Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Penuh Arti, Pendiri IMM Sekaligus Penyair Besar Indonesia Abdul Hadi WM Bacakan Puisi Doa

Oleh admin • • 4 Menit Min
Penuh Arti, Pendiri IMM Sekaligus Penyair Besar Indonesia Abdul Hadi WM Bacakan Puisi Doa

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Selain kehadiran penyair angkatan ’66, Taufik Ismail dan Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, Malam Gembira Puisi Merdeka di Aula KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Jumat (26/8) terasa istimewa dengan hadirnya Abdul Hadi WM.

Pasalnya, pria berusia 76 tahun yang dikenal sebagai ahli filsafat dan sastrawan sufistik ini adalah salah seorang perintis berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama Allahuyarham, Djazman al-Kindi.

Sebelum membawakan puisinya berjudul “Doa”, Abdul Hadi menyinggung bahwa semangat kemerdekaan tidak boleh terlepas dari iman dan tauhid. Dirinya pun mengutip definisi kemerdekaan dari penyair agung Pakistan, Allahuyarham Al-Allamah Mohammad Iqbal.

“Merdeka tidak bergantung pada selain Tuhan dan (harus) mengakui Muhammad adalah suri tauladan semua kaum muslimin di Indonesia. Karena itu nama Muhammad diambil dari nama Nabi kita Muhammad dan pada abad 16 dan 17 ada gerakan Islam di India bernama Tarekat Muhammadiyah dipimpin Ahmad Sirhindi, jadi kita harus mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw,” ujarnya.

Berikut isi puisi Doa yang dia tulis dalam perjalanan antara Mekkah ke Jakarta pada 2003

Kau adalah ruh dari ruh alam semesta
Kebun-kebun kami subur dan riang
Disebabkan curahan kasih sayang-Mu

Namun karena rumah Cinta telah kami tinggalkan
Lihat, jiwa kami kini kerontang jadinya
Dan Kau pun lari meninggalkan kami
Melalui seruling kehidupan Kau tiupkan lagu

“Sungguh, takkan berubah nasib suatu kaum
Jika tak mampu merubah alam pikirannya yang beku”

Hibur hati kami yang sedih, tuang
Anggur cerlang dan hangat itu sekali lagi
Ke dalam gelas dan tenggorokan kami yang hampa

Himpunlah daun yang berserak-serak ini
Jadikan kembali pohon penghias tamanmu naung
Sungguh, hidup ini akan iri pada mati
Jika mati demi Kau dan di jalan-Mu pula

Tinggallah dalam jiwa kami sekali lagi
Dengar seruan ‘Aku lebih dekat’-Mu dalam kalbu kami
Jangan sembunyikan wajah pemurah-Mu
Dari tatapan mata kami yang kosong

Jadikan kami sekali lagi pemikul ayat-ayat-Mu
Beri kami ketaatan mengabdi demi satu tujuan
Padukan iman kami seperti Ibrahim
Bisikkan pada hati kami, “Jangan takut kepada selain Tuhan!”

Jika hati kami terlalu liat dan keras
Lembutkan dan rubah jadi lantunan merdu suara Daud
Jika lembek, tempalah jiwa kami seperti Kau tempa jiwa Musa
Jika redup, nyalakan lagi suluh terang Rumi di rumah kami
Jika ciut, karuniai kami ketabahan Ayub dan Yusuf

Berpangku tangan bukan kebiasaan orang beriman

Jadikan lagi kami puncak gunung dengan api menyala
Agar berhala keraguan dapat kami hancurkan
Karena kunci Tauhid telah lepas dari tangan umat

Lihat, kini kami tercerai berai di papan catur kehidupan
Bintang-bintang kami redup di keluasan langit kelam
Menunggu sirna dihalau sinar matahari siang

Kami ini satu rumpun, sebuah keluarga besar
Arab, Jawa, Persia, Tajik dan Melayu
Namun kami tak lagi saling mengenal

Hidupkan lagi ajaran saling mencinta antara kami
Pun umat dan kaum yang lain
Sebab jika satu kaum saja yang mencinta di bumi ini
Tentu dunia ini akan tetap porak poranda

Malam-malam kami hampa, siang-siang kami kerontang
Apa arti hidup ini jika hanya memohon dan meratapi takdir?
Mengapa pula kami harus membangun rumah untuk orang lain
Dan lupa menjelmakan keinginan kami sendiri?

Ombak bergumul ombak, karang bertarung melawan gelombang
Dari perarungan hidup dan mati ini
Akan terjelma lagu merdu kehidupan

Meminta-minta bukan kebiasaan mukmin sejati
Haram baginya tidak memasak makanannya sendiri

Karuniai lagi kami cinta Salman dan Bilal
Ubahlah hati umat yang kecut menjadi manis

Ajari lagi kami rahasia La ilah
Bisikkan kembali makna Illa`Llah ke dalam kalbu kami
Tuntun lagi kami berkhidmat menaati kewajiban

Kau Maha Mulia, sedang kami begitu hina
Limpahi lagi kemulian pada kami yang dina ini
Beri kami kekayaan hati seperti Sayidina Ali

Anugerahi lagi kami semangat mencari seperti al-Kindi dan Biruni
Beri kami lagi kejembaran pikiran Ibn Sina dan al-Ghazali

Telah lama kami ratapi takdir
Namun takdir selalu menghindar dari kami

Umat hanya gemar berdoa dan memohon
Namun pelita budi dan akal mereka telah padam
Kekayaan hikmah dan kearifan dari kalam suci-Mu
Telah terkubur oleh kebodohan dan taklid buta

Apa arti hidup, jika tidak untuk menjelmakan diri
Mengapa kami harus membangun rumah
Menurut rancangan dan keinginan orang lain?

Kau adalah jiwa dari jiwa alam semesta
Tampiklah kami jika hanya gemar memohon
Ajari kami berikhtiar menyingkap tabir rahasia takdir
Kami ini faqir, hanya kepada-Mu berlindung
Beri kami kesetiaan mengabdi demi satu tujuan

Malam-malam kami hampa, siang-siang kami kerontang
Kami kaya, namun kebodohan telah merampas kekayaan kami
Kegemaran kami bukan memohon, namun jika kami memohon

Lindungi kami dari tangan si zalim seperti Namrud dan Fir’aun
Kau Maha Besar, jangan biarkan kami
Porak poranda di tengah kebesaran-Mu
Perlihatkan wajah pemurah-Mu pada penglihatan kalbu
Dengar seruan dalam hati kami senantiasa
“Timur dan Barat adalah milik-Nya”
“Dan ke mana pun kau memandang, akan kau lihat wajah Tuhan!”

Ajari lagi kami rahasia makna Kun Fayakun
Tanamkan lagi ke dalam kalbu kami
Kalimat agung Alastu birabbikum!
Terangi ruang ini dengan lampu Wa Huwa ma`akum
Sesungguhnya Dia senantiasa bersamamu

Campakkan semua kepura-puraan ini
Jadikan lagi kami khalifah-Mu di muka bumi
Baghdad, Kordoba, Bukhara – kini hanya tinggal nama,
Pun Isfahan, Agra dan Aceh Darussalam
Gemakan lagi panggilan azan-Mu dari lubuk hati kami

Ajari kami sekali lagi makna seruan “Tak gentar!”
Hingga kami terbangun dari tidur yang nyenyak ini

Tinggalkan Balasan