MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asrul Jamaludin, menegaskan bahwa konsep “peradaban hanif” merupakan syarat utama untuk menghadirkan kehidupan ideal dan bermutu.
Hal itu disampaikannya dalam pengajian Ahad pagi di Masjid KH Sudja pada Ahad (10/05).
Dalam pengajiannya, Asrul mengawali penjelasan dengan mengutip Surah Ali Imran ayat 67 yang menjelaskan tentang sosok Nabi Ibrahim sebagai pribadi hanif dan muslim. Ia menjelaskan bahwa istilah hanif dalam ayat tersebut tidak sekadar berarti lurus, tetapi juga menggambarkan sikap berserah diri kepada Allah dan kecenderungan mengikuti agama tauhid.
Menurutnya, ayat tersebut tidak bisa dipahami secara terpisah dari rangkaian ayat sebelumnya. Al-Qur’an, kata dia, sedang menggugah manusia untuk membangun kehidupan yang baik dan ideal melalui apa yang disebut sebagai “peradaban hanif”.
“Di lingkungan Muhammadiyah konsep itu dekat dengan istilah peradaban mutu atau peradaban unggul,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa kata hanif dalam Al-Qur’an disebut sebanyak sembilan kali. Tiga di antaranya berkaitan dengan fitrah manusia yang pada dasarnya mencintai kehidupan damai, tenteram, dan penuh kebaikan.
“Manusia itu aslinya suka ketenangan, suka kehidupan yang baik, tidak suka kisruh dan pertengkaran,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa hawa nafsu dan godaan setan membuat manusia sering keluar dari fitrah tersebut sehingga melahirkan kerusakan sosial.
Selain berbicara tentang fitrah manusia, enam ayat lain tentang hanif berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan millah Ibrahim. Asrul menjelaskan bahwa agama para nabi hadir untuk menuntun manusia menuju visi hidup sejati, yakni membangun peradaban unggul yang berlandaskan tauhid.
Ia kemudian mengulas jejak Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an yang disebut sebanyak 69 kali. Menurutnya, penyebutan tersebut dapat dipetakan ke dalam tujuh tema besar.
Pertama, sosok pribadi Ibrahim yang dikenal halim, lembut, penyantun, dan mudah kembali kepada Allah. Kedua, Ibrahim sebagai teladan dan imam umat manusia, bahkan disebut sebagai Abul Anbiya karena banyak nabi lahir dari keturunannya.
Selain itu, Ibrahim juga disebut sebagai simbol persatuan umat manusia melalui Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia. “Kiblat merupakan simbol kesatuan umat manusia yang diwariskan Nabi Ibrahim,” katanya.
Tema ketiga berkaitan dengan visi kepemimpinan Ibrahim melalui konsep “baladan aminan”, yakni negeri yang aman dan sejahtera. Ia menjelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya bermakna ekonomi, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan keharmonisan sosial.
Dalam kesempatan itu, Asrul turut menyinggung persoalan sosial kontemporer, termasuk bahaya pinjaman online dan meningkatnya tindak kekerasan jalanan atau klitih yang mengganggu rasa aman masyarakat.
“Kalau negeri ingin menjadi baladan aminan, maka masyarakatnya harus saleh, ekonominya kuat, dan rasa amannya terjamin,” ujarnya.
Ia merujuk Surah Quraisy ayat 3–4 yang menurutnya memuat tiga ciri utama negeri ideal: religiositas yang kuat, terpenuhinya kebutuhan hidup, dan terciptanya keamanan sosial.
Tema keempat yang dijelaskan Asrul ialah hubungan Ibrahim dengan kekuasaan. Ia menggambarkan keberanian Nabi Ibrahim menghadapi Raja Namrud sebagai bentuk keteguhan dakwah terhadap penguasa zalim. “Mendakwahi penguasa jauh lebih berat dibanding mendakwahi masyarakat biasa karena penguasa memiliki kekuatan dan pengaruh besar,” katanya.
Tema kelima membahas pentingnya membangun keturunan unggul. Asrul menjelaskan bahwa keberhasilan Nabi Ibrahim tidak bisa dipisahkan dari kesungguhannya mendidik generasi, termasuk Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.
Ia mencontohkan bagaimana Ibrahim melibatkan Ismail dalam pembangunan Ka’bah sebagai bagian dari proses pendidikan dan pemberdayaan generasi. “Berdoa saja tidak cukup. Ibrahim juga mendidik anak-anaknya secara langsung,” ujarnya.
Dalam pengajian tersebut, Asrul merumuskan lima prinsip utama peradaban hanif. Pertama, menjadikan tauhid sebagai dasar seluruh aktivitas kehidupan. Kedua, membangun kualitas individu yang unggul dengan sifat-sifat mulia seperti jujur, lembut, amanah, dan tekun beribadah.
Ketiga, menjaga dan memberdayakan keturunan agar lahir generasi unggul. Keempat, menghadirkan negeri yang aman dan sejahtera. Sementara prinsip kelima berkaitan dengan terciptanya kehidupan sosial yang harmonis dan bermartabat.
Menjelang akhir pengajian, Asrul menegaskan bahwa misi besar manusia sebagai khalifatullah adalah membangun hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik melalui nilai-nilai tauhid dan keteladanan Nabi Ibrahim.






