Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Keteladanan Nabi dan Semangat Sumpah Pemuda: Pesan Agung Danarto untuk Generasi Muhammadiyah

Oleh admin • • 2 Menit Min
Keteladanan Nabi dan Semangat Sumpah Pemuda: Pesan Agung Danarto untuk Generasi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, mengaitkan semangat Sumpah Pemuda 1928 dengan kisah-kisah keteladanan para nabi muda dalam Al-Qur’an. Ia menekankan bahwa pemuda memiliki potensi besar untuk menggerakkan perubahan positif, baik dari dalam maupun luar kekuasaan.

Pandangan di atas disampaikan dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta pada Jumat (10/10). Dalam ceramahnya, Agung Mengawali ceramahnya, Agung mengenang Sumpah Pemuda 1928, di mana tokoh-tokoh berusia di bawah 30 tahun mampu menciptakan kesepakatan bersejarah yang hingga kini menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Mereka memiliki pemikiran jauh ke depan, dan semangat itu harus menjadi inspirasi bagi generasi muda saat ini,” ujarnya.

Agung kemudian mengutip kisah-kisah Al-Qur’an untuk memperkuat pesannya. Ia menyoroti Nabi Ibrahim dalam QS Al-Anbiya ayat 60, yang pada usia awal 20-an telah berani menghancurkan berhala-berhala sebagai bentuk perlawanan terhadap kemusyrikan.

“Proses intelektualitas Ibrahim penuh gejolak, namun berujung pada keyakinan spiritual yang kokoh kepada Allah,” ungkap Agung, menekankan keteguhan Ibrahim dalam memperjuangkan kebenaran.

Selain itu, ia juga menyinggung kisah Nabi Yusuf dalam QS Yusuf ayat 30, yang mampu menahan godaan dari seorang wanita cantik dan kaya raya. “Di tengah godaan yang semakin banyak saat ini, kisah Nabi Yusuf menjadi teladan bahwa pemuda bisa mengendalikan diri dengan berpegang pada aturan Allah,” katanya.

Sementara itu, Nabi Musa disebut sebagai contoh pemuda yang gigih melawan kesewenang-wenangan Firaun. Dimulai dari melihat pola perbudakan yang tidak manusiawi, berujung pada menentang kekuasaan tirani.

Agung menjelaskan bahwa ketiga nabi tersebut menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam perjuangan. “Nabi Ibrahim dan Musa melawan dari luar kekuasaan, sementara Nabi Yusuf membangun karakter dan kesejahteraan masyarakat dari dalam kekuasaan,” tuturnya.

Inspirasi untuk Muhammadiyah

Agung menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak memandang perjuangan dari dalam atau luar kekuasaan sebagai sesuatu yang lebih utama, melainkan fokus pada upaya membangun masyarakat Islam yang ideal.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, Muhammadiyah tidak mengejar kekuasaan politik, tetapi berorientasi pada pembangunan peradaban yang unggul.

“Jika kader Muhammadiyah dipercaya menjadi menteri, itu baik. Namun, jika tidak, itu juga tidak masalah. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi manusia yang paling banyak memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegas Agung.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah tidak menargetkan jumlah kader yang masuk ke pemerintahan, melainkan berfokus pada pembentukan masyarakat yang utama. “Kami ingin membangun peradaban yang unggul, bukan sekadar diaspora politik, tetapi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” pungkasnya.

Ceramah ini menjadi pengingat bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi besar Muhammadiyah, dengan meneladani keteguhan, pengendalian diri, dan semangat perjuangan para nabi serta para tokoh Sumpah Pemuda.

Acara pengajian ini dihadiri oleh berbagai elemen Muhammadiyah dan menjadi momentum untuk menggugah semangat generasi muda dalam berkontribusi bagi bangsa dan agama.

Tinggalkan Balasan