Setelah peristiwa di Gua Hira, Nabi Muhammad segera pulang ke rumah dengan tubuh gemetar. “Selimuti aku,” pinta beliau kepada Khadijah, jantungnya berdebar kencang. Reaksi spontan ini justru membuktikan keotentikan pengalamannya.
Orang yang sedang berkhayal menjadi nabi biasanya tampil dramatis, penuh gaya kepemimpinan, dan berusaha meyakinkan orang lain dengan kata-kata besar. Namun Muhammad justru ketakutan, gemetar, meminta diselimuti, dan memilih diam. Beliau tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kejujuran semacam ini mustahil dibuat-buat.
Khadijah mendekatinya dengan tenang, menenangkannya, lalu bertanya tentang apa yang dialami. Nabi menjawab, “Aku khawatir terhadap diriku.” Ucapan ini sering disalahartikan seolah-olah beliau meragukan kewarasannya. Padahal yang dimaksud adalah ketakutan alami seorang manusia yang baru mengalami sesuatu di luar batas pengetahuan manusia.
Khadijah menatap suaminya. Ia berkata, “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menelantarkanmu. Engkau menyambung tali silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang tak punya, menghormati tamu, dan menegakkan segala kebaikan.”
Setelah itu, Khadijah mendatangi Waraqah ibn Nawfal, sepupunya yang dikenal sebagai seorang hanif, penganut sisa ajaran tauhid di Mekkah. Setelah mendengar kisah suaminya, Waraqah berkata, “Demi Allah, itu adalah Namus (Jibril) yang dahulu datang kepada Musa. Andai aku masih muda, pasti aku akan menolongmu ketika kaummu nanti mengusirmu.”
Nabi Muhammad terhenti sejenak mendengar kata-kata Waraqah. “Mereka akan mengusirku?” tanyanya, suara terdengar tak percaya. Dalam benaknya mungkin terlintas bayangan suku Quraisy yang selama ini menghormatinya sebagai Al-Amin.
Waraqah mengangguk mantap, “Ya. Tidak pernah ada seorang Nabi yang diutus kecuali bahwa kaumnya mencemooh, menganiaya, dan mengusirnya.”
Bayangkan jika kamu berada di posisi Muhammad saat itu. Kaum yang kamu cintai, komunitas yang selama ini menghormati kamu, justru akan berbalik memusuhimu. Waraqah nampaknya sedang menunjukkan pola historis yang kejam. Ini adalah harga yang hampir selalu dibayar oleh para pembaharu besar yang ide-idenya mengancam tatanan lama.
Lihatlah Socrates yang dipaksa minum racun karena mengguncang cara berpikir masyarakatnya. Galileo diadili karena menentang dogma Gereja yang tidak terbuka dengan ilmu pengetahuan. Gandhi dibunuh karena menantang sistem kolonial dan ketidakadilan sosial. Martin Luther King Jr. tewas karena memperjuangkan kesetaraan ras.
Namun, para Nabi dan Rasul menghadapi tantangan yang jauh lebih bertenaga. Sementara para tokoh pembaharu mengusung reformasi sosial dan sains, para Nabi dan Rasul membawa pandangan dunia baru yang mengguncang dasar-dasar keyakinan masyarakat. Karenanya guncangan yang mereka terima begitu dahsyat dibanding yang lain.
Nabi Nuh diolok-olok berpuluh-puluh tahun karena menantang politeisme. Nabi Ibrahim diusir bahkan dibakar karena menghancurkan berhala lalu diusir dari kampung halamannya. Nabi Musa ditentang Firaun, dan terus-menerus diingkari oleh Bani Israil sendiri. Nabi Isa diejek dan hampir dihukum salib oleh otoritas agama dan politik yang merasa terancam.
Keberadaan Waraqah begitu penting untuk menyiapkan kondisi mental Nabi Saw di masa yang akan datang. Namun, sebelum kamu merasa aneh dengan seorang Nabi yang mencari petunjuk dari manusia biasa, pahamilah dulu bahwa Muhammad saat itu masih berusaha mencari tahu makna dari pengalaman luar biasa di Gua Hira.
Masyarakat Arab Mekkah hidup tanpa tradisi wahyu dan tidak mengenal konsep kenabian. Sementara bagi komunitas Yahudi dan Kristen, kisah para nabi sudah menjadi bagian dari sejarah panjang mereka. Karena itu, Waraqah menjadi jembatan yang menautkan wahyu baru dengan warisan kenabian sebelumnya.
