Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Khutbah Iduladha 1447 H: Meneladani Nabi Ibrahim untuk Menjadi Muslim al-Mukhbitin

Oleh ilham • • 6 Menit Min
Khutbah Iduladha 1447 H: Meneladani Nabi Ibrahim untuk Menjadi Muslim al-Mukhbitin

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ الْقَوِيِّ الْمَجِيْدِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ وَعَنَّا مَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّيْنِ

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

وَقَالَ تَعَالَىٰ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Salat Iduladha yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita kembali dipertemukan dengan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Kaum muslimin di seluruh penjuru dunia mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai tanda syukur dan penghambaan kepada Allah Swt.

Iduladha mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin harus dipenuhi ketundukan kepada Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memberikan teladan tentang kepatuhan, pengorbanan, dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah.

Allah Swt berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Ibadah kurban mengajarkan bahwa penghambaan kepada Allah selalu membutuhkan keberanian untuk berkorban. Nabi Ibrahim rela meninggalkan kepentingan pribadi demi menjalankan perintah Allah. Nabi Ismail pun menerima ketentuan itu dengan penuh keikhlasan. Dari peristiwa inilah kita belajar bahwa iman itu berarti kesiapan untuk tunduk dan taat kepada Allah dalam keadaan apa pun.

Jamaah yang berbahagia,

Nabi Ibrahim merupakan teladan penghambaan yang sempurna. Ketika diperintahkan meninggalkan keluarganya di lembah tandus, beliau patuh. Ketika diperintahkan menyembelih Nabi Ismail, beliau juga tunduk sepenuhnya kepada Allah. Tidak ada penolakan, tidak ada keraguan, dan tidak ada tawar-menawar terhadap perintah Allah. Kepatuhan itulah yang menjadikan Nabi Ibrahim dikenang sepanjang zaman sebagai imam bagi orang-orang beriman.

Allah mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.” (QS. Ash-Shaffat: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti ajaran Nabi Ibrahim adalah kepasrahan total kepada Allah. Ketika manusia mampu menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, maka lahirlah pribadi yang tenang, kokoh, dan penuh ketulusan. Dari ketundukan itulah lahir pribadi yang disebut Allah sebagai al-mukhbitin.

Allah Swt berfirman:

وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan khusyuk.” (QS. Al-Hajj: 34)

Al-mukhbitin adalah orang-orang yang lembut hatinya, rendah hati, tekun beribadah, dan sungguh-sungguh mengabdi kepada Allah. Ketika berhadapan dengan manusia, mereka tidak sombong. Ketika berhadapan dengan Allah, mereka tunduk penuh ketakwaan. Hati mereka hidup dengan zikir, lisannya dipenuhi syukur, dan amalnya dipenuhi keikhlasan.

Al-mukhbitin juga merupakan pribadi yang tidak diperbudak oleh dunia. Harta, jabatan, dan kedudukan tidak membuat mereka lalai dari Allah. Dunia berada di tangannya, sedangkan Allah menetap di dalam hatinya. Ketika mendapatkan nikmat, mereka bersyukur. Ketika menghadapi ujian, mereka bersabar. Ketika memiliki kelebihan rezeki, mereka ringan berbagi kepada sesama.

Pada hari Iduladha ini, kita diajak untuk membangun kembali kehidupan yang dipenuhi ketundukan kepada Allah. Sebab manusia yang jauh dari Allah akan mudah dikuasai oleh kesombongan, kerakusan, dan kegelisahan. Sementara hati yang dekat dengan Allah akan melahirkan ketenangan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu Allah menjelaskan ciri-ciri al-mukhbitin dalam Surah Al-Hajj ayat 34-35.

وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan khusyuk (al-mukhbitin). Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan salat, dan orang-orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34–35)

Jamaah Salat Id yang dimuliakan Allah,

Karakter pertama Muslim al-mukhbitin adalah hati yang selalu terhubung kepada Allah.

Allah berfirman:

الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka.” (QS. Al-Hajj: 35)

Hati yang bergetar ketika mengingat Allah merupakan tanda hidupnya iman di dalam diri seseorang. Ketika nama Allah disebut, muncul rasa takut akan dosa, muncul harapan terhadap rahmat-Nya, dan muncul kerinduan untuk semakin dekat kepada-Nya.

Namun keadaan hari ini sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Banyak manusia mudah tersentuh oleh urusan dunia, tetapi sulit tersentuh oleh ayat-ayat Allah. Hati bergetar ketika kehilangan jabatan, kehilangan keuntungan, atau kehilangan pengaruh. Akan tetapi hati tetap keras ketika mendengar peringatan Allah, mendengar ayat Al-Qur’an, atau melihat berbagai kemungkaran yang terjadi di sekelilingnya.

Kehidupan modern membuat manusia terlalu sibuk mengejar dunia. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh materi, popularitas, dan pencapaian lahiriah. Akibatnya, banyak manusia kehilangan kepekaan ruhani. Padahal seorang mukmin yang sejati memiliki hati yang hidup. Ketika nama Allah disebut, hati menjadi lembut dan sadar bahwa seluruh kehidupan akan kembali kepada-Nya. Hati seperti inilah yang melahirkan ketakwaan dan menjaga manusia dari kesombongan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Karakter kedua Muslim al-mukhbitin adalah sabar.

