MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) kembali menegaskan perannya sebagai pelopor pendidikan tinggi digital di Indonesia dengan menyelenggarakan SiberMu National Seminar on Business, Technology, and Health (SINABTECH) 2025, Kamis (16/10) di Ballroom SMTORIUM, SM Tower Malioboro, Yogyakarta.
Dengan tema “Transformasi Digital yang Berdampak: Artificial Intelligence (AI), Pendidikan, dan Kolaborasi Lintas Sektor Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini menghadirkan akademisi, praktisi, dan pejabat pemerintah untuk membahas arah pembangunan pendidikan dan teknologi yang mampu memberi dampak nyata bagi bangsa.
Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Riyanta, menyampaikan bahwa SINABTECH menjadi ajang penting untuk bertukar gagasan secara produktif dan menyenangkan. SiberMu, yang merupakan satu dari 174 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), memiliki keunikan tersendiri karena sepenuhnya mengusung sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi.
Menurutnya, berbagai program seperti pembelajaran coding dan artificial intelligence sudah berjalan dengan baik. Ia menekankan bahwa AI memiliki potensi luar biasa dalam mengubah peradaban manusia—lebih besar dari api, listrik, dan internet.
Karena itu, forum seperti SINABTECH menjadi ruang ideal untuk menggali pemahaman mendalam mengenai dampak besar teknologi ini terhadap masa depan umat manusia.
Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Mohammad Adam Jerusalem, menjelaskan bahwa pendirian SiberMu merupakan hasil dari integrasi tiga pendekatan epistemologis khas Muhammadiyah: bayani, burhani, dan irfani. Ia menyebut pembelajaran jarak jauh sebagai terobosan besar yang menandai era baru dalam dunia pendidikan Muhammadiyah.
Adam menegaskan, kehadiran SiberMu menjadi bukti komitmen Muhammadiyah untuk terus berinovasi dan menjadi pembaharu di berbagai sektor. Ia berharap SiberMu terus berkembang menjadi kampus futuristik yang memanfaatkan kecerdasan buatan dalam seluruh aspek akademik.
Dalam empat tahun perjalanannya, SiberMu telah menjadi leading sector pendidikan jarak jauh di Indonesia dengan lebih dari empat ribu alumni.
Kepala LLDIKTI Wilayah V, Setyabudi Indartono, menekankan bahwa riset perguruan tinggi harus mampu memberi dampak langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Menurutnya, jika Indonesia ingin menjadi negara maju, maka dorongan terhadap industrialisasi dan riset aplikatif menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Ia menilai, seminar seperti SINABTECH sangat penting untuk mendiseminasikan hasil-hasil penelitian dan menghidupkan kembali semangat akademik di kalangan dosen dan peneliti. Di tengah rutinitas administratif yang padat, forum ilmiah semacam ini diharapkan menjadi sarana penyegaran intelektual serta pemantik bagi lahirnya riset-riset unggulan yang berdampak luas.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Kemendikbudristek, M. Hasan Chabibie, menyoroti bahwa visi Indonesia Emas 2045 menuntut kesiapan sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Pembangunan SDM, menurutnya, tidak bisa diselesaikan dalam satu periode, melainkan harus berlangsung secara berkelanjutan seiring perkembangan teknologi dan dinamika sosial.
Ia memandang bahwa generasi mahasiswa saat ini adalah calon pemimpin dua dekade mendatang, yang akan menentukan arah pembangunan bangsa. Karena itu, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memastikan adanya dampak nyata—baik secara akademik, sosial, maupun ekonomi.
Dalam konteks pendidikan digital, ia menekankan pentingnya memperhatikan empat aspek fundamental: nilai dan identitas organisasi, kualitas sumber daya manusia digital, proses pendidikan dan riset yang inovatif, serta infrastruktur dan tata kelola digital yang kuat. Keempat aspek ini menjadi fondasi bagi pengembangan pendidikan tinggi berbasis teknologi di Indonesia.
Hasan menegaskan perlunya kerangka inovasi yang berkesinambungan dengan prinsip D.U.A.T. (Discover, Use, Adopt, Transform). Ini merupakan pendekatan yang menuntun perguruan tinggi untuk tidak hanya menemukan dan menggunakan teknologi, tetapi juga mengadopsi dan mentransformasikannya menjadi kekuatan perubahan sosial yang berdampak.
Usai sesi pembukaan, acara dilanjutkan dengan seminar utama yang menghadirkan para pemikir dan praktisi lintas bidang. Rektor SiberMu, Bambang Riyanta, membuka sesi pertama dengan membahas tema pengembangan dan implementasi algoritma AI yang etis dan inklusif dalam pembelajaran jarak jauh, menekankan pentingnya tanggung jawab moral dalam penerapan kecerdasan buatan di dunia pendidikan.
Sesi berikutnya menghadirkan Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang mengulas bagaimana kebijakan riset dan teknologi dapat mendorong kolaborasi AI untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia.
Dari ranah ekonomi dan bisnis, Mahfud Sholihin, Guru Besar Akuntansi UGM, membahas peluang dan tantangan transformasi digital dalam dunia akuntansi, tata kelola bisnis, dan ekonomi berkelanjutan. Ia menyoroti bahwa digitalisasi tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga transparansi dan tanggung jawab sosial korporasi.
Sementara itu, Abdul Fadlil, Guru Besar Teknik Elektro Universitas Ahmad Dahlan, menyoroti peran kecerdasan buatan dan sistem informasi adaptif dalam mendorong inovasi teknologi nasional, khususnya dalam penguatan kapasitas riset dan pengembangan industri berbasis teknologi.
Penutup sesi seminar diisi oleh Rimawati, dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, yang membahas pentingnya penguatan kebijakan dan inovasi digital di bidang kesehatan sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
