MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) diharapkan terus memperluas perannya di tengah masyarakat, termasuk menjangkau berbagai segmen sosial lintas negara dan agama. Peran tersebut dinilai penting untuk memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam membangun kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, selepas membuka Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang pada Sabtu (8/8).
Menurut Haedar, Tapak Suci merupakan salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang memiliki karakter inklusif sehingga terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Tapak Suci ini adalah ortom yang paling inklusif, sehingga diharapkan dapat merangkul seluruh elemen masyarakat. Baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, semua bisa menjadi anggota Tapak Suci,” ujarnya.
Haedar menegaskan, sebagai bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah, TSPM perlu terus memegang teguh nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak dalam menjalankan perannya bagi kemajuan umat dan bangsa.
“Karena semangat iman, takwa, dan akhlak yang dibawa Tapak Suci akan menjadi pilar kekuatan bangsa yang jiwa dan raganya kokoh,” ungkapnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pembinaan rohani dan jasmani yang dilakukan melalui pendidikan bela diri Tapak Suci. Pembinaan tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang memiliki jiwa kesatria.
“Jiwa kesatria yang dimaksud adalah jiwa kenegarawanan yang mampu membela kebenaran tanpa mengenal perbedaan, selalu menebar kebaikan, dan menjadi kekuatan yang dapat bersinergi dengan pemerintah untuk membela negara,” jelas Haedar.
Anugerah Kehormatan untuk Kapolri dan Wali Kota Semarang
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menyinggung pemberian anugerah kehormatan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
Menurut Haedar, pemberian penghargaan tersebut dilandasi semangat yang sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang Tapak Suci, khususnya dalam membela bangsa dan negara serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ia menilai keduanya memiliki semangat yang sama dalam membela rakyat Indonesia, menjunjung tinggi kebenaran, serta memberikan perlindungan kepada kelompok yang lemah.
Selain itu, Haedar melihat adanya kesamaan dalam komitmen terhadap konstitusi dan aturan yang berlaku. Dalam Ikrar Tapak Suci, kata dia, terdapat komitmen untuk membela dan menjunjung tinggi konstitusi serta peraturan yang berlaku.
“Dalam Ikrar Tapak Suci tercantum pembelaan terhadap konstitusi dan aturan yang berlaku. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Polri,” terangnya.
Atas dasar itu, Haedar menyebut Kapolri layak mendapatkan anugerah sebagai pendekar kehormatan Tapak Suci. Menurutnya, penghargaan tersebut sekaligus membuka ruang sinergi yang lebih luas antara Tapak Suci, Muhammadiyah, dan institusi negara.
Haedar menambahkan, pemberian anugerah kehormatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan Tapak Suci terhadap upaya penegakan hukum dan konstitusi di Indonesia.
“Ini merupakan bentuk dukungan Tapak Suci terhadap penegakan hukum dan konstitusi di Indonesia, terutama dalam membela dan melindungi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (syafa)






