Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Integrasi Ilmu Adalah Jalan Tauhid Menuju Peradaban Islam

Oleh admin • • 2 Menit Min
Integrasi Ilmu Adalah Jalan Tauhid Menuju Peradaban Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Din Syamsuddin, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015, menyerukan integrasi ilmu pengetahuan sebagai keniscayaan untuk mengatasi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum.

Pernyataan itu disampaikan dalam ceramah di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Senin (27/10). “Saya diminta bicara integrasi ilmu dari masjid ke ruang kelas. Wah, berat,” ujarnya disambut tawa jamaah.

Namun, Pak Din segera menegaskan bahwa disintegrasi ilmu, khususnya pemisahan antara ulum ad-diniyah (ilmu agama) dan ulum al-madaniyah (ilmu umum), merupakan problem krusial umat Islam hingga kini.

Dalam integrasi ilmu agama dan ilmu umum ini, inti argumen Pak Din bertumpu pada tauhid. Bukan sekadar wahdaniyatullah (keesaan Allah), tetapi tauhid sebagai pengesaan Allah dalam segala aspek kehidupan. Mengutip cendekiawan Muslim Palestina-Amerika, Prof. Ismail Raji al-Faruqi, ia menjelaskan tiga dimensi tauhid:

  • Unity of Creation – Segala ciptaan Allah menyatu dalam harmoni.
  • Unity of Existence – Hubungan erat antara Khalik, manusia, dan alam.
  • Unity of Knowledge – Seluruh ilmu berasal dari sumber yang sama: Allah.

“Ilmu lahir dari dua ayat Allah,” tegas Din. Pertama, al-ayat al-qauliyah, yakni wahyu Al-Qur’an yang ditafsirkan, melahirkan ilmu agama, tafsir, fikih, dll; kedua, al-ayat al-kauniyah, yaitu ayat semesta yang diamati, melahirkan IPA, sosiologi, ekonomi, politik, dll.

“Jika ada kontradiksi antara keduanya, pasti ada salah tafsir—entah terhadap wahyu, entah terhadap alam,” ujarnya.

Ia mencontohkan Surah Ar-Rahman yang 31 kali menyebut “Fabiayyi ala’i Rabbikuma tukadziban?” dengan isyarat ilmiah tentang ciptaan Allah, termasuk ekspansi alam semesta (wal-ardha madadnaha).

Pak Din menelusuri sejarah pendidikan tinggi Islam. “Universitas tertua, Al-Azhar, bermula dari al-jami’—bukan sekadar masjid, tapi pusat ibadah sekaligus pembelajaran,” katanya.

Dinasti Fatimiyah mendirikan al-jami’ sebagai tempat halaqah, lalu berkembang menjadi al-jamiah (universitas) yang mengintegrasikan berbagai disiplin. “Hari ini, Al-Azhar punya fakultas kedokteran, psikologi, teknik—bukan hanya syariah dan usuluddin,” tambahnya.

Ia menyayangkan istilah “fakultas” dalam bahasa Inggris yang mengesankan pemisahan, padahal dalam tradisi Islam, al-jamiah berarti penghimpunan ilmu.

Pak Din kemudian membandingkan ulama klasik dengan sarjana modern yang terspesialisasi. Al-Farabi merupakan ahli filsafat, politik, fikih, matematika, dan musik; Ibnu Sina adalah seorang dokter, filsuf, ilmuwan; Al-Khawarizmi adalah bapak aljabar; serta Ibnu Khaldun sebagai sosok pelopor sosiologi.

“Barat hapus peran ilmuwan Muslim dari sejarah ilmu. Itu tugas kita untuk menyatukannya kembali,” tegasnya.

Din menutup dengan perluasan tema. “Dari masjid ke ruang kelas hanyalah transit. Lanjutkan ke lapangan luas untuk mengamalkan ilmu dalam misi kemanusiaan.”

Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 30, “Inni ja’ilun fi al-ardhi khalifah”, ia menegaskan manusia dimandatkan membangun peradaban (al-hadarah al-islamiyah). Namun, dengan syarat “Wa la tufsidu fi al-ardhi ba’da islahihā” yang artinya, jangan ciptakan kerusakan setelah Allah menyempurnakan (QS. Al-A’raf: 56).

Contoh nyata ilmu ekonomi jangan memiskinkan yang miskin; teknologi rudal jangan untuk membunuh, kecuali pertahanan; ilmu politik jangan untuk korupsi kekuasaan.

“Aksiologi ilmu Islam adalah maslahat ‘amma alias kemaslahatan umum melalui amal saleh,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan