MUHAMMADIYAH.OR.ID, SERANG – Acara Halal Bihalal yang dipopulerkan oleh Muhammadiyah merupakan wadah untuk membangun kohesi sosial– antar manusia untuk saling memaafkan.
Setelah Puasa Ramadan sebulan penuh, Allah Swt membuka pintu pengampunan seluas-luasnya untuk para hambanya, sehingga dosa-dosa seorang hamba diampuni oleh Allah Swt.
Kesalahan transenden lebih mudah dibersihkan, sebab Allah Swt Maha Pengampun. Akan tetapi menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, kesalahan yang sulit dibersihkan adalah kepada sesama manusia.
Oleh karena itu, acara Halal Bihalal yang jamak diselenggarakan setelah Ramadan atau pada Bulan Syawal menjadi wadah sesama manusia untuk kembali menyambung silaturahmi, dan yang paling penting adalah saling bermaafan.
“Barang siapa melaksanakan puasa dengan iman dan iktisab. Iktisab itu penuh perhitungan,….. maka dosanya yang masa lalu seakan-akan diampuni oleh Allah. Masalahnya adalah Allah itu tidak akan menghapus dosa hambanya yang kesalahannya itu dibuka dengan dengan sesama manusia,” ungkap Muhajdir.
“Jadi kesalahan itu akan dihapus dosanya oleh Allah kalau yang bersangkutan saling memaafkan. Maka itulah pentingnya halal bihalal dijadikan momentum untuk mendamaikan, saling memaafkan sesama kita,” imbuhnya.
Oleh karena itu, kepada peserta Silaturahmi Syawal 1447 H dan Halal Bihalal PWM Banten pada Ahad (19/4), Muhadjir mengajak untuk memperbanyak minta maaf dan pengampunan dosa kepada Allah Swt, juga kepada sesama manusia.
Selain untuk memperkuat kohesi sosial, acara Halal Bihalal yang masif diselenggarakan sekaligus sebagai usaha menjaga tradisi dan budaya keagamaan khas Indonesia. Sebab menurut Muhadjir, tradisi ini tidak ditemukan di Arab.
Tak hanya dimanfaatkan oleh komunitas sosial masyarakat, acara Halal Bihalal juga sudah terinstitusionalisasi dan digunakan oleh lembaga negara untuk membangun kebersamaan dan merekat persatuan.






