Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Pernikahan Nabi Saw dengan Khadijah | Serial Sirah Nabawi 13

Oleh admin • • 4 Menit Min
Pernikahan Nabi Saw dengan Khadijah | Serial Sirah Nabawi 13

Dalam dunia perdagangan yang dikuasai laki-laki, Muhammad bekerja untuk Khadijah dengan kejujuran yang langka. Kafilahnya membawa barang melintasi padang pasir menuju Syam, lalu kembali dengan laba besar. Tetapi yang membuat Khadijah terkesan bukan hasil dagang, melainkan kepribadian Muhammad yang bersih dari tipu muslihat.

Khadijah tahu, kejujuran adalah hal paling berharga. Di usia yang matang, Khadijah telah menolak banyak lamaran dari kalangan terhormat Quraisy. Namun kali ini ada seorang pria muda yang menarik perhatiannya. Khadijah lantas memanggil pelayannya, Nafisah, untuk menyampaikan ketertarikannya pada Muhammad.

Beberapa hari kemudian Nafisah mendatangi Muhammad dan bertanya, “Mengapa kamu belum menikah?” Muhammad tersenyum, lalu berkata, “Siapa yang akan menikahi diriku? Aku yatim, dan hidupku sederhana.” Perempuan tua itu menjawab, “Bagaimana jika Khadijah ingin menikahimu?” Dalam jeda sepersekian detik, Muhammad bertanya balik, “Mengapa ia ingin menikahiku?”

Dalam percakapan di atas, Muhammad tidak menolak, hanya bertanya mengapa seorang perempuan terpandang seperti Khadijah ingin menikah dengannya. Keheranan itu menyimpan isyarat ketertarikan, bukan penolakan. Nafisah yang bijak menangkap makna di balik diam itu, lalu kembali kepada Khadijah dengan kabar gembira.

Mentang-mentang ada perempuan kaya raya terpandang menyukai pemuda sederhana, jangan kamu bayangkan kejadiannya mirip dengan film-film. Ini bukan drama Korea yang penuh tatapan panjang di bawah rintik hujan, bukan kisah percintaan Tiongkok klasik yang romantis tapi tragis, dan bukan pula film Bollywood yang diselimuti tarian dan keajaiban. Semuanya berlangsung tenang dan realistis, tanpa bumbu romansa berlebihan.

Waktu berjalan tanpa banyak kata. Setelah pesan Nafisah disampaikan, suasana di rumah Khadijah berubah menjadi tenang tapi sarat harapan. Di antara hiruk pikuk pasar dan kabar dagang, dua nama mulai disebut bersama dalam bisikan orang-orang Quraisy. Keputusan pun mendekat seperti takdir yang sudah lama menunggu.

Muhammad dan Khadijah akhirnya memutuskan untuk menikah. Di rumah Khadijah, para kerabat berkumpul dalam suasana yang hangat dan bersahaja. Pamannya, ‘Amr ibn Asad, menjadi wali yang menikahkannya. Muhammad datang bersama pamannya, Abu Thalib, yang mewakilinya dalam khotbah pernikahan.

Abu Thalib berdiri dan memulai dengan pujian kepada Allah. Suaranya mantap ketika mengingatkan kemuliaan suku Quraisy sebagai penjaga Ka’bah dan penduduk terhormat Makkah. Setelah itu ia berkata, “Keponakanku, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, tidak ada tandingannya di antara pemuda Quraisy dalam hal akhlak, kemuliaan, dan nasab. Jika ia kurang harta, ketahuilah bahwa harta hanyalah rezeki sementara seperti bayangan yang cepat berlalu. Ia ingin menikahi Khadijah, dan Khadijah pun menghendakinya.”

Kata-kata itu disambut dengan persetujuan yang tulus. Sebagai tanda resmi pernikahan, mahar diberikan sebar 12 uqiyyah perak, kira-kira 40 dirham. Paman Khadijah menutup acara itu dengan kalimat singkat, “Pemuda seperti ini tak pantas ditolak.”

Pernikahan sederhana itu menjadi penanda penting dalam sejarah umat manusia. Dari rumah itulah kelak lahir risalah yang mengubah dunia.

Usia Khadijah Saat Menikah dengan Nabi Saw

Angka yang paling populer tentang usia pernikahan Khadijah dengan Muhammad adalah 40 tahun. Angka ini bersumber dari Muhammad bin ‘Umar alias al-Waqidi. Namun ketika penelitian modern meninjau kembali sumber-sumber tersebut, muncul sejumlah persoalan. Mengapa angka 40 begitu bertahan dalam ingatan umat Islam selama berabad-abad?

