Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Mengingat Kematian sebagai Tanda Kecerdasan Spiritual

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Mengingat Kematian sebagai Tanda Kecerdasan Spiritual

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGAYAKARTA — Pengajian Tarjih yang disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghoffar Ismail, pada Rabu (06/05) mengingatkan umat Islam tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Dalam pengajian tersebut, ia menegaskan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak pernah diketahui kapan datangnya, sehingga manusia dituntut untuk senantiasa bersiap.

“Malam hari ini kita masih diberikan oleh Allah nafas untuk bersiap-siap menghadapi kematian kapan pun,” ujarnya membuka pengajian.

Menurutnya, semua manusia tanpa memandang agama, status sosial, maupun tingkat kesalehan, meyakini adanya kematian. Namun, yang membedakan seorang mukmin dengan yang tidak beriman adalah keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian.

“Orang yang tidak percaya kepada kehidupan setelah mati menganggap kematian sebagai akhir segalanya. Padahal kematian hanyalah pintu menuju kehidupan yang baru,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa dalam pandangan Islam, kematian bukanlah kehancuran total, melainkan terpisahnya ruh dari jasad. Setelah itu manusia memasuki alam barzakh sebelum kelak dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah.

Karena itu, keimanan terhadap alam akhirat menjadi inti dalam mempersiapkan kematian. Kepercayaan terhadap adanya hisab, surga, neraka, nikmat kubur, dan siksa kubur membuat seorang muslim terdorong untuk memperbaiki amal selama hidup di dunia.

“Kematian itu waktunya habis. Setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk mempersiapkan diri,” katanya.

Dalam pengajian tersebut, Ghoffar juga menekankan pentingnya husnul khatimah. Meski tidak ada jaminan seseorang akan wafat dalam keadaan baik, manusia tetap diperintahkan untuk terus berusaha memperbaiki diri hingga akhir hayat.

Ia mengingatkan bahwa ada orang yang sepanjang hidupnya tampak saleh, tetapi tergelincir menjelang wafat. Sebaliknya, ada pula orang yang sebelumnya jauh dari kebaikan, namun meninggal dalam keadaan bertobat sehingga mendapatkan husnul khatimah.

“Itu rahasia Allah. Tetapi kita diperintahkan untuk terus mempersiapkan diri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw. tentang ciri orang cerdas. Rasulullah menyebut orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling serius mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.

“Aksaruhum zikran lil maut wa asyadduhum isti‘dadan lahu, ulaika humul akyas.”

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuknya, merekalah orang-orang yang cerdas.”

Menurutnya, ukuran kecerdasan dalam Islam tidak semata ditentukan oleh tingginya IQ, gelar akademik, ataupun capaian duniawi, tetapi sejauh mana seseorang mempersiapkan kehidupan akhirat yang kekal.

“Kita ini sibuk mempersiapkan masa depan dunia yang sebentar, tetapi sering lupa mempersiapkan kehidupan yang abadi,” katanya.

Ia juga menyoroti fenomena manusia modern yang terlalu sibuk mengejar kekayaan dan passive income, namun melupakan investasi amal untuk akhirat. Padahal, harta yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan hanya akan ditinggalkan ketika kematian datang.

“Maka jangan terlalu pelit untuk infak dan sedekah. Jangan semuanya hanya disimpan,” pesannya.

Selain itu, Ghoffar menjelaskan bahwa mengingat kematian justru dapat melahirkan ketenangan jiwa. Ia mengutip hadis Nabi: “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu kematian.”

Menurutnya, orang yang senantiasa mengingat kematian tidak akan terlalu terikat kepada urusan dunia sehingga hatinya menjadi lebih lapang dan tenang.

“Hidup ini jangan kemrungsung. Jangan terus kecewa dan gelisah terhadap takdir Allah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa orang beriman semestinya tidak larut dalam penyesalan masa lalu maupun kecemasan terhadap masa depan. Sebab, semua yang dijalani merupakan bagian dari ketentuan Allah yang harus diterima dengan ikhtiar dan tawakal.

Dalam pengajian itu, ia juga mengingatkan pentingnya memperbanyak tobat dan istigfar. Rasulullah saw., kata dia, beristigfar lebih dari 70 kali bahkan 100 kali sehari, padahal beliau adalah manusia yang maksum.

“Nabi saja istigfar 100 kali sehari. Kita yang penuh dosa ini tentu lebih membutuhkan istigfar,” katanya.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menjaga keseimbangan antara kerja keras di dunia dan persiapan menuju akhirat. Bekerja tetap merupakan bagian dari ibadah, tetapi jangan sampai kesibukan dunia membuat seseorang lalai dari tobat, ibadah, dan amal saleh.

“Tetap usaha keras, tetap bekerja, tetapi hati harus tenang dan jangan sampai dunia melalaikan kita dari akhirat,” pesannya.

Tinggalkan Balasan