MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib berharap Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 jauh dari perundungan, serta mengakrabkan kakak kelas dengan adik tingkat.
Harapan itu disampaikan Irwan pada Senin (13/7) di Kantor PP Muhammadiyah Jl. Cik Ditiro, Kota Yogyakarta. Irwan berharap, MPLS menjadi pintu pengenalan siswa dengan sekolah yang aman dan ramah.
Bagi Irwan, antara kakak kelas dengan siswa baru yang nantinya menjadi adik tingkat di sekolah Muhammadiyah merupakan sebuah keluarga. Oleh karena itu rasa persaudaraan harus hidup, sehingga tercipta lingkungan belajar yang harmonis.
Guru Besar Ilmu Pendidikan Matematik ini menegaskan, perundungan atau bullying di sekolah Muhammadiyah harus diputus. Caranya dengan membangun relasi setara dan saling mengayomi antara kakak dengan adik kelas harus dihilangkan.
“Kita berharap terjadinya hubungan antara kakak-adik, merasa bersaudara di situ akan pelan-pelan menghilangkan hal-hal yang bersifatnya negatif itu termasuk perundungan,” katanya.
Pada waktu bersamaan, MPLS menurutnya juga dapat dijadikan wadah penggalian bakat peserta didik baru, baik itu untuk bakat di bidang akademik, seni, olahraga, dan lain sebagainya.
“Jika bakat itu sudah terdeteksi sejak awal sehingga bisa ada pembinaan-pembinaan yang berlanjut,” katanya.
Menjaga Tautan Hati Siswa dengan Sekolah yang at Home
Di sisi lain, MPLS ini sekaligus sebagai tanda kembali aktifnya belajar mengajar, artinya peserta didik lama kembali masuk sekolah. Pada masa awal biasanya masih ada peserta didik yang masih enggan ke sekolah, namun ada yang langsung bersemangat bersekolah.
Oleh karena itu, Irwan meminta supaya sekolah Muhammadiyah menjadi tempat nyaman sehingga peserta didik selalu rindu dan bersemangat untuk datang ke sekolah. Kenyamanan di sini bukan hanya soal fisik sekolah, tapi lebih dari itu.
“Kalau anak itu merasa ada sesuatu yang berkesan di hatinya, di jiwanya yang bagus, yang enjoy, merasa at home di situ, dia akan mau cepat berhenti libur– mau cepat ke sekolah,” katanya.
Irwan Akib juga mengapresiasi semangat gerakan ayah yang mengantarkan anak untuk hari pertama sekolah. Menurutnya ini adalah gerakan baik, sebab urusan pendidikan tak semata-mata tanggung jawab ibu.
Menurutnya, yang lebih penting dari itu adalah membangun dan menjaga komunikasi aktif antara orang tua dengan guru sekolah. Dia memandang, kerap kali guru tidak mengetahui persoalan anak di rumah, dan sebaliknya orang tua tidak mengetahui materi apa saja yang diajarkan di sekolah.






