMMADIYAH.OR.ID, PONOROGO – Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan atau yang akrab disapa Gusbach, mengajak warga Muhammadiyah untuk melepaskan diri dari kejumudan berpikir dalam beragama.

Menurutnya, Islam yang didakwahkan Muhammadiyah adalah Islam yang mencerahkan akal, menguatkan tauhid, sekaligus mendorong kemajuan peradaban.

Hal tersebut disampaikan Gusbach dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Al-Manar, Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Ahad (12/7). Di hadapan ratusan jamaah, ia menegaskan bahwa Islam hadir tidak hanya untuk menerangi hati, tetapi juga membangun nalar dan peradaban umat.

“Islam Berkemajuan yang dipromosikan Muhammadiyah bukan sekadar narasi. Muhammadiyah hadir melalui aksi nyata di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pengajian seperti ini merupakan inovasi tradisi agar jarak antara sumber ilmu dan umat semakin dekat sehingga pencerahan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Gusbach menekankan pentingnya menuntut ilmu sebagai jalan untuk keluar dari kejumudan berpikir. Menurutnya, umat Islam harus memiliki cara pandang yang terbuka, kritis, dan tercerahkan agar tidak mudah terjebak pada takhayul, mitos, maupun praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran tauhid.

Ia mengingatkan bahwa kemurnian akidah menjadi fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang maju.

“Tauhid kita harus benar-benar iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Jangan menduakan Allah. Islam memastikan bahwa hanya Allah yang menciptakan dan hanya kepada-Nya kita menyembah. Jika akidah kokoh, umat akan melangkah maju tanpa rasa takut yang tidak berdasar,” tegasnya.

Selain menyoroti aspek spiritual, Gusbach juga mengajak warga Muhammadiyah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui kesehatan, pendidikan, dan kemandirian ekonomi. Menurutnya, perhatian terhadap gizi keluarga merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Ia menilai umat Islam harus memiliki kekuatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus ekonomi agar mampu menjadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar konsumen.

“Kalau ekonomi umat kuat, tangan kita akan selalu di atas, memberi bukan meminta. Saya mendukung jika pengajian Muhammadiyah juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada UMKM jamaah untuk berkembang sehingga tercipta perputaran ekonomi yang membawa kemaslahatan bersama,” katanya.

Gusbach mengingatkan bahwa berislam harus dijalani dengan penuh kegembiraan. Pengajian, menurutnya, bukan sekadar ruang menimba ilmu, tetapi juga menjadi sarana memperkuat optimisme, mempererat ukhuwah, dan menjaga kesehatan mental umat di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Ia berharap sinergi antara dakwah yang mencerahkan dan pemberdayaan masyarakat terus diperkuat sehingga Muhammadiyah mampu menghadirkan Islam yang membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Tinggalkan Balasan