Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Hamim Ilyas Tegaskan Tauhid sebagai Ruh Peradaban Berkemajuan

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Hamim Ilyas Tegaskan Tauhid sebagai Ruh Peradaban Berkemajuan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa melalui tauhid, Islam hadir untuk membahagiakan sekaligus menghadirkan kebenaran sejati dalam kehidupan manusia.

Hal tersebut disampaikan pada sesi keempat Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di UMY Student Dormitory, Sabtu (21/2).

Hamim menjelaskan, dalam ajaran resminya Muhammadiyah menganut akidah Islam berkemajuan yang telah hidup dan menggerakkan organisasi beserta warganya. Dalam konstruksi akidah tersebut, kehadiran Allah yang bersifat fungsional dirumuskan ke dalam dua konsep tauhid, yaitu tauhid rahamutiyah dan tauhid murni.

Merujuk pada QS Al-An’am ayat 12, ia menerangkan bahwa tauhid rahamutiyah merupakan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Esa mewajibkan atas diri-Nya sifat rahmah. Sifat kasih sayang itu menjadi inti dari seluruh af‘al, sifat, dan asma-Nya.

“Sementara tauhid murni sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-An’am ayat 82 adalah keimanan yang tidak tercampur dengan kezaliman,” jelasnya.

Menurut Hamim, tauhid yang kokoh akan melahirkan kehidupan masyarakat yang aman dan damai, menuntun pada shirath al-mustaqim, serta memudahkan terwujudnya berbagai kebaikan (ni‘mah) dalam seluruh bidang kehidupan.

Ia menambahkan, landasan akidah tersebut berbasis pada iman. Kepercayaan yang kokoh akan melahirkan amal saleh, membebaskan manusia dari kerugian (khusr), serta menghadirkan hayah thayyibah—kehidupan yang baik, sejahtera, damai, dan membahagiakan.

Lebih lanjut, Hamim merujuk pada Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang memuat sejumlah variabel fundamental sebagai basis gerakan persyarikatan.

Pertama, ilahiyat (ketuhanan), yakni keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Benar (al-Haqq). Kedua, insaniyat (kemanusiaan), bahwa manusia adalah khalifah Allah, makhluk otonom sekaligus pembangun peradaban. Ketiga, diniyat (keagamaan), yaitu ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah sahih berupa perintah dan larangan. Keempat, ittiba’ Nabi, mengikuti jejak Rasul dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kelima, amar makruf nahi munkar sebagai manifestasi perjuangan Muhammadiyah. Keenam, wathaniyat (kenegaraan), yakni menerima negara sebagai dar al-‘ahdi wa al-syahadah.

Melalui pemaparan tersebut, Hamim menegaskan bahwa akidah Islam berkemajuan bukan sekadar rumusan teologis, melainkan fondasi gerakan Muhammadiyah dalam membangun masyarakat berkeadaban dan berkemajuan. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan