Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Bisakah Menerima Teori Evolusi Tanpa Menanggalkan Akidah?

Oleh admin • • 4 Menit Min
Bisakah Menerima Teori Evolusi Tanpa Menanggalkan Akidah?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Dalam acara Syifa’s Corner yang digelar di Wonderhome Library pada Kamis malam (16/10), Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Syifa Amin Widigdo, mengupas tuntas hubungan antara teori evolusi dan akidah Islam.

Diskusi ini berfokus pada buku berjudul Islam dan Evolusi: Imam al-Ghazālī dan Paradigma Evolusi Modern karya Shoaib Ahmad Malik, yang memetakan empat posisi utama kalangan Muslim modern dalam merespons wacana evolusi.

Dalam pengantarnya, Syifa menyampaikan pertanyaan mendasar:

“Mungkinkah kita sebagai seorang Muslim menerima teori evolusi dan pada saat yang sama tidak menanggalkan akidah, atau sebaliknya, bisakah kita tetap menjaga akidah sebagai seorang Muslim tapi pada saat yang sama menerima evolusi?”

Pertanyaan ini menjadi benang merah diskusi yang mengupas bagaimana ilmuwan dan tokoh Muslim menavigasi hubungan antara sains dan keimanan.

Empat Pandangan Soal Evolusi

Syifa memaparkan empat pandangan utama yang diuraikan dalam buku tersebut, yang masing-masing mencerminkan pendekatan berbeda dalam menyikapi teori evolusi:

Pertama, Kreasionisme Total. Posisi ini menolak teori evolusi secara keseluruhan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Tokoh seperti Zakir Naik, Seyyed Hossein Nasr, dan Ousman Bakar menjadi representasi pandangan ini. Mereka berargumen bahwa penciptaan adalah esensi atau arketipe yang bersifat mutlak, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an.

Syifa mengutip pandangan mereka: “Penciptaan itu bentuknya adalah esensi atau arketipe. Di dunia arketipe, di dunia idea, di dunia esensi tidak ada evolusi dalam skala makro.”

Kalangan ini, termasuk Adnan Oktar (Harun Yahya), memandang evolusi sebagai pandangan materialistik yang bertentangan dengan Islam. Landasan normatifnya merujuk pada ayat seperti Surah al-Nūr ayat 45: Wallāhu khalaqa… mā yashā’. ʾInna Allāha ʿalā kulli syai’in qadīr,
yang menegaskan kemahakuasaan Allah dalam menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.

Kedua, Pengecualian Manusia (Human Exceptionalism). Pandangan ini menerima evolusi untuk makhluk non-manusia, tetapi mengecualikan manusia sebagai ciptaan langsung Allah.

Tokoh seperti Nuh Ha Mim Keller, Yasir Qadhi, dan Nazir Khan mendukung posisi ini. Menurut mereka, evolusi secara saintifik sulit dipungkiri, tetapi penciptaan Adam dan Hawa adalah realitas metafisik yang harus diimani.

Syifa menjelaskan: “Adam diterima dalam konteks realisme metafisik—kenyataan yang secara metafisik tidak dapat dipungkiri. Demikian pula evolusi diterima karena secara empirik juga tidak dapat dipungkiri keberadaannya di makhluk-makhluk nonmanusia.”

Landasan ayat yang digunakan antara lain Surah Āli ʿImrān ayat 59: ʾInna maṯala ʿĪsā ʿinda Allāhi ka-maṯali Ādam, khalaqahu min turāb ṡumma qāla lahu kun fayakūn — “Sesungguhnya penciptaan Isa menurut Allah itu seperti (penciptaan) Adam; Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Allah berfirman, ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.”

Ketiga, Pengecualian Adam (Adamic Exceptionalism). Posisi ini menerima evolusi secara umum, termasuk pembentukan manusia secara biologis, tetapi menganggap Ādam sebagai ciptaan langsung Allah tanpa orang tua biologis.

David Solomon Jalajel, salah satu tokoh pendukung, menyebut pendekatan ini sebagai tawakkuf teologis, yakni sikap abstain karena tidak adanya teks al-Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan keberadaan atau ketiadaan manusia sebelum Ādam.

Syifa menegaskan: “Menurut Jalajel, Adam adalah objek iman, bukan objek sains. Terlepas dari ada atau tidak adanya manusia sebelum Ādam, Ādam adalah makhluk yang perlu diimani.”

Posisi ini mengakui evolusi untuk manusia dan nonmanusia, kecuali dalam kasus spesifik adam, yang dianggap sebagai pengecualian.

Keempat, Tanpa Pengecualian (No Exception). Pandangan ini menerima evolusi secara menyeluruh, termasuk untuk Ādam, dengan memaknai Adam secara metaforik atau simbolik.

Tokoh seperti Rana Dajani, seorang pakar biologi molekuler, berpendapat bahwa al-Qur’an bukan kitab sains, dan manusia memiliki keterbatasan hermeneutis dalam menafsirkannya. Ia membedakan istilah basyar (makhluk yang berjalan tegak, seperti hominid) dan insān (Homo sapiens, manusia dengan kesadaran spiritual).

Syifa mengutip penjelasan Dajani: “Ada Surah Ṣād ayat 71 yang berbunyi, Idh qāla rabbuka lil-malā’ikati innī khāliqun basyaran min ṭīn — ‘(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan basyar dari tanah liat.’

Tapi manusia dalam kacamata Rana Dajani adalah homo atau hominid, makhluk yang berjalan tegak.

Sementara di Surah al-Tīn disebut, Laqad khalaqnā al-insāna fī aḥsani taqwīm — ‘Sesungguhnya Kami telah menciptakan insān dalam bentuk yang sebaik-baiknya.’ Insān di sini adalah Homo sapiens.”

Pandangan ini juga didukung oleh ilmuwan seperti Muhammad Iqbal, yang memandang Ādam sebagai simbol turunnya kemanusiaan ke bumi, bukan individu historis konkret. Landasan ayat seperti Surah Nūḥ ayat 14, Walaqad khalaqakum aṭwāran — “Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam tahapan-tahapan,” digunakan untuk mendukung adanya proses evolusi.

Syifa menekankan bahwa buku ini menggunakan kerangka pemikiran Imam al-Ghazālī, yang mengutamakan kemahakuasaan Allah.

Dalam pandangan al-Ghazālī, posisi seperti human exceptionalism dan Adamic exceptionalism lebih mudah diterima karena tetap menjaga akidah tentang penciptaan. Namun, posisi no exception dianggap sulit diterima dari perspektif Ghazālian karena cenderung memaknai Ādam secara simbolik.

Di akhir diskusi, Syifa mengajak audiens untuk merenungkan tiga pertanyaan:

  • Mana yang paling aman secara teologis, yang paling tidak kontradiktif dengan akidah?
  • Mana yang paling masuk akal atau paling tepat mengharmoniskan antara akal dan wahyu, antara sains dan akidah?
  • Dan mana yang paling tepat untuk kita pegangi dalam mengarungi era modern yang ditandai dengan ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi ini?

Tinggalkan Balasan