MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nur Kholis beliau menguraikan keutamaan, makna, dan hikmah di balik dua ayat terakhir Surah al-Baqarah (ayat 285–286).
Penjelasan mengenai dua ayat terakhir dari Surah al-Baqarah ini ia sampaikan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (12/10). Dalam kajian itu, ia mengajak jamaah memahami kedalaman spiritual dan pesan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.
Di awal ceramah, Nur Kholis mengutip hadis sahih riwayat al-Bukhārī dan Muslim, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Man qara’a bi āyatayn min ākhiri sūrat al-Baqarah fī laylatin kafatahu“, yang artinya: “Barang siapa membaca dua ayat terakhir Surah al-Baqarah pada malam hari, maka itu akan mencukupinya.”
Menurut penjelasan Imam al-Nawawī dalam Syarh-nya, kata kafatahu (“mencukupinya”) memiliki tiga makna utama:
Pertama, membaca ayat ini di malam hari dianggap cukup sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah Swt; kedua, ayat ini menjadi sarana memohon penjagaan dan bantuan Allah dalam menghadapi kesulitan; ketiga, bagi yang tidak mampu melaksanakan salat malam karena suatu sebab, membaca dua ayat ini dapat menggantikan keutamaannya.
Nur Kholis mengajak jamaah tidak hanya membacanya, tetapi juga memahami kandungan ayat agar bacaan tersebut menumbuhkan keyakinan dan ketenangan hati.
Jamaah kemudian diajak membaca bersama dua ayat tersebut, dipimpin langsung oleh Nur Kholis:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya:
- “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (yaitu Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.” Mereka pun berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.”
- “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya (balasan) dari apa yang telah diusahakannya dan atasnya (akibat buruk) dari apa yang telah dikerjakannya. (Mereka berdoa,) “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.”
Nur Kholis menjelaskan bahwa ayat 285 menegaskan keimanan Rasulullah Saw dan para mukmin kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul tanpa membedakan satu sama lain.
Menariknya, Allah memisahkan redaksi keimanan Rasulullah (āmana al-rasūlu bimā unzila ilayhi min rabbihi) dengan keimanan orang beriman (wal-mu’minūn). Para mufasir menafsirkan bahwa pemisahan ini menunjukkan perbedaan kualitas iman. Keimanan Rasulullah sempurna dan mutlak, sedangkan keimanan umat masih bertingkat-tingkat.
Ayat ini juga menegaskan sikap para mukmin yang berkata sami‘nā wa aṭa‘nā (“kami mendengar dan kami taat”), berbeda dengan umat sebelumnya yang berkata sami‘nā wa ‘aṣaynā (“kami mendengar dan kami durhaka”).
Nur Kholis menggambarkan betapa beratnya tanggung jawab itu bagi para sahabat, hingga ayat berikutnya hadir membawa keringanan yang menyejukkan hati.
Pada ayat 286, Allah berfirman: “Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā”, yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Nur Kholis menjelaskan bahwa ayat ini menjadi penutup yang melegakan para sahabat. Ia menegaskan, Islam adalah agama yang mudah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Inna al-dīna yusrun” (Sesungguhnya agama ini mudah).
Kemudahan ini tampak pada berbagai aspek syariat. Misalnya, puasa Ramadan yang wajib dapat diganti dengan fidyah bagi orang tua renta yang tak mampu berpuasa. Demikian pula ibadah haji yang mensyaratkan istiṭā‘ah (kemampuan). Jika seseorang memiliki biaya namun tidak sehat secara fisik, maka kewajiban hajinya gugur, demi menjaga kemaslahatan.
Doa-Doa dalam Ayat
Nur Kholis menyoroti rangkaian doa dalam ayat ini, antara lain:
- Ghufrânaka rabbana (ampunan-Mu, ya Tuhan kami). Ini menandakan harapan agar Allah mengampuni dan menutupi dosa hamba-Nya.
- Rabbana lâ tu’âkhidznâ in nasînâ aw akhṭa’nā (Ya Tuhan kami, jangan hukum kami jika kami lupa atau salah). Ini sebagai pengakuan atas sifat manusia yang mudah lalai.
- Rabbana walâ taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahu ‘alallażīna min qablina (Ya Tuhan kami, jangan bebankan kami dengan beban berat seperti yang Engkau bebankan kepada umat sebelum kami). Ini mengacu pada beratnya syariat umat terdahulu.
- Wa‘fu ‘annâ, waghfir lanâ, warḥamnā (hapuskan dosa kami, ampunilah kami, dan kasihanilah kami). Ini menunjukkan gradasi permohonan: penghapusan, pengampunan, dan kasih sayang Allah.
Nur Kholis menambahkan, doa yang diulang-ulang akan menumbuhkan kedekatan dengan Allah hingga seseorang tidak lagi perlu menyebut rabbana, sebab hubungan spiritualnya sudah begitu dekat.
Di akhir ceramah, Nur Kholis mengajak jamaah untuk membaca dua ayat terakhir Surah al-Baqarah setiap malam, sebagaimana anjuran Rasulullah Saw. Ia menutup dengan memimpin pembacaan ayat tersebut bersama jamaah, lalu memohon maaf atas segala kekurangan dalam penyampaian.
