Jumat, 6 November 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Tiga Karakter Pemimpin Sejati Menurut Haedar Nashir

Oleh admin • • 2 Menit Min
Tiga Karakter Pemimpin Sejati Menurut Haedar Nashir

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menjelaskan tiga karakter sejati yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Hal tersebut disampaikan Haedar dalam Pembukaan Sekolah Kepemimpinan Nasional (SKN) 2025 dengan tema “Mewujudkan Para Pemimpin dan Politisi Bangsa yang Beradab untuk Indonesia Berkemajuan” pada Selasa (11/11).

Dalam lapisan pertama ada anggota, lalu dalam lapisan kedua, ada kolompok inti yang disebut dengan kader, dan di lapisan ketiga adalah seorang pemimpin.

Maka dalam hal ini, Haedar mengibaratkan pemimpin sebagai elemen penting ibarat organ otak yang ada dalam tubuh manusia.

“Lead itu seperti otak. Maka kalau tubuh manusia ini tanpa otak, ya seperti makhluk-makhluk yang lainnya. Maka pemimpin ini penting dan otak itu harus cerdas dan di asah, salah satunya melalui sekolah ini,” jelasnya dalam agenda pembukaan SKN 2025, Kamis, (11/11) di Auditorium P4TK Seni Budaya Yogyakarta.

Kedua, Haedar memaparkan bahwa pemimpin harus mampu menjadi “the director” atau dengan kata lain harus mampu mengatur sebuah tim, lembaga dan organisasi. Hal ini dinilainya penting, karena dalam organisasi harus tercipta sebuah keteraturan.

“Pemimpin harus bisa mengatur. Dalam sebuah kepemimpinan, maka organisasi harus ada dalam keteraturan,” ucap Haedar.

Karakter penting lainnya yang disebutkan oleh Haedar adalah pemimpin harus mampu menjadi pembimbing. Haedar menilai ini penting karena pemimpin harus mampu menunjukkan jalan kedepan untuk sebuah organisasi atau lembaga yang dipimpinnya.

“Kalau anda sudah punya kemampuan untuk membimbing orang, maka anda sudah punya potensi untuk memimpin. Lebih jauh juga, pemimpin harus punya fungsi untuk menunjukan jalan (show the way),” tutur Haedar.

Terakhir, Haedar memberikan pesan bahwa program pendidikan yang akan diselenggarakan selama 40 hari ini dinilai akan cukup membentuk para pemimpin-pemimpin yang berkualitas.

Maka, dalam proses menjadi pemimpin, harus di awali dengan niat untuk berubah dan naik kelas. Selain itu, seorang pemimpin juga harus siap menghadapi sebuah ekosistem yang kompleks.

“Ini adalah proses yang cukup. Maka diperlukan niat untuk berubah dan naik kelas,” pesan Haedar.

“Proses menjadi pemimpin ekosistemnya itu kompleks. Dalam konteks keislaman, pada dasarnya setiap orang potensial menjadi pemimpin dan ini adalah peluang kita agar mempunyai karakter sekaligus tanggung jawab dalam kepemimpinan,” pungkasnya. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan