Kamis, 22 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Cinta Anak Bukan Sekadar Kasih Sayang, tetapi Juga Perlindungan dari Kekerasan

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Cinta Anak Bukan Sekadar Kasih Sayang, tetapi Juga Perlindungan dari Kekerasan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Mencintai anak tidak terbatas pada hubungan biologis antara orang tua dan anak. Setiap orang dewasa memiliki peran dalam memberikan kasih sayang, perlindungan, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak di sekitarnya.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah sekaligus Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarani, dalam pengajian bulanan karyawan PP Muhammadiyah bertajuk “Ada Seribu Jalan Mencintai Anak” di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (21/10).

Dalam pemaparannya, Diyah menyoroti berbagai kasus kekerasan terhadap anak, termasuk perundungan (bullying). Menurutnya, keterlibatan anak sebagai korban maupun pelaku kekerasan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga dan pola komunikasi yang mereka terima. Minimnya keteladanan serta komunikasi positif dapat memengaruhi perilaku anak dalam berinteraksi dengan orang lain.

“Anak itu seperti tanaman, jadi kalau kita dapat merawatnya dengan baik, dia pasti akan merasakannya,” ungkap Diyah.

Mengutip pemikiran KH Ahmad Dahlan tentang pendidikan sebagai upaya menuntun kodrat yang dimiliki anak, Diyah menjelaskan bahwa anak memiliki kebutuhan untuk belajar sekaligus bermain. Karena itu, mendidik anak bukan berarti membentuk mereka semata-mata sesuai dengan keinginan orang dewasa, melainkan mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Diyah juga memaparkan data KPAI sepanjang 2025 yang menunjukkan bahwa pelanggaran hak anak paling banyak ditemukan dalam kasus anak korban konflik orang tua. Dalam kategori tersebut, orang tua kandung menjadi pihak yang paling banyak dilaporkan sebagai pelaku.

Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak bukan persoalan sederhana. Meski demikian, pola kekerasan dapat dikenali sehingga setiap orang dewasa perlu mengambil peran ketika melihat anak mengalami perlakuan yang tidak semestinya.

“Gak sederhana, tetapi polanya bisa dilihat. Kalau panjenengan melihat seperti itu, jangan diam, ya. Diam kita itu berarti membiarkan kekerasan terjadi,” tegas Diyah.

Menurutnya, kekerasan yang dibiarkan dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi anak. Selain mengalami luka psikologis, anak berisiko kehilangan kepercayaan diri, putus sekolah, bahkan mengulangi pola kekerasan ketika dewasa. Oleh karena itu, upaya melindungi anak merupakan bagian penting dari investasi bagi masa depan bangsa.

Lebih lanjut, Diyah menyampaikan sejumlah cara sederhana yang dapat dilakukan orang dewasa untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak. Cara tersebut antara lain mendengarkan anak, memberikan sentuhan yang aman dan penuh kasih, hadir secara emosional, bermain bersama, berbicara dengan lembut, memberikan teladan, melindungi, hingga mendoakan mereka.

Ia menekankan bahwa mencintai anak tidak semata-mata diukur dari lamanya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi juga dari kualitas kehadiran, perhatian, dan kepedulian yang diberikan.

Menutup pengajiannya, Diyah mengajak  untuk memperluas makna kasih sayang terhadap anak. Menurutnya, kepedulian tidak harus menunggu seseorang menjadi orang tua secara biologis. Anak-anak di lingkungan sekitar juga membutuhkan perhatian, pendampingan, dan perlindungan dari orang dewasa.

“Tak harus jadi orang tua untuk mencintai anak,” pungkasnya. (Diva)

Tinggalkan Balasan