Allah berfirman:

وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ

“Dan orang-orang yang sabar atas musibah yang menimpa mereka.” (QS. Al-Hajj: 35)

Nabi Ibrahim menghadapi ujian yang sangat berat. Beliau ditolak oleh kaumnya, diusir dari kampung halamannya, bahkan dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud dan para pengikutnya. Namun semua itu dihadapi dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah. Ujian tidak membuat beliau jauh dari Allah, justru semakin mendekatkan dirinya kepada-Nya.

Kehidupan hari ini berjalan sangat cepat. Banyak orang ingin segala sesuatu hadir secara instan. Sedikit kesulitan dapat membuat manusia marah, kecewa, bahkan kehilangan arah hidup. Tekanan ekonomi, persaingan sosial, dan derasnya arus informasi sering kali membuat manusia mudah gelisah dan putus asa.

Karena itu, Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan membutuhkan kesabaran. Tidak ada keteguhan iman tanpa kesabaran. Orang yang sabar akan tetap berdiri teguh meskipun diterpa ujian. Kesabaran membuat manusia mampu mengendalikan diri, menjaga lisan, dan tetap istiqamah di jalan Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Karakter berikutnya dari Muslim al-mukhbitin adalah menjaga salat.

Allah berfirman:

وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ

“Dan orang-orang yang mendirikan salat.” (QS. Al-Hajj: 35)

Nabi Ibrahim adalah teladan seorang hamba yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah. Di tengah berbagai ujian kehidupan, beliau tetap mendirikan salat dan berdoa kepada Allah. Bahkan Nabi Ibrahim pernah memohon kepada Allah agar dirinya dan keturunannya tetap menjadi orang-orang yang menjaga salat.

Allah Swt mengabadikan doa Nabi Ibrahim:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat.” (QS. Ibrahim: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa salat merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang mukmin. Salat menjaga hubungan seorang hamba dengan Allah. Salat menjadi sumber kekuatan ruhani yang menjaga manusia tetap teguh dalam menghadapi kehidupan. Karena itu para ulama mengatakan bahwa salat adalah penopang utama kehidupan seorang mukmin.

Namun kehidupan modern sering membuat manusia lalai dari salat. Di zaman digital seperti sekarang, manusia sibuk dengan telepon genggam, media sosial, dan berbagai hiburan. Waktu berjam-jam dihabiskan untuk menatap layar, tetapi terasa berat ketika berdiri memenuhi panggilan azan.

Kesibukan dunia perlahan membuat manusia kehilangan keheningan batin. Banyak orang tampak berhasil secara materi, tetapi jiwanya dipenuhi kecemasan dan kegelisahan. Kehidupan terasa semakin ramai, tetapi hati semakin kosong. Padahal salat merupakan sumber ketenangan hidup. Ketika seorang hamba berdiri menghadap Allah, seluruh beban kehidupan dibawa dalam sujud dan doa.

Allah Swt berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Karakter terakhir Muslim al-mukhbitin adalah gemar berbagi dan berinfak.

Allah berfirman:

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 35)

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan. Para ulama menyebut beliau sebagai “Abu al-Adyaf” atau bapaknya para tamu karena begitu gemar menjamu dan membantu orang lain. Ketika Allah memberinya rezeki, Nabi Ibrahim tidak menjadikan harta sebagai alat kesombongan. Harta digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama manusia.

Semangat inilah yang dihidupkan kembali dalam Iduladha. Kurban mengajarkan bahwa harta yang dimiliki mengandung hak fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Karena itu Iduladha bukan hanya menghadirkan hubungan spiritual kepada Allah, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Kehidupan hari ini memperlihatkan kesenjangan yang semakin nyata. Sebagian orang hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian lainnya kesulitan memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya. Di tengah keadaan seperti ini, Islam mengajarkan agar umatnya memiliki kepekaan sosial dan semangat berbagi.

Kurban menghadirkan semangat persaudaraan dan kasih sayang di tengah kehidupan umat. Melalui infak dan sedekah, kesenjangan sosial dapat diperkecil dan hubungan antarsesama menjadi semakin kuat. Tangan yang ringan memberi akan melahirkan masyarakat yang saling peduli dan saling menguatkan.

Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Jamaah Salat Id yang berbahagia,

Melalui Iduladha ini, marilah kita meneladani Nabi Ibrahim untuk menjadi Muslim al-mukhbitin. Muslim yang lembut hatinya ketika mengingat Allah, sabar menghadapi ujian, menjaga salat, dan peduli terhadap sesama.

Dunia hari ini dipenuhi kebisingan, persaingan, dan kegelisahan. Karena itu umat Islam harus menghadirkan ketenangan iman, kekuatan akhlak, dan kepedulian sosial.

Semoga Allah menjadikan kita semua bagian dari hamba-hamba-Nya yang termasuk golongan al-mukhbitin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا مَرِيْضًا إِلَّا شَفَيْتَهُ، وَلَا مَيِّتًا إِلَّا رَحِمْتَهُ، وَلَا ظَالِمًا إِلَّا هَدَيْتَهُ، وَلَا مَظْلُوْمًا إِلَّا نَصَرْتَهُ، وَلَا طَالِبًا إِلَّا نَجَّحْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tinggalkan Balasan