MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Amal usaha merupakan salah satu bentuk aktualisasi amal saleh, sementara amal saleh sendiri merupakan perwujudan dari tauhid. Karena itu, perbuatan baik yang tidak dilandasi iman tidak memiliki makna transendensi dan tidak bernilai di hadapan Allah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dalam Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah pada Ahad (22/2).
Menurut Mu’ti, amal saleh tidak terbatas pada ibadah mahdhah semata. Segala bentuk kebaikan yang membawa kemaslahatan bagi manusia merupakan bagian dari amal saleh.
“Amal saleh itu adalah amal-amal kebaikan yang bentuknya tidak selalu berupa ibadah-ibadah mahdhah. Semua hal yang mendatangkan kebaikan bagi manusia itulah amal yang saleh. Bentuknya bisa berbagai macam dan karena itu ekspresi dari amal saleh juga sangat beragam,” ujarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menegah (Mendikdasmen) RI ini juga menjelaskan, poin kedua adalah bahwa amal usaha merupakan konkretisasi amal saleh. Wahyu, lanjutnya, harus ditransformasikan menjadi gerakan sosial sebagai bentuk aktualisasi iman dan nilai-nilai kebaikan.
Dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa, misalnya, Muhammadiyah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi. Begitu pula dalam mewujudkan masyarakat sehat, didirikan rumah sakit sebagai bentuk pelayanan nyata kepada umat.
“Inilah yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui amal usahanya,” kata Mu’ti.
Poin ketiga, amal usaha merupakan bentuk objektifikasi. Artinya, amal tersebut diakui secara nyata oleh masyarakat sehingga menumbuhkan kepercayaan publik.
“Objektifikasi itu adalah keniscayaan keadaan di mana ketika mereka bergabung dengan kita, mereka merasa aman karena dihormati eksistensinya dan dilindungi keberadaannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, hal itulah yang terjadi pada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Karena diakui memiliki keunggulan, masyarakat tidak ragu memanfaatkan layanan yang diberikan, baik di bidang pendidikan maupun kesehatan.
“Yang belajar di Muhammadiyah tidak hanya orang Islam dan tidak hanya warga Muhammadiyah. Begitu juga yang berobat di rumah sakit Muhammadiyah, tidak hanya umat Islam dan tidak hanya warga Muhammadiyah,” terangnya.
Pada titik inilah tauhid menjadi landasan ideologis dalam pengembangan amal usaha. Menurut Mu’ti, kekuatan dan modal sosial-moral Muhammadiyah terletak pada transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan.
“Di situlah ciri dan kekuatan Muhammadiyah,” pungkasnya. (janu)






