Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Lewat Pagelaran Seni, Mahasiswa Muhammadiyah Perkuat Komitmen Lestarikan Budaya Nusantara

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Lewat Pagelaran Seni, Mahasiswa Muhammadiyah Perkuat Komitmen Lestarikan Budaya Nusantara

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Komitmen generasi muda Muhammadiyah dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa kembali ditunjukkan melalui Pagelaran Seni Sentakamudya (PSS) yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Tari dan Karawitan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (28/6), di Auditorium Seni SMK Negeri 2 Kasihan Yogyakarta.

Pagelaran ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional yang memadukan nilai estetika, sejarah, dan kearifan budaya Jawa. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto.

Menurut Gunawan, pagelaran seni yang digagas mahasiswa tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana kaderisasi budaya bagi generasi muda. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya tampil sebagai pelaku seni, tetapi juga berperan sebagai penjaga warisan budaya bangsa.

“Pagelaran ini menampilkan empat sajian seni yang masing-masing memiliki akar budaya yang kuat dan khas. Kegiatan semacam ini penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya nasional,” ujar Gunawan.

Pertunjukan diawali dengan penampilan Tari Baduk Molan, tarian tradisional khas Pacitan yang lazim dipentaskan dalam prosesi ruwatan tolak balak di wilayah Tegalombo. Tarian ini dikenal dengan gerakannya yang jenaka, spontan, dan penuh improvisasi, berpadu harmonis dengan iringan gamelan Jawa yang dinamis.

Selanjutnya, penonton disuguhi Konser Medley Karawitan yang membawakan dua karya istimewa. Pertama, Langgang Ella Elok, sebuah narasi musikal yang menggambarkan dinamika cinta, kerinduan, dan perjalanan batin manusia. Kedua, sebuah komposisi berbentuk teka-teki berbahasa Jawa karya Kijong Romasito (1959) yang sarat dengan pesan kritik sosial dan refleksi kehidupan masyarakat.

Puncak acara ditandai dengan pementasan Sendratari SAS-PA (Sasmita Pati). Karya kolosal tersebut mengangkat kisah heroik Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin tanah perdikan Mangir yang dikenal berani mempertahankan kedaulatan wilayahnya dari hegemoni Kerajaan Mataram. Pertunjukan ini menghadirkan perpaduan dramatik antara tari, musik, dan narasi sejarah yang menggambarkan perjuangan serta akhir tragis sang tokoh setelah menghadapi strategi politik Panembahan Senopati.

Gunawan juga menambahkan bahwa kiprah Sentakamudya UMY dalam pelestarian budaya tidak hanya terlihat melalui pagelaran tahunan tersebut. Sebelumnya, pada 18 Mei 2026, kelompok seni mahasiswa itu memperoleh kesempatan tampil dalam agenda budaya Srimanganti di Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta.

 

“Dalam kesempatan tersebut, Sentakamudya membawakan pertunjukan uyon-uyon sekaligus mengiringi tari tradisional khas Yogyakarta yang sarat nilai filosofis dan budaya. Keterlibatan mereka di lingkungan Keraton menunjukkan bahwa kemampuan dan dedikasi mahasiswa UMY dalam bidang seni tradisi mendapat pengakuan dari berbagai kalangan,” pungkas Gunawan.

 

Melalui berbagai aktivitas kesenian tersebut, Sentakamudya UMY terus membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar upaya menjaga warisan masa lalu, melainkan juga ikhtiar membangun identitas dan karakter generasi masa depan. Di tengah derasnya arus globalisasi, kehadiran komunitas seni mahasiswa seperti Sentakamudya menjadi bagian penting dalam memastikan nilai-nilai budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi muda Indonesia. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan