Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Islam sebagai Peradaban Alternatif, Tidak Boleh Serba Anti dan Ekstrim

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Islam sebagai Peradaban Alternatif, Tidak Boleh Serba Anti dan Ekstrim

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Matinya ideologi sosialisme, dan menguatnya kapitalisme, Islam hadir di tengah-tengah yang tidak membunuh hasrat berkembang/maju, juga tidak lepas dari irisan-irisan sosialisme.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dia menambahkan, bahwa dalam Islam terdapat unsur kapitalisme dan sosialisme – Islam tidak menegasikan keduanya secara serta merta.

Oleh karena itu, menurut Haedar, Islam harus menjadi peradaban alternatif. Sejak masa awal, Islam selalu berposisi sebagai alternatif di tengah kebuntuan pembangunan peradaban yang terlalu kapitalis dan fatalis, termasuk dalam perkembangannya sosialis.

Terkait dengan tema “Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta”, Haedar meminta untuk meletakkan isu ini secara holistik jangan parsial. Sehingga bisa adil dalam memberikan pandangan.

“Islam selalu melarang merusak. Namun di sisi lain Islam mendorong supaya membangun peradaban,” kata Haedar pada Ahad (1/ 3) dalam penutupan Pengajian Ramadan 1447 H PWM DI. Yogyakarta di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

“Letakkan pandangan itu pada konteks yang keseluruhan. Jangan sampai diletakkan pada titik ekstrim, termasuk ekstrim ekologis,” imbuhnya.

Isu lingkungan di Indonesia, katanya, pangkal masalahnya adalah pada penyalahgunaan atas kekuasaan dan penyelewengan aturan yang sudah dibuat. Kenyataan itu tidak lantas menghentikan usaha memajukan. Sebab, sebagai khalifah fil ardh, manusia memiliki kewajiban untuk membangun bumi.

“Saya mengajak kita semua untuk berpikir komprehensif dan teologis,” ungkapnya.

Namun disadari, membangun tentu memiliki dampak pada perubahan lanskap lingkungan – yang awalnya lahan pertanian jadi gedung pendidikan untuk kepentingan jangka panjang manusia. Jangan sampai lahan-lahan itu habis untuk urusan jangka pendek manusia.

Mengutip Mahmoud Syaltout (1968), Haedar menjelaskan bahwa peran khalifah harus seimbang untuk menyejahterakan jasmani dan rohani. Memahami itu, aspek fisik tentu membutuhkan unsur-unsur yang terkandung di bumi.

Maka membangun peradaban, tidak bisa dilakukan secara parsial. Misalnya hanya fokus pada spiritual, namun ilmu pengetahuan dan ekonomi tertinggal. Peradaban maju perlu keseimbangan dengan muamalah duniawiyah.

“Peradaban tidak mungkin dibangun jika alam pikiran kita serba anti. Jadi ekologi harus diletakkan dalam seluruh dimensi kehidupan kita dalam membangun peradaban,” ungkapnya.

Muhammadiyah tidak boleh lepas dari realitas kehidupan manusia. Membangun dibolehkan, dengan catatan ‘luka’ yang ditanggung alam jangan sampai kronis, ekstrim, dan meluas. Membangun harus seimbang, dan jangan merusak.

Tinggalkan Balasan