MUHAMMADIYAH.OR.ID, PALU – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, dalam pengajian umum di hadapan warga Muhammadiyah Sulawesi Tengah, menegaskan kembali akar spiritual gerakan Muhammadiyah yang bersumber dari semangat dakwah Nabi Muhammad Saw.
Pandangan di atas disampaikan pada Selasa (14/10) di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Menurutnya, cita-cita berkemajuan yang menjadi ciri Muhammadiyah sejatinya merupakan kelanjutan dari misi Islam yang membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju peradaban yang unggul.
Ia menguraikan bagaimana Islam pada masa awal diwahyukan kepada masyarakat Arab Jahiliyah yang hidup dalam keterpurukan moral dan intelektual. Namun dalam waktu singkat, melalui bimbingan Rasulullah dan ajaran Al-Qur’an, masyarakat itu berubah menjadi umat yang cinta ilmu, disiplin, dan berperadaban tinggi. Dalam beberapa dekade setelah wafatnya Nabi, umat Islam bahkan mampu menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia selama berabad-abad.
Kebangkitan serupa, kata Agung, menjadi inspirasi berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912. Saat itu dunia Islam tengah berada dalam masa penjajahan dan kemunduran. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan semangat mengembalikan jati diri umat Islam sebagai umat terbaik, sebagaimana pesan dalam QS. Ali Imran ayat 110, yakni umat yang menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.
Gerakan ini menjadikan prinsip ruju’ ilal Qur’an was Sunnah sebagai pijakan utama. Muhammadiyah tidak sekadar meneruskan warisan intelektual Islam klasik, tetapi berupaya menyalakan kembali ruh pencerahan Al-Qur’an dan Sunnah yang membentuk masyarakat berkemajuan.
Dalam pandangannya, semangat keislaman harus terwujud dalam kerja nyata dan rasionalitas yang sehat. Ia menyoroti kecenderungan sebagian tradisi tasawuf pada masa awal Islam di Nusantara yang terlalu menekankan takdir hingga melemahkan semangat ikhtiar.
Cara pandang semacam itu, menurutnya, membuat umat kehilangan motivasi untuk belajar, meneliti, dan berinovasi. Islam, sebaliknya, menempatkan ikhtiar sebagai bagian dari iman, sebagaimana hukum kausalitas yang menjadi dasar ilmu pengetahuan.
Pentingnya ilmu ditegaskan melalui perintah Iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1. Membaca dalam makna yang luas bukan hanya membaca teks suci, tetapi juga memahami tanda-tanda alam, sejarah, dan hasil peradaban manusia. Ilmu yang dipelajari, jika disertai kesadaran ketuhanan, akan melahirkan manfaat dan kemajuan. Karena itu Muhammadiyah terus mendorong kadernya menimba ilmu ke berbagai penjuru dunia, dengan bekal akidah kuat untuk mengislamisasi pengetahuan yang diperoleh.
Agung juga menekankan nilai kesetaraan sosial sebagai bagian dari ajaran Islam yang universal. Merujuk pada QS. Al-Hujurat ayat 13, ia menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku, ras, atau status sosial, melainkan oleh ketakwaan. Prinsip ini, menurutnya, telah lama hidup di tubuh Muhammadiyah, di mana setiap orang, baik kaya maupun miskin, profesor maupun buruh, memiliki kedudukan yang sama dalam beramal saleh.
Dalam konteks organisasi, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak kawan, memperkuat ukhuwah Islamiah, dan bekerja sama dengan berbagai pihak demi kemaslahatan umat. Muhammadiyah, baginya, adalah gerakan dakwah yang terbuka dan tidak mencari permusuhan. Namun keterbukaan itu harus dibarengi kewaspadaan agar identitas dan amal usaha persyarikatan tidak mudah diganggu oleh pihak luar.
Ia juga mengingatkan agar warga persyarikatan menjaga soliditas internal. Perpecahan, baik di tingkat pimpinan maupun amal usaha seperti universitas, hanya akan menghambat kemajuan. Karena itu, setiap amanah harus dijalankan dengan semangat kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.
Di penghujung pengajian, Agung menyampaikan harapan agar Muhammadiyah Sulawesi Tengah terus menumbuhkan karakter berkemajuan yang berakar pada semangat Iqra’. Baginya, semangat dakwah Rasulullah yang menyalakan peradaban itulah yang seharusnya menjadi sumber inspirasi setiap langkah Muhammadiyah menuju masyarakat Islam yang adil, makmur, dan berkemajuan.