Beberapa waktu kemudian, Waraqah wafat. Tahun-tahun berikutnya, para kerabatnya bertanya kepada Nabi tentang nasib Waraqah di akhirat. Nabi menjawab, “Aku melihatnya memakai pakaian putih, berada di taman surga.” Sebagian ulama berpendapat bahwa Waraqah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi, meskipun belum sempat mengucapkan syahadat, karena saat itu formula syahadat belum ditetapkan.
Setelah pertemuan dengan Waraqah, wahyu terhenti. Hari-hari berlalu tanpa wahyu. Nabi sering mendaki lagi ke Gua Hira, berharap malaikat itu datang kembali, tetapi langit tetap diam. Hingga pada suatu hari, di lembah Mekah, Jibril muncul lagi.
Nabi mendengar namanya dipanggil, namun tidak melihat siapa pun. Beliau menoleh ke kanan dan kiri, tetap tak ada. Saat menengadah, terlihat Jibril di ufuk langit, duduk di atas takhta yang membentang antara langit dan bumi. Tubuh Nabi gemetar, napasnya memburu. Beliau bergegas pulang dan berseru ke Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.”
Di saat itu, wahyu turun kembali Surah Al-Muddatsir ayat 1-7, “Wahai orang yang berselimut, bangkitlah dan berilah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikanlah pakaianmu. Jauhilah segala kekotoran. Jangan berharap imbalan berlebih atas kebaikanmu. Dan bersabarlah demi Tuhanmu.” (QS. Al-Muddatsir: 1–7).
Simbolisme ayat ini dalam sejarah manusia sangat kuat. Seorang lelaki yang semula berselimut kini diperintah untuk bangkit. Jika wahyu pertama adalah Iqra’ yang menandai kelahiran kenabian, maka wahyu kedua adalah Qum fa-andzir yang menandai kelahiran kerasulan. Karena setelah dua kejadian ini pada usianya yang ke-40 tahun, Muhammad resmi menjadi seorang Nabi dan Rasul terakhir.
Setelah Muhammad menjadi Rasul, sejarah kenabian mencapai puncaknya. Rangkaian panjang utusan Tuhan yang dimulai sejak Nabi Adam kini berakhir. Wahyu terakhir turun, agama terakhir lahir, dan misi kerasulan resmi selesai. Walau sudah sedemikian tegas, di berbagai ruang dan waktu, selalu muncul yang mengaku-aku bahwa dirinya diutus Tuhan.
Pada abad pertama Hijriah, muncul Musailamah al-Kadzdzab dari Yamamah, jazirah Arab tengah mengaku menerima wahyu sendiri dan menentang ajaran Nabi Muhammad. Tak lama kemudian muncul Aswad al-‘Ansi di Yaman, seorang pesulap dan pemimpin suku yang memproklamasikan dirinya nabi menjelang wafatnya Rasulullah.
Berabad-abad kemudian, di India muncul Mirza Ghulam Ahmad pada abad ke-19, pendiri gerakan Ahmadiyah, yang mengaku sebagai al-Masih dan nabi setelah Muhammad. Di Indonesia pun pernah ada yang serupa. Pada 1960-an, Ahmad Mushaddeq mendirikan gerakan Al-Qiyadah al-Islamiyah dan mengaku sebagai nabi akhir zaman.
Sejarah mencatat satu pola yang berulang. Nabi-nabi palsu selalu muncul dalam konteks krisis sosial atau politik, menawarkan solusi instan, tapi pengaruhnya tidak pernah bertahan lama, lalu pelan-pelan punah ditelan zaman atau menjadi sekte minoritas. Hal ini karena pintu menjadi nabi dan rasul benar-benar sudah tertutup.
Karenanya, cukuplah Muhammad sebagai penutup para nabi, dan mari kita semua jalani peran yang lebih realistis. Dalam skenario sejarah, kamu hanya bisa menjadi seorang pembaharu, ilmuwan, atau pemimpin sosial. Kamu juga bisa menjadi content creator, data scientist, influencer, game developer, digital strategist, atau AI researcher.
Tidak perlu bercita-cita jadi nabi dan rasul. Kamu tidak akan kuat. Cukup Nabi Muhammad Saw saja.
Referensi:
Abu Isa Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzī, Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1996.
Ibn Katsīr, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Beirut: Maktabah al-Maʿārif, 1410/1990, vol. 3, hlm. 17.
Muhammad ibn Ismaʿil al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsīr, 1423/2002.
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.
