MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ahad (03/05), Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan dipenuhi jamaah yang antusias mengikuti pengajian yang disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mhd Lailan Arqam.
Dalam ceramahnya, ia mengajak umat Islam untuk kembali meneladani sosok Nabi Ibrahim alaihissalam, bukan hanya sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai pendidik ulung dan arsitek peradaban.
Dalam pembukaannya, Lailan Arqam menegaskan bahwa Nabi Ibrahim merupakan figur luar biasa yang berhasil melahirkan generasi unggul lintas zaman.
“Beliau bukan sekadar utusan Allah, tetapi juga seorang ayah dan pendidik yang sukses membangun keturunan saleh hingga melahirkan banyak nabi, termasuk Nabi Muhammad Saw,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Nabi Ibrahim tidak lahir dari kondisi ideal. Justru sebaliknya, beliau hidup di tengah situasi sosial yang penuh tantangan, di bawah kekuasaan Raja Namrud yang zalim. Namun demikian, Nabi Ibrahim mampu menghadirkan generasi unggul. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa seberat apa pun kondisi zaman, harapan untuk melahirkan generasi berkualitas tetap terbuka.
Menanggapi fenomena kekhawatiran sebagian masyarakat dalam mendidik anak di era modern—bahkan hingga munculnya tren childfree—ia menekankan bahwa pesimisme semacam itu tidak sejalan dengan teladan kenabian.
“Kalau zaman Nabi Ibrahim yang rusaknya luar biasa saja masih bisa melahirkan generasi hebat, maka kita pun seharusnya tetap optimis,” tegasnya.
Dalam paparannya, ia merumuskan empat pilar utama pendidikan ala Nabi Ibrahim.
Pertama, membangun tauhid sebagai fondasi utama.
Tauhid, menurutnya, bukan sekadar konsep teologis, tetapi menjadi akar dari seluruh aspek kehidupan. Pendidikan anak tidak boleh hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi harus diawali dengan penguatan akidah. Tauhid yang kuat akan melahirkan ketahanan mental, ketenangan jiwa, dan produktivitas dalam kehidupan.
Ia mencontohkan bagaimana keyakinan kepada Allah mampu menjadi sumber kekuatan saat seseorang menghadapi fitnah, kesulitan, atau ketidakadilan.
Kedua, keteladanan (uswah hasanah).
Ia menegaskan bahwa pendidikan paling efektif adalah melalui contoh nyata. “Seribu nasihat bisa kalah dengan satu keteladanan,” ungkapnya.
Orang tua, menurutnya, harus menjadi model hidup bagi anak-anaknya. Kebiasaan sederhana seperti salat tepat waktu, menjaga aurat, dan memprioritaskan nilai agama akan terekam kuat dalam diri anak. Tanpa keteladanan, pendidikan hanya menjadi teori yang hampa.
Ketiga, pendekatan dialogis.
Berbeda dengan pola otoriter, Nabi Ibrahim mendidik dengan dialog yang terbuka. Ia mencontohkan kisah dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail saat perintah penyembelihan, yang menunjukkan komunikasi penuh hikmah dan penghargaan terhadap anak.
Pendekatan dialog ini dinilai penting untuk membangun daya pikir, keterbukaan, serta kedekatan emosional antara orang tua dan anak, terutama di era modern yang sarat dengan pengaruh teknologi.
Keempat, kekuatan doa.
Selain ikhtiar pendidikan, doa menjadi elemen yang tidak boleh terputus. Ia mengingatkan bahwa keterbatasan manusia dalam mengontrol anak harus diimbangi dengan ketergantungan kepada Allah. Doa Nabi Ibrahim seperti “Rabbi habli minas shalihin” menjadi contoh bagaimana harapan besar terhadap generasi saleh senantiasa dipanjatkan.
“Pendidikan bukan sekadar sebab-akibat, tetapi juga melibatkan campur tangan Allah,” jelasnya.
Di akhir ceramahnya, Lailan Arqam menggambarkan pendidikan anak seperti menanam pohon. Tauhid menjadi akar, keteladanan sebagai pupuk, dialog sebagai air yang menyuburkan, dan doa sebagai penjaga. Jika semua itu berjalan, maka akan tumbuh generasi yang kuat dan berkontribusi bagi peradaban.
Ia juga menekankan bahwa keluarga adalah pusat utama pembangunan peradaban, bukan lembaga formal semata. Oleh karena itu, tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak tidak bisa dianggap remeh.
“Mulailah dari diri sendiri. Jadilah teladan, bangun kesadaran, dan jangan pernah berhenti berdoa,” pungkasnya.






