Makna dan Interpretasi
Ulama, cendekia, dan pemikir di Muhammadiyah dari waktu ke waktu telah berkontribusi dalam menjelaskan makna frasa “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pada tahun 1945 Ki Bagoes Hadikoesoemo membentuk tim untuk membahas frasa “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” yang terdiri atas Fakih Usman, Hamka, Farid Ma’ruf, dan Ahmad Shalahaby. Belum ada keterangan detil yang diperoleh terkait hasil pembahasan tim ini. Akan tetapi, sebagaimana dikutip dari Nashir (2009), menurut Farid Ma’ruf perpaduan antara konsep “masyarakat Islam” dan “yang sebenar-benarnya” merupakan cita-cita ideal tentang suatu wujud masyarakat.
Pada tahun 1965, berkenaan dengan Muktamar ke-36 Muhammadiyah, diadakan Simposium Tardjih pada tanggal 24 Juli mengenai definisi konsep “masyarakat Islam”. Dalam simposium ini dirumuskan 16 ciri masyarakat Islam, yakni: (1) keimanan; (2) ‘ubudiah; (3) akhlak karimah; (4) pertalian batin; (5) keadilan; (6) kejujuran; (7) keamanan; (8) kemakmuran; (9) pertolongan; (10) penyiaran/dakwah, pengajaran dan pendidikan; (11) perdamaian; (12) pimpinan; (13) kepatuhan; (14) pertahanan; (15) musyawarah; (16) kebebasan.
Dalam simposium juga dirumuskan delapan usaha-usaha mewujudkan masyarakat Islam, yakni sebagai berikut:
- Kesadaran beriman, kesadaran beribadah dan kesadaran untuk memiliki akhlak karimah dipupuk, dibimbing dan digembirakan sehingga orang merasa segan dan malu meninggalkan syariat Islam dan segan melakukan perbuatan yang asusila. Dalam hal ini untuk bisa dijadikan pedoman dan tuntunan, perlu diadakan perumusan-perumusan tuntunan tentang keimanan, peribadatan dan akhlak karimah menurut tuntunan Islam.
- Ukhuwah Islamiyah, adab kesopanan dalam pergaulan dan hidup tolong-menolong dipraktikkan baik di dalam rumah tangga di dalam bertetangga ataupun di dalam pergaulan pada umumnya, dalam hal ini perlu diadakan perumusan-perumusan tuntunan tentang: ukhuwah Islamiyah, adab kesopanan di dalam pergaulan secara Islam, hidup berumah tangga dan bertetangga yang bahagia menurut tuntunan Islam.
- Pendidikan lebih ditekankan dari pada pengajaran terutama ke arah nomor 1 dan 2 tersebut. Dalam hal ini perlu diadakan perumusan-perumusan tuntunan tentang sistem pendidikan dan pengajaran menurut Islam.
- Keamanan dan keadilan ditegakkan di dalam segala lapangan, sehingga orang benar-benar merasa bebas dari ketakutan dan ancaman dan tidak perlu khawatir akan kehilangan hak-hak asasinya.
- Usaha-usaha ke arah dakwah, pengajaran dan pendidian diperluas sehingga orang tidak usah khawatir anak-anak dan pemuda-pemuda akan tidak mendapat tempat dalam menurut pelajaran sesuai dengan bakatnya. Demikian pula usaha-usaha ke arah kesejahteraan hidup/kemakmuran dan pertolongan sehingga orang tidak perlu khawatir akan menderita karena kelaparan, menderita karena tidak berpakaian, menderita karena tidak berperumahan, dan menderita karena tidak mendapat perawatan yang layak. Orang yang perlu mendapat perawatan yang layak ialah anak yatim, penderita sakit, berusia lanjut (jompo).
- Tiap kesulitan baik yang berupa persengketaan ataupun lainnya, baik persengketaan itu antara orang dengan orang, antara golongan dengan golongan ataupun antara negara dengan negara dapat diatasi dengan dasar musyawarah yang dijiwai dengan hikmat kebijaksanaan dan pertanggungjawab.
- Pimpinan yang cakap, kuat, jujur, adil, dan bertanggungjawab serta kepatuhan terhadap pimpinan tersebut, sehingga dalam masyarakat itu terbentuk kesatuan yang bulat.
- Pertahanan yang kuat dengan alat perlengkapannya yang serba lengkap dan selalu siap dalam menghadapi segala kemungkinan.
Delapan usaha mewujudkan masyarakat Islam sebagaimana hasil simposium di atas sangat terkait dengan perlunya pembinaan, pembimbingan, dan penuntunan masyarakat dalam hal keagamaan dan keislaman; penegakan hak asasi manusia; pemerataan pendidikan dan akses peningkatan ilmu pengetahuan; resolusi konflik yang mengedepankan dan diselenggarakan secara demokratis; kepemimpinan yang adil dan bertanggungjawab.
Sebagaimana nanti akan dilihat bahwa rumusan-rumusan berkenaan dengan konsep “masyarakat Islam” akan terus menerus mewarnai diskursus tujuan Muhammadiyah dalam setiap zaman. Sebagai contoh Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) merupakan langkah konkret dalam menjawab harapan-harapan yang tercantum dalam rumusan depalan usaha mewujudkan “masyarakat Islam” yang telah disebut di atas. Jelang satu abad Muhammadiyah, buku-buku tuntunan keberagamaan, keagamaan, dan keislaman turut serta menjadi bagian penting dari tantangan ini.
Perkembangan dan Implikasi
Frasa “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” telah mewarnai imajinasi aktivis, kader, warga, dan jamaah Muhammadiyah dari masa ke masa. Berbekal konsep “masyarakat Islam”, mereka telah mendinamisasi kiprah Muhammadiyah hingga berusia satu abad lebih. Konsep “masyarakat Islam” sendiri pun bersanding dengan konsep-konsep lain seperti “masyarakat utama”, “Islam berkemajuan”, hingga “kemanusiaan universal”.
Dalam dokumen Isu-Isu Strategis Keumatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal, konsep “masyarakat Islam” diderivasi ke dalam spektrum konsep yang lebih meluas. Misalnya ada konsep “keadaban Islami”, dan “Islam Wasathiyah”. Meski tidak lagi secara eksplisit menggunakan konsep “masyarakat Islam”, Muhammadiyah tetap berpegang pada rumusan-rumusan susbtantif tentang apa itu “Islam” yang diperjuangkan dan dipromosikan untuk masyarakat di nusantara dan dunia.
Implikasi dari perkembangan apropriasi, derivasi, dan adaptasi konsep “masyarakat Islam” atau “masyarakat utama” mendorong Muhammadiyah untuk meningkatkan kiprah konkret secara global sebagaimana yang sudah dirintis Persyarikatan sejak dahulu. Sebagai contoh terbaru, Muhammadiyah kini tidak saja mampu dan berkemampuan mendirikan sekolah dan rumah sakit hingga ke pelosok negeri paling terisolir, tapi juga bisa merambah ke luar negeri. Bahkan gerakan kemanusiaan yang dilakukan Muhammadiyah sudah ada di level global.
Langkah-langkah inovatif dan berkemajuan seperti ini adalah konkretisasi spirit dari misi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yakni masyarakat Islam yang dapat berbuat banyak dan menebar kebaikan. Itulah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Jika dahulu, para pendiri baru membayangkan seperti apa wujud kerahmatan yang dapat ditebarkan oleh “masyarakat Islam”, kini di generasi ini, mulai terlihat sebuah komunitas yang menebar misi pencerahan universal.