Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Syamsul Anwar Dorong Tafsir At-Tanwir Perkuat Pendekatan Tematik dan Etos Kemajuan

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Syamsul Anwar Dorong Tafsir At-Tanwir Perkuat Pendekatan Tematik dan Etos Kemajuan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar menekankan pentingnya ketelitian dan kedalaman akademik dalam penyusunan Tafsir At-Tanwir. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada acara Halaqah Tafsir At-Tanwir XV yang digelar di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Sabtu (09/05).

Dalam sambutannya, Syamsul mengingatkan bahwa proses penyusunan tafsir membutuhkan kehati-hatian tinggi, sebab kesalahan kecil dapat merusak keseluruhan kualitas karya. Ia mengibaratkannya dengan peribahasa “karena nila setitik rusak santan sebelanga”.

Menurutnya, ketelitian tidak hanya diperlukan dalam penyuntingan uraian tafsir, tetapi juga pada aspek penerjemahan ayat. Ia menegaskan bahwa tim penyusun perlu mencermati terjemahan secara serius agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

“Prinsip kita menyesuaikan terjemahan Kemenag, agar masyarakat tidak dibingungkan oleh terjemah yang berbeda. Berbeda juga boleh asalkan ada penjelasannya dari kita, ada argumennya,” ujarnya.

Syamsul juga menekankan pentingnya pelibatan para hafiz Al-Qur’an, termasuk kalangan santri di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), dalam proses telaah naskah tafsir. Selain itu, ia meminta agar penulisan ayat menggunakan khat Utsmani secara konsisten demi menjaga keseragaman dan menghindari kebingungan pembaca.

Ia bahkan membuka kemungkinan untuk turut menjadi pembaca akhir naskah tafsir. Namun demikian, Syamsul mengingatkan agar para editor tetap bekerja maksimal dan tidak bergantung pada pemeriksaan akhir darinya.

“Saya sebagai pembaca boleh dimintakan juga untuk jadi pembaca akhir. Tapi para editor jangan karena saya pembaca akhir lalu tidak serius dalam mengedit,” katanya.

Selain aspek teknis, Syamsul juga menyoroti pentingnya penguatan pendekatan tematik atau maudhui dalam Tafsir At-Tanwir. Ia menilai ayat-ayat yang memiliki tema serupa perlu dihimpun dan dibahas secara tematik agar lebih memperlihatkan kesatuan pesan Al-Qur’an.

Menurutnya, tafsir Muhammadiyah juga harus menghadirkan nuansa etos yang kuat dalam penafsirannya, seperti etos ekonomi, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kemajuan lainnya yang relevan dengan kehidupan umat.

Dalam kesempatan itu, Syamsul turut menyinggung kajian menarik mengenai kata “kafur” dalam Al-Qur’an. Ia mengutip pendapat Hamka yang menyebut kata tersebut sebagai satu-satunya kata Melayu yang terdapat dalam Al-Qur’an. Menurutnya, hal tersebut layak dielaborasi lebih jauh dalam kajian tafsir.

“Saya mencoba memeriksa, selain Hamka, juga diakui bahwa kata tersebut dari Melayu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, apakah pada zaman Nabi ada hubungannya antara Arab dengan Melayu,” ungkapnya.

Ia juga menyebut penelitian Al-Farabi yang pernah menyinggung istilah “kafur dari negeri Barus”, sebagai indikasi adanya hubungan historis antara dunia Arab dan Nusantara sejak masa lampau.

Di akhir sambutannya, Syamsul mendorong pengembangan tema-tema tafsir yang dekat dengan konteks keindonesiaan sebagai negara kepulauan. Ia mencontohkan tema tentang laut dalam Al-Qur’an yang dapat dikaji secara khusus, meskipun tetap disajikan secara proporsional dan tidak berlebihan.

“Karena kita kepulauan jadi kita perlu melakukan tematisasi, misalnya soal laut. Cuman jangan terlalu banyak, cukup sederhana saja,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan