MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG – Muhammadiyah sebagai fenomena global, maka pemikirannya harus mendunia tak boleh menyempit dan merespon isu-isu yang dekat di depan mata.
Pesan itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni pada Sabtu (6/6) di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam Muhammadiyah Diplomacy Training (MDT) yang diselenggarakan Lembaga Hubungan dan Kerja sama Internasional (PP) Muhammadiyah.
Syafiq menjelaskan, Dengan runtuhnya batas-batas geografis akibat kemajuan komunikasi, Muhammadiyah dituntut untuk menggeser paradigma berpikirnya dari lokal menjadi global.
Merujuk Risalah Islam Berkemajuan (RIB), Syafiq menambahkan, Muhammadiyah pada masa globalisasi memetakan tiga isu utama yang menjadi track dakwah, yakni isu keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.
Maka konsekuensi logisnya adalah ruang lingkup dakwah Muhammadiyah semakin luas. Terlebih adanya tantangan dan dorongan global, serta ekspektasi masyarakat dunia yang menuntut perubahan ke arah yang lebih baik.
“Muhammadiyah telah diakui secara internasional sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar yang dinilai sangat sukses dalam membangun dan mengembangkan sektor pendidikan serta kesehatan,” katanya.
Kini Muhammadiyah sudah hadir secara struktural di lebih dari 30 negara di dunia. Keberadaan jaringan struktur ini menjadi kepanjangan aksi Muhammadiyah untuk menjalin kerja sama dengan dunia internasional.
Tak hanya melalui struktur, Muhammadiyah juga aktif membangun jaringan yang lebih cari misalnya melalui pengembangan sister organization, serta berperan aktif melalui gerakan kemanusiaan, kesehatan, dan pendidikan di berbagai negara.
Oleh karena itu, Syafiq mendorong para kader persyarikatan untuk mengembangkan kemampuan dalam membangun jaringan internasional, langkahnya bisa dimulai dengan memperkuat kemampuan bahasa asing sebagai modal berdiplomasi.






