Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Nikmat Usia Sebagai Amanah dari Allah

Oleh admin • • 4 Menit Min
Nikmat Usia Sebagai Amanah dari Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Arif Rif’an, mengajak umat Islam untuk merenungi makna usia sebagai nikmat sekaligus amanah dari Allah Swt.

Hal itu ia sampaikan dalam kajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad (09/11). Mengawali ceramahnya, Ahmad Arif mengutip firman Allah dalam Surah Al-Mu’min (Ghafir) ayat 67, yang menjelaskan proses penciptaan manusia:

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian Dia mengeluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa dewasa, kemudian (dibiarkan lagi) sampai kamu menjadi tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu, dan (semua itu) supaya kamu sampai kepada waktu yang ditentukan, dan supaya kamu berakal.” (QS. Al-Mu’min: 67)

Dari ayat ini, kata Ahmad Arif, tampak jelas bahwa perjalanan hidup manusia telah diatur dengan sangat rinci oleh Allah: dari tanah, air mani, segumpal darah, bayi, dewasa, hingga tua dan wafat. “Setiap fase itu adalah peringatan agar kita mengambil pelajaran. Bahwa umur adalah jatah waktu hidup yang akan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”

“Dari hadis ini para ulama menyimpulkan bahwa umur adalah amanah,” jelas Ahmad Arif. “Ia akan ditanya detik demi detik, menit, jam, hari, bulan, hingga tahun. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.”

Usia 40: Titik Syukur dan Perbaikan Diri

Merujuk pada tafsir Imam Al-Qurthubi terhadap ayat “thumma litakunu syuyukha”, Ahmad Arif menyampaikan bahwa masa tua dimulai sejak usia 40 tahun, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15:

“Hingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berkata: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai, dan perbaikilah anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

“Di usia 40 tahun inilah seorang mukmin diajarkan untuk banyak bersyukur, memperbanyak amal saleh yang diridai Allah, dan mulai memperbaiki generasi penerus,” ujarnya.

Ahmad Arif juga menekankan pentingnya menghormati jasa ibu sebagaimana disebutkan dalam ayat yang sama: ‘Ibunya telah mengandungnya dalam susah payah, melahirkannya dalam susah payah, dan masa mengandung serta menyapihnya selama tiga puluh bulan’.

“Ini pelajaran besar bagi para suami,” kata Ahmad Arif sambil tersenyum. “Setiap anak berarti setidaknya 2,5 tahun kesabaran ibu. Kalau anaknya sepuluh, berarti suaminya berhutang sabar 25 tahun kepada istrinya.”

Dalam bagian lain ceramahnya, Ahmad Arif mengingatkan jamaah untuk mengisi umur dengan amal sederhana namun bernilai tinggi di sisi Allah. Ia mencontohkan zikir subhanallah walhamdulillah yang disebut Nabi memenuhi ruang antara langit dan bumi.

“Kalimat yang pendek tapi pahalanya sangat besar. Begitu pula salat dua rakaat sebelum Subuh, nilainya lebih baik dari dunia dan seisinya. Kalau kita menyadari ini, umur kita tak akan kosong dari amal,” jelasnya.

Ia melanjutkan, di usia 40 tahun ke atas seseorang hendaknya mulai meneguhkan tobat dan istiqamah. “Perbanyak istigfar, terutama sayyidul istigfar, karena itu menjadi penjamin surga bagi siapa pun yang mengucapkannya dengan ikhlas di pagi dan sore hari.”

Terminal 60 dan 70 Tahun

Menurut Ahmad Arif, usia 60 tahun adalah terminal kedua dalam kehidupan manusia. Ia mengutip hadis riwayat Al-Bukhari: “Allah telah memberikan uzur kepada seseorang hingga usianya mencapai 60 tahun.”

“Artinya, setelah 60 tahun tak ada lagi alasan untuk tidak memperbaiki diri. Semua harus baik. Para ulama mengatakan, jika seseorang sudah tua tapi belum baik, maka itu berat urusannya,” tegasnya.

Sementara itu, usia 70 tahun disebutnya sebagai “bonus”. Rasulullah Saw. bersabda, “Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali yang melampauinya.”

“Kalau ada yang sampai 70, berarti benar-benar mendapat perkenan Allah untuk menikmati tambahan umur,” ujarnya. “Namun umur panjang itu harus diiringi dengan amal yang baik. Nabi ditanya, siapa manusia terbaik? Beliau menjawab: orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan yang terburuk adalah yang panjang umurnya tapi buruk amalnya.”

Di akhir ceramah, Ahmad Arif mengingatkan pentingnya menghadirkan keluarga, termasuk anak-anak, ke majelis ilmu. Ia menuturkan kisah gurunya, almarhum Prof. Dr. Yunahar Ilyas, yang mengajarkan bahwa anak-anak yang hadir di majelis ilmu akan turut mendapat keberkahannya.

“Sekalipun mereka tidak paham isinya, tapi keberkahannya tetap mengalir. Rasulullah pun menyebut, orang yang sekadar lewat dan duduk sejenak di majelis ilmu akan mendapat bagian dari rahmatnya,” ujar Ahmad Arif.

Menutup tausiyahnya, Ahmad Arif Rif’an mengingatkan bahwa usia adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

“Kalau sudah masuk 40, bersyukurlah. Kalau sampai 60, berbenahlah. Kalau diberi bonus di atas 70, perbanyak amal dan lepaskan segala dendam. Karena hidup yang benar itu adalah hidup yang siap kembali kepada Allah dengan amal terbaik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan