MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Intelektualitas akademisi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) diharapkan tidak berjarak antara teori yang dikuasai dengan realitas yang sedang dihadapi.
Harapan itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (16/4) dalam agenda Orasi Ilmiah Guru Besar Prof. Ridho Al Hamdi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menjelaskan, jika akademisi berjarak dengan realitas menyebabkan penglihatannya terhadap sebuah persoalan menjadi banal. Sehingga temuan-temuan kerap kali tidak menyentuh pada kebenaran obyektif.
Dia mencontohkan, dalam melihat politik yang memiliki banyak cabang ilmu dibutuhkan pendekatan yang holistik-integratif, sehingga temuan yang didapatkan bisa paling tidak mendekati kebenaran.
“Maka kalau tidak berjalan secara integratif satu sama lain, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik biarpun tetap penting dalam satu cabang ilmu itu,” katanya.
“Ini penting di saat kita punya kompleksitas masalah entah politik, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya, agama. Maka di situlah pendekatan atau perspektivisme itu penting,” ungkapnya.
Mendudukan antara politisi dan akademisi, Haedar menjelaskan, meski masih banyak politikus yang memiliki das sollen (idealitas), namun sering kali mereka belum atau tidak tahun arahnya.
“Di situlah tugas-tugas guru besar mengarahkan itu, yang arahnya tentu dalam banyak perspektif tadi,” imbuhnya.
Pada kesempatan ini, dirinya juga berpesan supaya tidak anti terhadap teori-teori maupun pendekatan dari Barat, namun seorang akademisi harus memiliki kejelian memilah dan memilih pendekatan yang sesuai dengan konteks atau objek.
Apresiasi juga diberikan Haedar terhadap epistemologi yang disebut dekolonialisasi – yang mengambil jarak dari Barat yang masih sarat akan kolonialisme, yang melihat Timur sama semua sebagai objek dan melihatnya sebagai inferior.
“(Itu) jadi epistemologi yang mengambil jarak dari Barat yang berbau kolonialisme kan sebenarnya, termasuk dalam teori-teori lingkungan, dan lain sebagainya yang kondisi Barat memang berbeda dengan kita, pertumbuhannya terutama,” katanya.
Tugas Guru Besar Kampus Muhammadiyah
Intelektualisme guru besar di lingkungan PTMA diharapkan bisa sampai pada kategori ar rasikhuna fil ilmi. Sebab bangsa ini butuh pembacaan peta dan arah dunia global, sehingga arah bangsa ini berada pada track yang sesuai dengan tujuan.
Peran ini harus diambil oleh guru besar dari kampus Muhammadiyah. Mereka perlu menjadi penyeimbang dari kebijakan yang diambil oleh para pemangku kebijakan, yang mengambil keputusan berbasis pada praktis dan pragmatis.
“Karena mereka memang tahunya yang praktis dan pragmatis harus bisa dilakukan. Itu aja tugas para pimpinan negara di banyak negara itu,” kata Haedar Nashir.
Kehidupan yang dikepung Akal Imitasi (AI), menyebabkan sosok pemimpin kehidupan kehilangan wise humans – mereka kehilangan insan bijaksana, yang tahu jalan benar dan nilai kebenaran.
Ketika pemimpin-pemimpin dunia merasa semakin digdaya, justru bangsa dan negara semakin susah untuk didekatkan. Antar negara semakin susah berinteraksi, semakin susah mencari kompromi dalam ketegangan apapun.
“Bahkan mereka dengan ringan untuk mendeklarasikan dan mempraktikkan bahwa perang itu sesuatu yang menjadi pilihan. Dan dia sebut tidai mustahil akan terjadi perang dunia ketiga seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran atau nanti dalam peristiwa apapun itu,” ungkap Haedar.
Maka guru besar di lingkungan Muhammadiyah berkonsolidasi untuk memberi manfaat yang besar. Kemanfaatan itu bukan hanya pada nilai guna, tapi juga nilai benar, baik, dan nilai-nilai luhur lainnya, sebagaimana misi Muhammadiyah untuk membawa Islam berkemajuan untuk rahmatan lil alamin.






