MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut bahwa lima sila Pancasila sejatinya adalah rumusan ideal tentang ciri dan pedoman hidup sebuah bangsa yang beradab.
Menyampaikan pidato kebangsaan yang disiarkan oleh CNN Indonesia, Senin (30/8), Haedar berharap lima sila itu dijiwai oleh para elit bangsa dalam memajukan Indonesia lewat berbagai kebijakannya.
Mengutip penjelasan Ir. Soekarno, Haedar menjelaskan bahwa sila pertama tentang ketuhanan menegaskan posisi Indonesia Indonesia terhadap agama. Karenanya upaya apapun yang menjauhkan sisi religiusitas masyarakat Indonesia adalah tindakan yang tidak tepat.
“Soekarno dengan tegas menyatakan: “Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri….Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!,” kutip Haedar.
Tentang sila kedua, Haedar menyebut bahwa sila ini adalah prinsip tentang internasionalisme. Mengutip Soekarno, Haedar menuturkan bahwa internasionalisme Indonesia bukanlah gagasan globalisasi yang permisif dan meluruhkan identitas kebangsaan. Dengan membangun jati diri Indonesia yang kuat, Haedar yakin Indonesia justru mampu bersaing di ranah internasional.
“Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme,” kata Haedar kembali mengutip Soekarno.
Haedar juga mengingatkan bahwa penguatan identitas nasional yang kuat itu bukanlah gagasan ultra nasionalisme yang justru mengarah kepada chauvinisme sehingga membuat Indonesia masa bodoh terhadap permasalahan kemanusiaan di negara lain.
“Bung Karno lantas mengingatkan, “Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia… menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.”,” kutipnya.
Sila keempat Pancasila menurut Haedar berkaitan dengan prinsip mufakat dan kerakyatan. Masih mengutip Soekarno, Haedar menegaskan bahwa Indonesia didirikan untuk semua golongan yang dalam membangunnya diperlukan proses anti diskriminasi, yaitu musyawarah dan perwakilan suara setiap kelompok.
Sila kelima, menurut Haedar menyangkut kesejahteraan yang berprinsip pada kesejahteraan sebagai sinonim dari makna kemerdekaan. Pada prinsip ini Haedar berharap pemerintah bekerja keras mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
“Soekarno bertanya retorik, “Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democracy. Tetapi tidakkah di Eropah justru kaum kapitalis merajalela?“,” kutip Haedar.






