Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Membangun Peradaban Unggul Berbasis Tujuh Fondasi

Oleh admin • • 2 Menit Min
Membangun Peradaban Unggul Berbasis Tujuh Fondasi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta pada Jumat (10/10), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, menegaskan bahwa Muhammadiyah fokus pada pembangunan masyarakat Islam yang ideal dan peradaban unggul.

Dalam ceramahnya, Agung menjelaskan bahwa Muhammadiyah, sebagai organisasi kemasyarakatan, tidak mengejar kekuasaan politik, tetapi berorientasi pada pembentukan masyarakat yang utama.

“Jika kader Muhammadiyah dipercaya menjadi menteri, itu baik. Namun, jika tidak, itu juga tidak masalah. Yang terpenting adalah menjadi manusia yang paling banyak memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya.

Ia menambahkan, Muhammadiyah tidak menargetkan jumlah kader yang masuk pemerintahan, tetapi berfokus pada pembangunan peradaban Islam yang sejati, bukan sekadar diaspora politik.

Dalam pandangannya, fondasi membangun peradaban manusia setidaknya terdiri dari tujuh pilar, sebagaimana dirumuskan oleh Imam al-Syatibi.

Pertama, nilai tauhid, yang menurut Agung menjadi tantangan berat di era modern. Mengutip QS Al-Jasiyah ayat 23, ia menyebutkan bahwa kemusyrikan kini dapat berwujud mempertuhankan hawa nafsu, seperti ego, kekuasaan, dan harta, yang mengalihkan pengabdian dari Allah.

Kedua, keadilan, baik dalam hukum, ekonomi, maupun sosial. Agung menyayangkan bahwa keadilan di Indonesia masih jauh dari harapan karena ketimpangan yang menganga.

Ketiga, persamaan dan kesetaraan, yang menegaskan tidak ada perbedaan antara manusia berdasarkan suku, ras, atau status sosial. Ia menekankan bahwa Islam telah memberikan kontribusi besar dalam sejarah dengan memperjuangkan kesetaraan, terutama di masa ketika perbudakan merajalela.

Keempat, kebebasan yang diiringi tanggung jawab. “Tidak ada paksaan dalam agama, tetapi batas antara haq dan batil sudah jelas. Kebebasan harus diimbangi dengan konsekuensi,” ujar Agung.

Kelima, al-khair dan al-maslahat, yang menekankan perlunya menghilangkan kemungkaran demi kebaikan bersama.

Keenam, rahmat atau kasih sayang, yang melampaui perbedaan warna kulit, suku, budaya, atau strata sosial.

Ketujuh, kebijaksanaan, yang menjadi landasan dalam pengambilan keputusan.

Agung menegaskan bahwa ketujuh fondasi ini menjadi peta jalan bagi pemuda untuk mewujudkan Indonesia berkemajuan. Ia mengaitkan peran pemuda dengan teladan para nabi, seperti Nabi Ibrahim yang berani melawan kemusyrikan, Nabi Yusuf yang menjaga integritas di tengah godaan, dan Nabi Musa yang melawan kesewenang-wenangan.

“Pemuda harus mengambil inspirasi dari mereka untuk menghadapi tantangan zaman, baik dari luar maupun dalam kekuasaan, demi membangun masyarakat yang utama,” katanya.

Dengan tujuh fondasi peradaban tersebut, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk membangun Indonesia yang lebih adil, setara, dan penuh kasih sayang, sejalan dengan nilai-nilai Islam yang sejati.

Tinggalkan Balasan