Minggu, 4 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Berkumpul di Dar al-Arqam | Serial Sirah Nabawi 22

Oleh admin • • 4 Menit Min
Berkumpul di Dar al-Arqam | Serial Sirah Nabawi 22

Nabi Muhammad memulai misinya bukan sebagai pemimpin politik, melainkan sebagai seorang pendidik. Rumah beliau bersama Khadijah berfungsi sebagai ruang kelas pertama. Di sana para sahabat awal mempelajari ushulud-dīn (dasar-dasar agama). Fokusnya adalah membentuk cara pandang dunia (worldview) yang baru, yang menjadi fondasi identitas Muslim.

Seiring bertambahnya jumlah pengikut, aktivitas keagamaan ini menarik kecurigaan dan tekanan dari masyarakat Quraisy yang masih menyembah berhala. Kebutuhan akan ruang belajar yang lebih aman dan terlindungi menjadi mendesak. Sebagai respons, Nabi memindahkan pusat pendidikan ini ke rumah Al-Arqam ibn Abi al-Arqam di Mekkah.

Pemilihan rumah Al-Arqam adalah sebuah langkah strategis yang cerdik. Al-Arqam sendiri berasal dari Bani Makhzum. Ini adalah kabilah yang berpengaruh dan secara politik sering bersaing dengan Bani Hasyim, klan Nabi. Posisi ini memberikannya penyamaran yang sempurna; siapa yang akan mencurigai seorang Makhzumi melindungi seorang Hasyimi?

Lokasi rumah Arqam di jantung keramaian Mekkah menambah lapisan keamanan. Hal ini memungkinkan para peserta yang hadir di majelis ini menyatu dengan kerumunan dan masuk keluar tanpa menimbulkan kecurigaan. Aktivitas Nabi Saw dan para sahabat di sana akan terlihat samar serta dianggap sebagai kegiatan normal sehari-hari.

Sekarang bayangkan kamu adalah salah satu warga Mekkah pada masa itu. Kamu melintasi rumah Al-Arqam ibn Abi al-Arqam yang selalu ramai. Kamu melihat pintu rumah yang terbuat dari batu itu terbuka, beberapa orang datang dan pergi dengan tenang. Rumah itu berbaur sempurna dengan lalu lintas manusia yang tak pernah putus.

Mungkin kamu berpikir, “Ah, itu hanya urusan rutin Bani Makhzum, mungkin pertemuan keluarga biasa, atau hanya tempat minum-minum seperti yang lain.” Sama sekali tidak ada yang mencurigakan. Aktivitas itu tampak begitu samar, begitu normal. Tidak ada yang ganjil.

Jika saja kamu menyadarinya, di balik tembok batu itu sedang terjadi sebuah revolusi pemikiran. Di ruang itu, di rumah Arqam yang biasa itu, cara memandang dunia sedang dibentuk ulang. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi merancang denah peradaban baru. Tapi bagimu yang sedang berjalan cepat menuju urusanmu sendiri, semua tampak biasa-biasa saja.

Tanpa kamu sadari, di Dar al-Arqam, pendidikan menemukan bentuk institusionalnya yang pertama. Nabi Muhammad secara aktif mengajarkan cara membaca dan memahami Al-Qur’an, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak dan keteladanan (Sunnah). Tidak hanya mencetak ahli ibadah, di sana juga menyiapkan kader pemimpin yang kelak akan memegang tampuk dakwah dan pemerintahan.

Jika sejarah pendidikan dunia ditarik dalam garis panjang, Dar al-Arqam menempati posisi yang sepadan dengan Akademia Plato pada abad ke-4 SM di Athena. Di sana, murid-murid Plato mendiskusikan filsafat tanpa gangguan dari demagog kota yang hiruk pikuk. Lingkungan yang terlindung dari tekanan publik itulah yang kelak melahirkan tradisi rasionalisme di Barat.

Begitu pula, pada abad ke-13 di Oxford, para sarjana Kristen menyelinap ke rumah-rumah pribadi. Mereka menghindari pengawasan otoritas Gereja yang ketat agar dapat mempelajari teks-teks Aristoteles yang terlarang. Pengetahuan yang mereka sembunyikan itu justru menjadi fondasi universitas modern dan kebangkitan intelektual Eropa.

Hal yang sama juga terjadi di Korea abad ke-18. Para sarjana gerakan Silhak mengembangkan ide-ide reformasi sosial yang radikal, sering kali melalui diskusi di akademi swasta (seowon). Meskipun tidak sepenuhnya bersifat rahasia, pemikiran mereka dianggap menentang faksi konservatif yang berkuasa di Istana Joseon. Warisan intelektual mereka kelak menjadi benih bagi gerakan modernisasi dan reformasi di Korea.

Sama seperti Akademia Plato, para sarjana Kristen di Oxfod, dan gerakan Silhak di Korea, dari ruang sempit Dar al-Arqam inilah berabad-abad kemudian lahir para arsitek yang akan membangun peradaban Islam menuju Era Emas yang membentang dari Spanyol hingga Sind. Mereka membangun pusat-pusat sains di Baghdad dan Kordoba, serta menjaga obor pengetahuan yang menerangi Zaman Kegelapan Eropa.

Kalau kamu seorang kader Muhammadiyah, kamu tentu akrab dengan istilah Darul Arqam Dasar atau DAD. Kegiatan ini ditujukan sebagai ruang pembentukan cara pandang. Seperti Dar al-Arqam di masa Nabi, di sinilah para kader Muhammadiyah diajak memahami akar ideologi gerakan: Islam berkemajuan, tauhid yang mencerahkan, dan amal yang membebaskan manusia dari kebodohan serta ketertinggalan.

Bisa jadi, dari ruang-ruang diskusi inilah ide-ide berkemajuan Muhammadiyah terus terawat dan disemai. Dari pemahaman yang tertanam kuat inilah kemudian lahir energi untuk membangun dan mengelola ribuan Amal Usaha, mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam aksi nyata di tengah kehidupan kemanusiaan semesta.

Dalam konteks ini, Darul Arqam Muhammadiyah dapat dilihat sebagai kelanjutan semangat dari Dar al-Arqam Nabi. Jika Dar al-Arqam historis adalah ruang inisiasi untuk membentuk identitas Muslim pertama yang bebas dari jahiliyah, maka Darul Arqam Muhammadiyah adalah ruang konsolidasi untuk membentuk kader yang tangguh dalam menghadapi tantangan keumatan dan kemanusiaan di zaman modern.

Meski terpisah oleh jarak waktu lebih dari 14 abad, berbagi DNA yang sama: keyakinan bahwa perubahan peradaban yang hakiki harus dimulai dari transformasi cara berpikir dalam ruang-ruang pendidikan yang intensif dan terarah.

Referensi:

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Moneer M. al-Otaibi dan Hakim M. Rashid, “The Role of Schools in Islamic Society: Historical and Contemporary Perspectives”, American Journal of Islam and Society 14, no. 4 (January 1, 1997): 1–18. https://doi.org/10.35632/ajis.v14i4.2230.

Tinggalkan Balasan