Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Saad Ibrahim Tegaskan Tauhid sebagai Energi Spiritual Kemajuan Umat

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Saad Ibrahim Tegaskan Tauhid sebagai Energi Spiritual Kemajuan Umat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, TANGERANG – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan bahwa tauhid merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang maju dan berkemajuan. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Pengkajian Ramadan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Dalam pemaparannya, Saad menjelaskan bahwa konsep tauhid dalam Islam mengajarkan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Namun, ketergantungan tersebut bukan berarti pasif, melainkan harus diwujudkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh.

“Dengan berlandaskan tauhid, kemajuan peradaban akan diperoleh. Tauhid tidak hanya dimaknai sebagai pengakuan keesaan Allah, tetapi juga sebagai energi spiritual yang mendorong kemajuan umat,” ujarnya dalam agenda Rabu, (24/2).

Saad mencontohkan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai gambaran kemajuan yang melampaui batas nalar manusia. Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina. Dari masjid Al-Aqsa hingga naik ke Sidratul Muntaha. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa Islam sejak awal telah memperkenalkan nilai-nilai kemajuan.

“Dalam waktu kurang dari satu malam (8 jam), perjalanan yang secara logika manusia sangat jauh itu bisa terjadi. Ini memberi pesan bahwa Islam memiliki pandangan yang berkemajuan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Saad menekankan bahwa Al-Qur’an sendiri mengandung nilai-nilai progresif yang mendorong umat untuk terus berkembang. Ia merujuk pada Surat Al-Ikhlas, khususnya pada makna As-Samad, yang berarti Allah sebagai tempat bergantung segala sesuatu.

“Tauhid dalam Muhammadiyah tidak hanya ‘Qul huwallahu ahad’, tetapi juga ‘As-Samad’. Artinya, Allah adalah tempat bergantung yang sempurna. Dari sinilah semangat ikhtiar dan tawakal perlu dijalankan secara bersamaan,” terangnya.

Menurutnya, perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam harus selalu berpijak pada keseimbangan antara usaha maksimal dan sikap berserah diri kepada Allah. Ikhtiar tanpa tawakal akan melahirkan kesombongan, sementara tawakal tanpa ikhtiar akan menimbulkan kemalasan.

Pengkajian Ramadan 1447 H di UMT tersebut menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus intelektual bagi warga Muhammadiyah untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dengan semangat pembaruan dan kemajuan di berbagai bidang kehidupan. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan