MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGAYAKRTA—Kehilangan atas wafatnya Hamim Ilyas juga dirasakan keluarga besar ‘Aisyiyah dan para pemerhati isu keislaman progresif. Dalam Takziyah Virtual yang digelar Ahad (24/05), sejumlah tokoh mengenang almarhum sebagai ulama tafsir yang teduh, terbuka terhadap persoalan kemanusiaan, serta memiliki perhatian besar terhadap isu perdamaian dan keadilan gender.
Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Aisyah mengatakan keluarga besar ‘Aisyiyah merasa sangat kehilangan karena selama ini memiliki hubungan yang dekat dan intens dengan Hamim Ilyas, terutama dalam diskusi-diskusi keislaman dan tafsir Al-Qur’an.
“Kami begitu intens dengan beliau, begitu dekat dengan kami. Kami juga sering berkonsultasi dengan beliau, banyak berdiskusi dengan beliau terutama yang berkaitan dengan tafsir,” ujarnya.
Menurut Siti Aisyah, salah satu gagasan penting yang terus diingat dari Hamim Ilyas ialah tafsir mengenai nir-kekerasan. Ia menyebut almarhum mampu menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini sering dipahami bernuansa keras dengan pendekatan kontekstual yang lebih menekankan nilai kasih sayang dan kemanusiaan.
“Selama ini ayat-ayat yang dipandang mengandung ‘kekerasan’, bisa beliau tafsirkan dengan menyesuaikan konteksnya,” katanya.
Selain itu, Hamim Ilyas juga dikenal menaruh perhatian pada prinsip kehidupan keluarga yang harmonis. Dalam berbagai diskusi bersama ‘Aisyiyah, ia disebut kerap menekankan pentingnya monogami sebagai prinsip kehidupan rumah tangga yang menghadirkan ketenteraman dan kemaslahatan.
Bagi Siti Aisyah, pemikiran-pemikiran Hamim Ilyas selama ini menjadi sumber pencerahan bagi banyak kalangan. Ia mengenang almarhum sebagai sosok yang telaten, tekun, dan memiliki kepribadian yang meneduhkan.
“Pak Hamim dengan telaten dan tekun serta pikiran-pikiran yang mencerahkan, beliau memberikan sesuatu yang mencerahkan. Beliau sangat teduh sekali,” ujarnya.
Ia berharap seluruh ilmu dan pengabdian Hamim Ilyas menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Kesaksian serupa disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Alimatul Qibtiyah. Menurutnya, Hamim Ilyas merupakan tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap isu gender dan kemanusiaan dalam perspektif Islam.
Salah satu gagasan utama yang terus disampaikan almarhum, kata Alimatul, ialah konsep hayah thayyibah sebagaimana termuat dalam Surah An-Nahl ayat 97. Konsep tersebut dipahami Hamim Ilyas sebagai kehidupan baik yang menjadi tujuan ajaran Islam.
Alimatul menjelaskan, Hamim Ilyas mengaitkan hayah thayyibah dengan pesan Surah Al-Baqarah ayat 62, yang menurutnya melahirkan tiga indikator kehidupan ideal: sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya, dan bahagia sebahagia-bahagianya.
Gagasan tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam pemikiran Hamim Ilyas mengenai Islam yang menghadirkan kemaslahatan universal dan kehidupan yang bermartabat bagi manusia.
Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Ali Yusuf turut memanjatkan doa bagi almarhum.
“Semoga Allah melapangkan kuburnya, melipatgandakan pahalanya, menghapus segala dosa-dosanya, dan menempatkannya bersama para kekasih Allah,” ujarnya.
Berbagai kesaksian dalam takziyah virtual tersebut semakin memperlihatkan bahwa Hamim Ilyas tidak hanya dikenang sebagai ahli tafsir dan intelektual Muhammadiyah, tetapi juga sebagai sosok yang menghadirkan wajah Islam yang teduh, damai, dan berpihak pada kemanusiaan.






