Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Hilangnya Pelindung Nabi Saw | Serial Sirah Nabawi 36

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Hilangnya Pelindung Nabi Saw | Serial Sirah Nabawi 36

Wafatnya Abu Thalib mengubah peta kekuasaan di Makkah. Selama bertahun-tahun, ia menjadi tameng Nabi Muhammad saw, pelindung yang menjaga keseimbangan antara tekanan politik Quraisy dan keselamatan pribadi sang Nabi. Ketika tameng itu runtuh, Makkah berubah menjadi arena yang jauh lebih ganas.

Dalam sejarah, keruntuhan pelindung politik sering menjadi titik balik nasib seorang pembaharu. Socrates kehilangan perlindungan elite Athena lalu dipaksa meminum racun. Para nabi Bani Israil diburu ketika kekuasaan istana berubah. Nabi Muhammad saw mengalami fase serupa setelah Abu Talib wafat.

ʿAbdullah ibn Masʿud meriwayatkan salah satu peristiwa paling memilukan pada masa itu. Nabi saw sedang salat di dekat Kaʿbah sementara Abu Jahal duduk bersama para pembesar Quraisy. Sehari sebelumnya seekor unta disembelih. Abu Jahl berkata kepada mereka, “Siapa di antara kalian yang mau mengambil isi perut unta itu lalu meletakkannya di atas Muhammad?”

Yang berdiri adalah ʿUqbah ibn Abi Muʿayth, salah satu tokoh paling kasar di Makkah. Ia berjalan menuju bangkai unta, mengambil kotoran dan isi perutnya, lalu membawanya sampai ke pusat kota. Ketika Nabi saw sujud, ia menumpahkan semuanya ke atas kepala beliau. Bebannya begitu berat hingga Nabi tidak mampu bangkit dari sujud.

Orang-orang Quraisy tertawa terbahak-bahak. Sebagian sampai jatuh ke samping karena terlalu keras tertawa. Ibn Masʿud menyaksikan semua itu dari kejauhan. Sebagai seorang yang lemah secara sosial, ia tidak mampu menolong. Melawan para pembesar Quraisy sama saja dengan mencari maut.

Nabi saw tetap dalam sujud sampai seseorang memberi tahu Fatimah. Saat itu usianya masih sangat kecil. Anak perempuan itu datang sambil menangis, membersihkan kotoran dari tubuh ayahnya. Gambaran itu terasa begitu kontras. Para bangsawan Makkah yang mengenakan pakaian mahal sibuk menertawakan penghinaan terhadap seorang nabi, sementara seorang anak kecil berdiri sendirian menjaga kehormatan ayahnya.

Di banyak peradaban kuno, penghinaan publik dipakai untuk menunjukkan dominasi politik. Bangsa Romawi mempermalukan tawanan di jalan-jalan kota. Penguasa Persia memamerkan musuh yang kalah sebagai simbol kekuasaan. Quraisy melakukan pola serupa. Mereka ingin menghancurkan martabat Nabi saw di depan publik. Namun yang muncul justru kebalikannya. Penghinaan itu memperlihatkan kemuliaan akhlak Nabi dan memperlihatkan kebrutalan lawan-lawannya.

Setelah kotoran itu dibersihkan, Nabi saw bangkit lalu mengangkat tangannya kepada Allah. Suasana mendadak berubah. Tawa yang sebelumnya pecah tiba-tiba menghilang. Nabi menyebut nama mereka satu per satu dalam doa. Abu Jahl ibn Hisyam, ʿUtbah ibn Rabiʿah, Syaybah ibn Rabiʿah, Umayyah ibn Khalaf, ʿUqbah ibn Abi Muʿayth, dan beberapa tokoh lain. Ibn Masʿud berkata bahwa ia melihat sendiri hampir seluruh nama yang disebut Nabi tewas dalam Perang Badar.

Sejarah sering bergerak dengan ironi. Orang-orang yang pada satu masa tampak sangat kuat kadang lenyap hanya dalam hitungan tahun. Para aristokrat Quraisy yang dulu menguasai Makkah akhirnya bergelimpangan di padang Badar, sementara lelaki yang pernah mereka hina justru membangun fondasi peradaban baru.

Sesudah Abu Thalib wafat, kepemimpinan Bani Hasyim berpindah kepada Abu Lahab. Selama Abu Thalib hidup, Abu Lahab termasuk penentang keras dakwah Nabi. Namun ketika menjadi kepala kabilah, sikapnya sempat melunak. Dalam tradisi Arab, pemimpin suku memikul tanggung jawab menjaga anggota keluarganya. Nabi Muhammad saw kini berada di bawah tanggung jawabnya.

Abu Lahab berkata kepada Nabi, “Wahai Muhammad, lanjutkan seperti masa Abu THalib.” Maknanya jelas. Ia memberikan perlindungan.

Kabar itu membuat Quraisy gelisah. Mereka bertanya, “Apakah engkau telah menjadi pengikut Muhammad?” Abu Lahab menjawab bahwa ia hanya melindungi keluarganya. Perlindungan kabilah pada masa Arab kuno memang lebih kuat daripada perbedaan keyakinan. Loyalitas darah sering berada di atas loyalitas ideologi.

Namun Quraisy memahami satu kelemahan Abu Lahab, kebanggaan terhadap leluhur. Abu Jahl dan ʿUtbah menyusun siasat. Mereka menyarankan agar Abu Lahab bertanya kepada Nabi tentang nasib ʿAbd al-Muththalib di akhirat.

Abu Lahab pun bertanya. Nabi menjawab singkat, “Ia bersama kaumnya.”

Jawaban itu sangat hati-hati. Nabi tidak berdusta, namun juga tidak mempermalukan pamannya secara langsung. Akan tetapi Abu Jahl segera memelintir maknanya. “Di mana kaumnya kalau bukan di neraka?” katanya.

Abu Lahab marah besar. Dalam waktu singkat ia mencabut perlindungannya. Nabi saw kembali sendirian secara politik. Pada titik itu, perlindungan manusia hampir seluruhnya hilang. Yang tersisa hanya perlindungan Allah.

Di sinilah salah satu paradoks terbesar sejarah Islam tampak jelas. Ketika seluruh struktur duniawi runtuh, justru fase itu menjadi awal lahirnya kekuatan yang lebih besar. Banyak peradaban besar lahir dari masa-masa keterasingan. Kekristenan tumbuh setelah penyaliban Isa menurut keyakinan pengikutnya. Buddhisme berkembang setelah Siddhartha meninggalkan istana. Dakwah Nabi Muhammad saw memasuki fase baru justru ketika perlindungan sosial di Makkah nyaris habis sama sekali.

Referensi:

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan