MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dalam Pengajian Tarjih yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Sopa, menyampaikan paparan mendalam tentang ajaran tasawuf dalam Islam.
Acara yang digelar pada Rabu (29/10) ini menekankan dimensi esoteris atau spiritualitas batiniah, yang tak terpisahkan dari syariat, tarekat, dan makrifat sebagai tahapan mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah).
Sopa mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa tasawuf merupakan ajaran yang lebih menonjolkan aspek batin dan spiritualitas, berbeda dengan fikih yang fokus pada dimensi eksoteris atau lahiriah.
“Tasawuf bertujuan mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin melalui tahapan berjenjang,” ujarnya. Ia menyimulasikan tahapan ini seperti tangga: syariat sebagai dasar terendah, tarekat sebagai tingkat menengah, dan makrifat sebagai puncak tertinggi.
Syariat: Fondasi Lahiriah yang Tak Boleh Disepelekan
Pada tingkat syariat, penekanan diberikan pada hukum dan aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) melalui ibadah, serta hubungan dengan sesama manusia dan alam (muamalah). Syariat bersumber dari Al-Qur’an dan hadis, didokumentasikan dalam ilmu fikih.
Meski ditempatkan sebagai level basic dalam tradisi tasawuf, Sopa menekankan bahwa mengamalkan syariat adalah wajib.
Ia memperingatkan ekses historis di mana sebagian kalangan menyepelekan syariat, seperti enggan salat atau puasa dengan alasan cukup ingat kepada Allah atau mensucikan batin. “Mereka ini keliru, bukan sufi sejati, melainkan sufi gadungan atau palsu,” tegas Sopa.
Tokoh seperti Imam Al-Ghazali berhasil mengintegrasikan syariat dengan makrifat, menyatakan bahwa kedekatan dengan Allah tak mungkin tanpa menunaikan syariat secara baik.
Tarekat: Dari Individual ke Gerakan Massal
Tarekat muncul sebagai perkembangan tasawuf yang awalnya bersifat individual. Sopa menjelaskan, tasawuf lahir sebagai reaksi terhadap masyarakat era khilafah Islamiah yang terlalu sibuk urusan duniawi, mengabaikan dimensi ukhrawi dan batiniah. Awalnya praktik perorangan, tasawuf kemudian menjadi gerakan massal, dikenal sebagai tarekat.
Secara etimologi, tarekat berarti “jalan” atau metode mendekatkan diri kepada Allah. Namun, maknanya menyempit menjadi jalan khusus yang dirumuskan oleh guru tasawuf (mursyid atau syekh), wajib diikuti murid (salik) dengan ketaatan mutlak tanpa reserve.
Tarekat kaya muatan mistik, meliputi praktik zikir, meditasi, tazkiyatun nafs, dan suluk lainnya, yang harus dibimbing mursyid agar tidak tersesat.
Dalam sejarah, tarekat diklasifikasikan menjadi dua: muktabarah (sanadnya tersambung hingga Rasulullah, bersifat internasional) dan ghair muktabarah (sanad putus, biasanya lokal).
Setiap tarekat memiliki metode masuk tersendiri, sering dilakukan di zawiyah atau padepokan terpencil, jauh dari keramaian, untuk mendukung ibadah wajib-sunah, zikir, wirid, bahkan diiringi musik atau tarian.
Makrifat: Puncak Hakikat melalui Olah Kalbu
Makrifat adalah pengetahuan hakiki yang diperoleh melalui kalbu atau olah rasa (zauk), bukan empirisme maupun rasionalisme. “Makrifat mengantarkan pada makrifatullah, mengenal Allah dengan mata batin (basirah), bukan fisik,” jelas Sopa.
Sufi mencapai ini melalui mujahadah sungguh-sungguh, melewati maqamat sesuai aliran tarekat. Pada tahap ini, tabir terbuka (mukasyafah), membuka rahasia alam semesta. Makrifat merupakan puncak perjalanan spiritual panjang yang memerlukan bimbingan mursyid di tempat kondusif.
Sopa menyimpulkan bahwa syariat, tarekat, dan makrifat saling melengkapi dalam tasawuf untuk mencapai kedekatan sejati dengan Allah SWT. Paparan ini diharapkan memperkaya pemahaman umat Muhammadiyah tentang spiritualitas Islam yang seimbang antara lahiriah dan batiniah.
