Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kerisalahan Nabi Muhammad untuk Mengatur Urusan Dunia dan Agama

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Kerisalahan Nabi Muhammad untuk Mengatur Urusan Dunia dan Agama

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Diutusnya Nabi Muhammad Saw ke dunia menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tugas itu menjadikan risalah kenabian yang dibawahnya untuk mengatur kehidupan dunia dan agama.

Konsekuensi turunnya Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad menurut Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hamim Ilyas adalah untuk mewujudkan hidup yang baik dengan ukuran kesejahteraan yang sempurna.

“Sehingga Islam itu diwahyukan dan didakwahkan untuk mewujudkan hidup baik dengan ukuran sejahtera, sesejahtera-sejahteranya. Damai, sedamai-damainya, dan bahagia, sebahagia-bahagianya,” kata Hamim Ilyas pada Jum’at (27/2) di Islamic Center UAD.

Berangkat dari konsekuensi itu, menurutnya Islam yang otentik adalah ajaran yang bisa menjadi landasan teologis untuk mewujudkan hidup yang baik. Sebab Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin.

Memberikan kerahmatan bagi seluruh alam ini ditekankan bagi setiap entitas yang meneruskan kerisalahan Islam. Mengutip Ar Razi, Hamim Ilyas mengatakan sebab tugas yang diemban tersebut, menjadikan Nabi Muhammad sebagai Syariatin Minal Amri.

Istilah syariatin minal amri ini disebutkan dalam Al Jasiyah ayat 18.

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْن

“Al Amri itu adalah amri dini wa dunya. Urusan penting agama dan dunia. Sehingga Nabi Muhammad itu dijadikan berada di syariat, syariat urusan agama dan urusan dunia,” ungkapnya.

Menurut Al Asfahani, syariat adalah at tariq an nahju – jalan yang menjadi lintasan, bukan jalan buntung.  Sebagai jalan yang menjadi lintasan, dakwah Nabi Muhammad ini bertumpu tradisi iqra atau literasi.

“Jalan kenabian yang para nabi itu dalam Al Qur’an dikisahkan tidak hanya mendakwahkan agama, tapi para nabi itu juga membangun peradaban,” katanya.

Tradisi peradaban iqra yang dibawah oleh Nabi Muhammad, kata Hamim, merupakan kelanjutan dakwah yang dibawah oleh Nabi Idris yang dakwahnya membangun peradaban melalui tradisi tulis.

Pada masa kenabian Muhammad SAW, imbuhnya, pendidikan mulai dilembagakan. Pelembagaan ini bisa disebut sebagai halaqah – pada saat itu Nabi Muhammad menyampaikan ajarannya ke para sahabat dengan duduk di masjid.

Tinggalkan Balasan