Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Kemuliaan di Sisi Allah Tidak Ditentukan oleh Wajah dan Jabatan

Oleh admin • • 2 Menit Min
Kemuliaan di Sisi Allah Tidak Ditentukan oleh Wajah dan Jabatan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, dalam khutbah Jumat (17/10) di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), menyampaikan pesan moral yang mendalam tentang hakikat kemuliaan manusia di sisi Allah Swt.

Ia menegaskan bahwa nilai seseorang tidak diukur dari paras, jabatan, atau harta, melainkan dari ketakwaan dan kebersihan hatinya.

Khutbah itu diawali dengan kisah inspiratif yang diriwayatkan oleh al-Imām al-Tirmiżī dalam kitab al-Syamāʾil al-Muḥammadiyyah. Fajar mengisahkan seorang sahabat bernama Zahir bin Haram, seorang pemuda dari pelosok yang sangat mencintai Nabi Muhammad Saw.

“Setiap musim panen, Zahir menempuh perjalanan jauh dari pedalaman menuju Madinah hanya untuk bertemu kekasihnya, Rasulullah, dan memberikan hadiah hasil dagangannya,” ujar Fajar dalam khutbahnya.

Nabi pun, lanjut Fajar, selalu membalas hadiah tersebut sebelum Zahir kembali ke kampung halamannya. Namun, di balik cintanya kepada Nabi, Zahir merasa rendah diri karena parasnya yang tidak tampan dan status sosialnya yang sederhana.

Suatu hari, ketika Zahir tengah berdagang di pasar, Rasulullah Saw datang dan memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Zahir terkejut dan berteriak meminta dilepaskan. Saat menoleh, ia mendapati bahwa yang memeluknya adalah Rasulullah sendiri.

“Nabi kemudian bersabda di hadapan orang banyak, ‘Man yasytarī hāżā al-ʿabd?’ — Siapa yang mau membeli budak ini?” tutur Fajar menirukan sabda Nabi.

Dengan perasaan rendah diri, Zahir menjawab, ‘Idzan wallāhi tajidunī kasīdan’ — Wahai Rasulullah, siapa yang mau membeli budak sejelek aku ini? Kalau pun ada, pasti dengan harga yang murah.”

Namun Rasulullah membalas dengan penuh kasih, ‘Bal innaka ʿinda Allāhi ghalin’ — Tidak, demi Allah, engkau di sisi Allah sangat berharga.”

Menurut Fajar, kisah ini mengandung pesan mendalam bahwa kemuliaan seorang hamba di sisi Allah tidak pernah diukur dari rupa, jabatan, atau kekayaan.

“Zahir bin Ḥarām bukan sahabat yang terkenal atau tampan, tetapi cintanya kepada Rasulullah dan ketakwaannya membuatnya mulia di sisi Allah,” ujar Fajar.

Ia menegaskan, sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Ḥujurāt ayat 13:  Inna akramakum ʿinda Allāhi atqākum yang artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Dalam khutbahnya, Fajar juga mengutip hadis riwayat Imam Muslim: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (Inna Allāha lā yanẓuru ilā ṣuwarikum walā ilā amwālikum, walākin yanẓuru ilā qulūbikum wa aʿmālikum).

Fajar menegaskan bahwa tidak pantas bagi seorang mukmin merasa rendah diri atau kehilangan kepercayaan diri (insecure), sebab Allah telah menjanjikan kemuliaan bagi orang beriman.

“Allah berfirman, ‘Wa lā tahinū wa lā taḥzanū wa antumul aʿlauna in kuntum muʾminīn’ — Janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati, karena kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman,” ucapnya.

Menutup khutbahnya, Fajar mengingatkan jamaah untuk tidak menyombongkan jabatan, kedudukan, atau harta yang dimiliki.

“Kesombongan hanyalah milik Allah. Dunia berputar, jabatan bisa berganti, tapi iman dan takwa akan selalu meninggikan derajat kita di sisi-Nya,” tegas Fajar.

Tinggalkan Balasan