MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Pengajian Malam Selasa yang digelar pada Senin (27/04) menghadirkan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rohmansyah, yang menyampaikan kajian kitab bertajuk Miftahul Khitabah wal Wa’dzi karya Muhammad Al-‘Adawi.
Rohmansyah menjelaskan bahwa kitab tersebut merupakan rujukan penting bagi para penceramah dalam menyampaikan nasihat dan bimbingan keagamaan. Kandungannya mencakup aspek-aspek mendasar ajaran Islam, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah, sebagaimana selaras dengan paham keagamaan Muhammadiyah.
Selain itu, kitab ini juga dilengkapi dengan pembahasan tentang ahkam atau hukum syariat, yang diperkuat dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi.
“Kitab ini memudahkan para dai dalam menyampaikan tausiah, baik dalam forum resmi maupun nonformal, karena dalil-dalilnya sudah tersusun sistematis,” jelasnya.
Dalam kajian kali ini, Rohmansyah memfokuskan pembahasan pada tiga tema utama: ikhlas, riya, dan ilmu. Pembahasan diawali dengan Kitabul Ikhlas, yang menurutnya menjadi inti dari seluruh amal ibadah.
Ia mengutip definisi ikhlas dari para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Tazkiyatun Nufus, yang menyebutkan bahwa ikhlas adalah memurnikan niat semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah, tanpa tercampur kepentingan lain. Dengan kata lain, ikhlas berarti mengesakan Allah dalam tujuan setiap amal.
Rohmansyah menegaskan bahwa keikhlasan sangat erat kaitannya dengan niat. Hal ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad Saw yang masyhur, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” Ia menjelaskan bahwa setiap amal akan bernilai di sisi Allah sesuai dengan niat pelakunya. Jika niatnya karena Allah, maka ia memperoleh pahala dan rida-Nya. Sebaliknya, jika niatnya untuk kepentingan duniawi, maka hasil yang didapat hanya sebatas dunia.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ukuran utama dalam penilaian Allah bukanlah penampilan fisik atau status sosial, melainkan hati. Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amalnya. Oleh karena itu, kebersihan hati dari penyakit seperti riya menjadi hal yang sangat penting.
Dalam penjelasannya, Rohmansyah mengibaratkan amal tanpa keikhlasan seperti debu di atas batu licin yang tersapu hujan—hilang tanpa bekas. Sebaliknya, amal yang dilandasi ikhlas akan bernilai dan berbekas hingga akhirat.
Setelah mengulas ikhlas, ia beralih pada pembahasan tentang riya, yaitu melakukan amal karena ingin dilihat atau dipuji manusia. Ia menegaskan bahwa riya merupakan lawan dari ikhlas dan termasuk dalam kategori syirik kecil.
Mengutip Al-Qur’an, ia menjelaskan bahwa amal yang disertai riya akan sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah. Bahkan, dalam hadis Nabi disebutkan bahwa riya adalah hal yang paling dikhawatirkan menimpa umat.
“Syirik kecil itu adalah riya, dan jika terus dibiarkan, dapat merusak seluruh amal ibadah,” tegasnya.
Ia juga memaparkan beberapa contoh nyata, seperti orang yang bersedekah agar disebut dermawan, atau menuntut ilmu agar dipandang sebagai alim. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa orang-orang yang beramal dengan motivasi tersebut justru akan mendapatkan balasan yang buruk di akhirat, karena niat mereka bukan untuk Allah.
Rohmansyah turut mengingatkan bahwa riya memiliki keterkaitan dengan sifat munafik, yang ditandai dengan malas beribadah, ingin dipuji manusia, dan sedikit mengingat Allah. Oleh sebab itu, ia mengajak jamaah untuk senantiasa mengoreksi niat dalam setiap amal.
“Setan tidak akan mampu menggoda hamba yang ikhlas. Karena itu, keikhlasan menjadi benteng utama dari berbagai bentuk maksiat,” ujarnya.
Di akhir kajian, ia menegaskan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, dengan cara memperkuat keikhlasan dan menjauhi riya. Ia berharap jamaah dapat menjadi pribadi yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat.
“Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas dan dijauhkan dari syirik, sehingga memperoleh keselamatan dunia dan akhirat,” pungkasnya.