Dalam kebudayaan Semitik kuno, angka 40 sering dianggap suci dan melambangkan kesempurnaan. Musa bermunajat selama 40 malam, banjir besar pada masa Nuh berlangsung 40 hari, dan Al-Qur’an menyebut manusia mencapai kematangan pada usia 40 tahun. Singkatnya, angka 40 berfungsi sebagai simbol kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemuliaan batin.

Ketika para penulis Sirah seperti Al-Waqidi menggambarkan Khadijah berusia 40 tahun, mereka mungkin sedang menyampaikan pesan moral bahwa perempuan ini telah mencapai puncak kedewasaan spiritual ketika memilih pasangan hidupnya. Bagi masyarakat pra-modern, makna simbolik sering dianggap lebih benar daripada data biologis.

Jika angka 40 dipahami sebagai simbol, maka pertanyaan yang muncul adalah berapa usia Khadijah yang sebenarnya?

Semua sejarawan sepakat bahwa pernikahan Nabi Muhammad dan Khadijah berlangsung selama 25 tahun. Nabi berusia 25 tahun ketika menikah, dan Khadijah wafat beberapa waktu sebelum hijrah. Jika pernikahan itu bertahan selama seperempat abad dan Khadijah wafat di usia sekitar 50 tahun, maka perhitungannya sederhana: Khadijah menikah pada usia akhir 20-an atau awal 30-an.

Sumber-sumber tertua memperkuat kemungkinan ini. Hisyam ibn al-Kalbi menulis bahwa Khadijah menikah pada usia 28 tahun. Al-Hakim meriwayatkan dari Ibn Ishaq dengan keterangan yang sama. Riwayat yang menyebut usia 28 tahun lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat kualitas perawinya dibanding riwayat tunggal yang menyebut 40 tahun. Karena itu, dari sudut pandang akademik, usia 28 lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Argumen biologis juga mendukung pandangan ini. Selama 25 tahun pernikahan, Khadijah melahirkan 6 anak. Secara logis, lebih masuk akal jika seorang perempuan berusia sekitar 28 tahun memiliki enam anak dibanding perempuan berusia 40 tahun. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu, ketika kesehatan dan fasilitas medis sangat terbatas, kemungkinan seorang perempuan berusia 40 tahun melahirkan sebanyak itu nyaris tidak mungkin.

Kamu bisa bayangkan seorang perempuan berusia 40 tahun di Makkah kuno. Udara panas, pasir berterbangan, dan perjalanan kafilah menuntut tenaga besar. Setiap hari ia mengurus perdagangan, memimpin rumah tangga, dan membesarkan anak-anak. Dalam keadaan seperti itu, ia masih harus hamil berulang kali hingga usia mendekati 50 tahun.

Secara biologis, hal itu hampir mustahil. Tanpa dukungan medis, tanpa perawatan kehamilan modern, dan di tengah iklim ekstrem yang menguji tubuh setiap hari, kemungkinan seorang perempuan berusia 40 tahun melahirkan enam anak dalam 10 tahun berikutnya sangat kecil. Seandainya itu benar-benar terjadi, para sejarawan tentu mencatatnya sebagai keajaiban.

Karena itu, pandangan bahwa Khadijah berusia 28 tahun saat menikah jauh lebih masuk akal, baik secara historis maupun biologis.

Referensi:

Al-Hakim al-Naysaburi, al-Mustadrak ʿalā al-Ṣaḥīḥayn, Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, Cairo (1422/2002), vol. 3, hlm. 200-201.

Al-Muʿafa ibn Zakariyya al-Nahrawani, al-Jalīs al-Ṣāliḥ al-Kāfī wa al-Anīs al-Nāṣiḥ al-Syāfī, ʿĀlam al-Kutub, Beirut (1413/1993), vol. 4, phlm. 32-33.

  1. Redhwan Karim, “Reconsidering Khadīja’s Age and the Implications of Her Marriage to Prophet Muḥammad,” ReOrient, Vol. 8, No. 1 (2023).

Ibn Hajar al-ʿAsqalani, al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, Beirut (1415/1995), vol. 8, hlm. 103.

Ibn Saʿd, al-Ṭabaqāt al-Kabīr, vol. 1, hlm. 109

Ibn Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, vol. 2, hlm. 294.

Ibn Saʿd, al-Ṭabaqāt al-Kabīr, vol. 10, hlm. 18.

Muhibb al-Din Ahmad ibn ʿAbdullah al-Thabarī, al-Simṭ al-Tsamīn fī Manāqib Ummuhāt al-Mu’minīn, al-Maktabah al-Tijāriyyah, Mecca (1408/1988), hlm. 28.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.

Tinggalkan Balasan