MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Muhammadiyah dalam AD ART nya menyebut dirinya sebagai gerakan Islam, yang artinya memiliki konsekuensi untuk terus bergerak dan berkembang – tidak boleh berhenti.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais pada Ahad (12/10) dalam Pembukaan Seleksi Nominasi CRM Awards di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Semangat gerakan ini menurutnya harus dipahami oleh seluruh tingkat kepemimpinan, mulai dari Ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah Muhammadiyah sehingga kehadirannya tampak dan manfaatnya dapat dirasakan.
Perkembangan Muhammadiyah, katanya, juga berpacu dengan waktu sebagaimana kandungan dalam surat Al Ashr yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Dahlan selama delapan bulan itu – lebih lama dibandingkan Al Ma’un.
“Jadi kita hidup berlomba dengan waktu dan pemanfaatan waktu itulah yang akan menentukan kita itu menjadi pemenang atau pecundang,” katanya.
Mengulik sejarah Kiai Dahlan yang mengajarkan Surat Al Ashr selama delapan bulan, Dahlan Rais menyebut, tenggat waktu yang dibutuhkan oleh Kiai Dahlan itu menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi umat Islam.
Dahlan Rais menganalogikan, Muhammadiyah sebagai gerakan ini tidak cukup hanya bergerak dengan cara berjalan, melainkan harus berlari. Sebab menurutnya jika berhenti besar kemungkinan Muhammadiyah akan dilindas zaman.
“Jangan sampai kehilangan waktu, jangan sampai berhenti. Jangan berjalan, kalau bisa berlari. Berhenti terlindas, berjalan tertinggal. Berlari membuka harapan,” ungkap Dahlan Rais.
Saat ini, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tengah berada pada puncak – sulit ditandingi oleh gerakan maupun organisasi Islam yang lain. Maka, tolok ukur yang digunakan saat ini tidak cukup hanya dengan masa lalu, tapi harus berani berkompetisi dengan gerakan lintas iman dan lintas negara.
Dia berharap semangat pergerakan dan berpacu dengan waktu yang dimiliki Muhammadiyah dapat menjadi contoh bagi yang lain, termasuk bagi bangsa dan negara Indonesia – supaya bangsa ini tidak puas hanya menjadi konsumen semata.
