Sekitar usia 40 tahun, Nabi Muhammad mulai menaiki Jabal Nur, gunung batu di pinggiran Mekkah yang gersang dan tenang. Di puncaknya ada sebuah celah kecil, cukup untuk satu orang duduk merenung. Dari sana, Ka‘bah terlihat di kejauhan, dikelilingi manusia yang terus berputar dalam siklus kehidupan mereka.
Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu berpusat di sekitar Ka‘bah. Di pelatarannya, para pedagang menawar kain, rempah, dan kulit dari Yaman. Di sekitarnya, para penyair berceloteh memuja kabilah masing-masing. Di pasar Ukaz, orang memperdebatkan harga dan kehormatan dengan nada yang sama tinggi. Sementara di depan berhala-berhala sekitar Ka‘bah, orang-orang menunduk, mempersembahkan kurban, dan memohon nasib baik.
Kini, pemandangan Mekkah dari Gua Hira sudah berubah total. Andaikan kamu berada di mulut gua itu sekarang, kamu akan melihat kota yang padat dan bercahaya di malam hari. Bangunan tinggi menjulang di antara lembah bebatuan. Di kejauhan, kompleks Masjidil Haram tampak seperti samudra cahaya yang memantulkan kemegahan dunia modern.
Dulu Gua Hira itu sepi, tak ada air, tak ada tumbuhan, bahkan hampir tak ada suara selain desir angin. Sekarang, di tengah keramaian manusia yang ingin melihat tempat pertama kali wahyu turun, sulit membayangkan bagaimana seorang diri pernah berdiam di sana selama berminggu-minggu, dalam kesendirian yang benar-benar total.
Hari-hari Nabi Saw di Gua Hira berlangsung dalam diam. Kadang beberapa malam, kadang berminggu-minggu. Bekal disiapkan oleh Khadijah, yang dengan sabar mengantarnya kembali setiap kali beliau turun ke kota. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang dicari di sana. Mungkin ketenangan, mungkin jawaban.
Lalu hal-hal aneh mulai terjadi. Nabi mendengar salam dari arah yang tak terlihat, dan mimpi-mimpi yang datang di malam hari mulai menjadi kenyataan keesokan paginya. Mimpi itu datang terus setiap malam selama 6 bulan penuh. Para ulama kemudian memperkirakan, karena wahyu pertama turun di bulan Ramadan, masa mimpi itu dimulai sekitar bulan Rabiulawal.
Perubahan itu membuatnya gelisah. Nabi bercerita kepada Khadijah dengan hati yang diliputi rasa cemas, khawatir kalau yang dialaminya pertanda buruk. Namun Khadijah selalu berhasil menenangkannya. Ia meyakinkan suaminya bahwa semua itu bisa saja pertanda baik.
Malam hari di Jabal Nur terasa panjang dan dingin. Angin membawa aroma batu yang dipanaskan siang hari, dan langit penuh bintang seolah menatap balik. Di tempat seterpencil itu, Muhammad duduk sendiri, menatap langit, dan mungkin bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi padanya.
Dalam sejarah panjang manusia, selalu ada saat ketika seseorang menyingkir dari keramaian dan mencoba memahami dirinya sendiri. Menarik diri sejenak dari hiruk pikuk adalah cara tertua yang dilakukan pikiran untuk mengatur ulang skala prioritasnya.
Socrates pada abad ke-5 SM berjalan di lorong-lorong Athena, di jantung peradaban Yunani kuno, untuk mempertanyakan makna hidup. Siddhartha pada abad ke-6 SM meninggalkan istana kerajaan di India utara menuju hutan untuk mencari pencerahan dan jalan mengakhiri penderitaan. Laozi pada abad ke-6 SM menempuh perjalanan meninggalkan peradaban Tiongkok untuk menulis kebijaksanaan terakhirnya tentang harmoni alam.
Masing-masing mencari cara untuk memahami dunia melalui refleksi dan kontemplasi. Namun ada perbedaan mendasar antara Muhammad dan tokoh-tokoh itu. Socrates mengandalkan penalaran logis untuk menemukan definisi kebajikan. Siddhartha menemukan Dharma melalui pencerahan batin dan observasi terhadap penderitaan. Laozi menulis Tao Te Ching setelah memahami harmoni alam dan hukum keseimbangan. Tokoh-tokoh ini adalah sumber dari ajaran mereka sendiri.
Muhammad tidak menciptakan ajaran atau sistem pemikiran dari hasil renungannya. Nabi Saw menerima sesuatu yang datang dari luar kesadarannya, yang tidak lahir dari pikiran manusia, tetapi dikirimkan kepadanya. Ajaran yang dibawa tidak lahir dari meditasi atau logika, tetapi dari perjumpaan dengan sumber di luar dirinya. Muhammad itu bukan perintis, tapi pewaris.
Karena itu, Islam bukan hasil pemikiran dan angan-angan Muhammad, tetapi respons terhadap wahyu. Sebagaimana para nabi sebelumnya dari Nabi Adam sampai Nabi Isa, Muhammad adalah pembimbing manusia untuk memahami kehendak Tuhan. Perannya adalah menyampaikan dan menjalankan kehendak Ilahi.
Maka, setelah berbulan-bulan penantian, penyesuaian batin, dan kegelisahan yang begitu manusiawi, momen penutup tirai bagi zaman pra-kenabian itu tiba. Keheningan di Gua Hira dihancurkan oleh intervensi yang maha dahsyat, mengakhiri era kontemplasi dan memulai era aksi. Inilah detik-detik sebelum Muhammad diangkat jadi Nabi dan Rasul.
Karenanya, dengan segala hormat, kamu tidak bisa meniru laku ini karena memang beliau belum diberikan mandat menjadi Nabi dan Rasul. Jadi, kamu tidak bisa tiba-tiba menanggalkan rutinitas, pergi ke Gunung Salak atau Gunung Bromo, mencari gua terdekat yang cukup estetik untuk bertahanus, dan berharap Jibril akan muncul menyampaikan wahyu.
Namun justru dari ketidakbolehan kita meniru inilah, kita bisa memahami makna terdalam dan melaksanakannya dengan sepenuh hati dari apa yang terjadi selanjutnya. Pada suatu malam di bulan Ramadan, sebuah cahaya muncul. Suara terdengar. Perintah pertama diucapkan, kalimat yang kelak mengubah arah sejarah manusia.
“Bacalah!”
Jawaban Muhammad sederhana sekaligus tragis: “Aku tidak bisa membaca.”
Referensi:
Martin Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, London: George Allen & Unwin, 1983.
Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, Ṣaḥīḥ Muslim, Riyadh: Dār Thaibah, 1427/2006.
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.
