Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Tegaskan Tajdid sebagai Ruh Pembaruan, Bukan Reaksi Semata

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Haedar Tegaskan Tajdid sebagai Ruh Pembaruan, Bukan Reaksi Semata

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir berikan amanat penutupan Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI. Yogyakarta Ahad (1/3) di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Haedar juga mengapresiasi wisudawan Sekolah Ideologi Muhammadiyah. Dia menekankan, kader supaya memperkuat tajdid pada aspek pembaruan. Jangan sampai tajdid lebih condong pada puritanisasi semata.

Merunut sejarah Kiai Ahmad Dahlan, Haedar mengatakan, tajdid yang dilakukan Kiai Dahlan waktu itu lebih pada pembaruan. Bahkan semangat anti Takhayul, Bid’ah, Churafat (TBC) belum ada. Dalam kaitan itu, Kiai Dahlan memang pernah menyinggung praktik ziarah kubur yang ghuluw.

Haedar kembali menegaskan, Muhammadiyah yang diimajinasikan Kiai Dahlan adalah sebagai gerakan modernis dan pembaruan Islam. Imajinasi ini yang ditangkap oleh peneliti asing dan lokal, sehingga Muhammadiyah disebut mereka sebagai gerakan Islam reformis.

Semangat anti TBC, menurutnya, muncul setelah era Kiai Ahmad Dahlan. Pandangan atau semangat anti TBC ini kemudian disimplifikasi oleh warga Muhammadiyah. Kemudian yang ‘template’ ingatan Muhammadiyah adalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Padahal oleh Majelis Tarjih itu sudah dijelaskan, bahwa tajdid itu purifikasi dan dinamisasi. Harusnya ini sudah jelas,” katanya.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, imbuhnya, juga mengalami reduksi. Sehingga warga Muhammadiyah kerap reaksioner dalam menghadapi situasi. Maka sejak tahun 2000, PP Muhammadiyah melahirkan berbagai produk pemikiran untuk menarik kembali Muhammadiyah pada kerangka berpikir utamanya.

Diakhir Haedar berpesan kepada PWM DI. Yogyakarta untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan menurutnya menjadi potensi bagi PWM DI. Yogyakarta dibandingkan wilayah lain, sebab wilayah administrasi tak sebesar Provinsi lain.

“DIY ini kan potensial, terlebih sejarah Muhammadiyah ini lahir di Yogyakarta. Tapi jangan lengah dan jangan merasa di zona nyaman,” pesan Haedar.

Merespon itu, Ketua PWM DI. Yogyakarta, Ikhwan Ahada menjelaskan, institusi pendidikan Muhammadiyah di wilayah Yogyakarta masih terbaik dibandingkan yang lain. Terbukti dengan diraihnya juara umum di ajang Olimpiade Ahmad Dahlan beberapa waktu lalu di Makassar.

Tak hanya itu. PWM DI. Yogyakarta juga terus melakukan pemantapan ideologi, kaderisasi, dan pemikiran. Di mana ketiganya lekat dan menjadi identitas PWM DI. Yogyakarta di yang lain. Khususnya ideologi dan kaderisasi, PWM DI. Yogyakarta menggagas Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM).

“Bermuhammadiyah itu tidak boleh mandek pada tataran amar ma’ruf nahi munkar…… Tapi untuk berijtihad dan tajdid,” harapan Ikhwan untuk lulusan SIM.

Selain itu dia juga berharap lulusan SIM menjadi pagar depan gerakan dakwah tajdid Muhammadiyah. Pada kesempatan ini pihaknya menyampaikan terima kasih kepada UAD yang bersedia menjadi tuan rumah Pengajian Ramadan 1447 H yang diselenggarakan PWM DI. Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan