MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, mengajak umat Islam menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw sebagai teladan dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan amanah, kasih sayang, dan pengorbanan.
Pesan tersebut disampaikan Fajar dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (3/7).
Fajar menjelaskan bahwa setiap langkah yang ditempuh Rasulullah dalam peristiwa hijrah mengandung hikmah yang relevan sepanjang zaman. Salah satu pelajaran penting adalah keputusan Rasulullah Saw untuk berhijrah paling akhir setelah memastikan para sahabat telah lebih dahulu berangkat menuju Madinah dengan selamat.
“Rasulullah tidak ingin meninggalkan para sahabat sebelum memastikan mereka telah sampai di Madinah dengan aman. Beliau baru berhijrah ketika Allah memberikan izin kepadanya,” ujarnya.
Mengutip penjelasan Syekh Ali Ath-Thanthawi dalam kitab Rijalun min at-Tarikh, Fajar menyebut keputusan Rasulullah tersebut menunjukkan karakter kepemimpinan yang luar biasa.
Ia mengibaratkan Rasulullah seperti nahkoda kapal yang sejati. Ketika kapal diterjang badai dan terancam tenggelam, seorang nahkoda yang bertanggung jawab tidak akan menjadi orang pertama yang menyelamatkan diri. Sebaliknya, ia memastikan seluruh penumpangnya selamat terlebih dahulu sebelum meninggalkan kapal.
Analogi lain, lanjut Fajar, Rasulullah laksana seorang penggembala yang amanah. Saat harus menyeberangi lembah yang berbahaya, seorang penggembala tidak akan berjalan meninggalkan kawanan lebih dahulu, tetapi memastikan seluruh ternaknya berhasil melewati bahaya dengan selamat.
“Di sinilah kita melihat kemuliaan akhlak kepemimpinan Rasulullah. Beliau tidak bertanya bagaimana dirinya selamat, tetapi bagaimana umatnya bisa selamat,” katanya.
Menurut Fajar, Rasulullah Saw tidak pernah menjadikan umat sebagai tangga untuk memperoleh kehormatan pribadi. Sebaliknya, beliau justru menjadikan dirinya sebagai perisai demi melindungi keselamatan umat.
Karakter tersebut, katanya, ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya pada Surah At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan Rasulullah sebagai sosok yang sangat berat merasakan penderitaan umatnya, sangat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta penuh kasih sayang terhadap orang-orang beriman.
Ayat tersebut, lanjutnya, menjadi spirit utama kepemimpinan dalam Islam. Seorang pemimpin tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang-orang yang dipimpinnya.
“Ketika rakyat mengalami kesulitan, pemimpin tidak boleh sibuk menjaga citra. Ketika umat terluka, pemimpin tidak cukup hanya menyusun kata-kata. Pemimpin sejati hadir sebagai pelindung, penenang, sekaligus pemberi arah,” tegasnya.
Karena itu, menurut Fajar, mencintai Rasulullah Saw tidak cukup diwujudkan melalui banyak berselawat semata. Cinta kepada Nabi harus dibuktikan dengan meneladani keberpihakan beliau terhadap keselamatan umat.
Ia menegaskan bahwa dalam Islam, pemimpin bukan sekadar orang yang berada di depan untuk memberi instruksi atau menerima penghormatan. Seorang pemimpin adalah pribadi yang paling besar rasa takutnya kepada Allah, paling berat memikul tanggung jawab, dan paling luas kasih sayangnya kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Fajar kemudian mengingatkan hadis Nabi Saw yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya.
Menurutnya, hadis tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya milik pejabat negara atau tokoh masyarakat. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya, seorang ibu memimpin rumah tangganya, guru memimpin murid-muridnya, dosen memimpin mahasiswanya, demikian pula setiap pengurus organisasi, direktur, kepala lembaga, maupun imam masyarakat memikul amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah besarnya jabatan, banyaknya penghormatan, ataupun jumlah pengikut yang dimilikinya.
“Pertanyaan terbesar bagi seorang pemimpin bukan berapa banyak orang menghormatinya atau berapa banyak pengikutnya, melainkan berapa banyak orang yang merasa aman karena kehadirannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemimpin sejati tidak bertanya apa yang diperoleh dari rakyat, melainkan apa yang dapat dikorbankan demi kemaslahatan umat.
Fajar kemudian mengibaratkan pemimpin sebagai sebuah perisai. Sebuah perisai tidak dibuat untuk dipajang, tetapi untuk menerima benturan demi melindungi orang lain. Demikian pula seorang pemimpin yang mengikuti jejak Rasulullah saw. harus berani berada di garis depan menghadapi risiko, bukan justru membiarkan orang lain menanggung beban sementara dirinya menikmati kenyamanan.
Menurutnya, semangat kepemimpinan seperti inilah yang sangat dibutuhkan umat saat ini, baik di lingkungan keluarga, lembaga, maupun masyarakat.
Seorang ayah, katanya, jangan hanya menuntut penghormatan tetapi melupakan kewajiban melindungi keluarganya. Seorang pemimpin lembaga tidak cukup pandai memberi perintah, tetapi juga harus bersedia mendengarkan bawahannya. Sementara pemimpin masyarakat tidak boleh hanya hadir saat seremoni, lalu menghilang ketika rakyat membutuhkan solusi.
Mengakhiri khutbahnya, Fajar mengingatkan bahwa jabatan merupakan amanah, bukan sekadar hiasan. Kekuasaan adalah ujian, bukan kebanggaan, sedangkan pengaruh merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
“Semoga Allah menjadikan kita semua pemimpin yang amanah, baik dalam memimpin diri sendiri, keluarga, lembaga, masyarakat, maupun umat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita hati yang penuh kasih sayang, kepemimpinan yang adil, serta akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah Saw,” pungkasnya.






