Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Cinta kepada Nabi Harus Tampak dalam Akhlak

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Cinta kepada Nabi Harus Tampak dalam Akhlak

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budi Jaya Putra mengajak umat Islam memaknai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk melakukan perubahan, terutama dengan menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa.

Pesan tersebut disampaikan Budi dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jumat (4/9).

Menurutnya, Agustus yang baru saja berlalu memuat dua momentum bersejarah. Pertama, peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Kedua, momentum kelahiran Nabi Muhammad Saw atau yang dikenal sebagai Maulid Nabi.

Budi mengatakan, dua momentum tersebut memiliki hubungan yang mendalam. Nabi Muhammad Saw, menurutnya, hadir membawa manusia keluar dari berbagai bentuk kegelapan menuju cahaya.

“Nabi Muhammad Saw datang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahilan menuju ilmu, dari kezaliman menuju keadilan, dan dari perbudakan manusia menuju penghambaan kepada Allah SWT,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 1 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Allah.

Budi mengingatkan agar peringatan kemerdekaan maupun Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Perayaan, perlombaan, maupun selawat, menurutnya, harus melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan.

“Jangan hanya ramai dengan perlombaan dan hanya selawatan saja, tetapi akhlak kita tetap buruk. Jangan hanya memuji Rasulullah Saw dengan lisan, tetapi sunah beliau kita tinggalkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang melantunkan pujian dan selawat. Ukuran cinta yang sesungguhnya, kata dia, terlihat dari sejauh mana ajaran dan akhlak Rasulullah hidup dalam perilaku sehari-hari.

“Ukuran cinta kepada Nabi Muhammad Saw bukan sekadar seberapa keras kita berselawatan. Ukuran cinta kepada Nabi adalah seberapa jauh akhlak beliau hidup dalam diri kita dan kita praktikkan,” tegasnya.

Budi kemudian menjelaskan bahwa ajaran Nabi tentang kejujuran harus mendorong umat untuk menjauhi dusta. Ajaran tentang amanah harus diwujudkan dengan menjauhi pengkhianatan. Begitu pula kasih sayang, persaudaraan, dan keadilan harus tercermin dalam kehidupan sosial.

Budi juga mengutip Surah ar-Ra’d ayat 11 yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Atas dasar itu, ia mengajak jamaah menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, bukan sibuk menilai kekurangan orang lain.

“Bertanya kepada diri kita masing-masing, bukan bertanya tentang orang lain,” katanya.

Ia mengajak jamaah untuk mempertanyakan kembali kualitas salat, kedekatan keluarga dengan Al-Qur’an, kebersihan lisan dari fitnah, tangan dari mengambil hak orang lain, serta hati dari kebencian. Pertanyaan yang sama juga perlu diarahkan pada sejauh mana kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw telah melahirkan akhlak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Budi mengingatkan agar perubahan tidak selalu ditunda dengan alasan belum sempurna, belum tua, atau menunggu keadaan menjadi lebih baik.

“Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang. Dan jangan menunggu negeri ini berubah sebelum kita mengubah diri kita sendiri,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan