Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kehidupan yang Bermakna Diukur dari Amal, Bukan Lamanya Usia

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Kehidupan yang Bermakna Diukur dari Amal, Bukan Lamanya Usia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Bagaimanapun ingin disangkal, pengembaraan kehidupan ini akan berujung pada satu hal yang pasti datangnya, yaitu kematian. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa mengetahui batas waktu hidup seseorang.

Berlandas hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015, Din Syamsuddin, mengajak bersyukur atas karunia nikmat hidup di bumi sampai saat ini.

“Sebenarnya yang panjang itu bukan umur, melainkan usia. Walau diberikan usia panjang, umur itu pasti berkurang dari tahun ke tahun,” tutur Din.
Demikian kata Din terhadap Syair Abu Nawas bertajuk Al I’tiraf, yang berbunyi: Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumin, “Umurku ini setiap hari berkurang.”

“Umur berkurang, bukan bertambah. Kita tidak tahu berapa ketentuan Allah bagi kita tentang umur ini,” tegas Din.

Maka ketika tiba saatnya kereta kematian datang menjemput, kata Din, tak ada satu hal pun yang dapat menundanya. Begitupun juga jikalau ada yang ingin dimajukan atau ditarik mundur temponya, hal tersebut sangat tidak rasional karena merupakan satu kehendak konkrit dari sang maha kuasa, Allah SWT.

“Itulah ketentuan Allah tentang Al-Maut,” tegasnya saat Pengajian Rabu Pahing di Halaman Parkir Gedung KH Sudja’ RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, pada Rabu (29/7).
Hal penting yang juga mendapat atensi khusus di situ, adalah tentang esensi penggunaan sisa-sisa umur “digunakan untuk apa sisa umur yang ada?” kata Din.

Maka berlandaskan pernyataannya itu, Din mengutip sabda Nabi Saw dalam riwayat at-Tirmidzi;
“Sebaik baik seseorang adalah orang yang panjang usianya dan bagus amalnya. Yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Inilah yang akan memperoleh husnul khatimah,” ujar Din.
Hal itulah yang dimaksut dengan kategori kebaikan amal perbuatan yang selaras dengan seruan agama. Apalagi jika hal tersebut diperkuat dari sisi al-maslahatnya, yakni membawa manfaat untuk diri sendiri dan juga orang lain.

“Penuh dengan amal saleh, amal kebaikan, amal kebenaran dan dan amal yang berdampak kemaslahatan yang bermanfaat. Itu adalah orang-orang yang akan memperoleh husnul khatimah,” sebutnya.

Dan untuk mewujudkan amal baik itu, Din mengingatkan kepada kita bahwa “Jangan terjebak ke dalam kemusyrikan, kesyirikan, apalagi menjadi musyrik”.

Sebaliknya, Din memberikan beberapa contoh baik dari sisi spiritualitas. Antara lain: berdzikir kepada Allah (dzikrullah) dan tadarus al-Qur’an. Adapun dari sisi sosialnya, bisa diwujudkan dengan berinfak, bersedekah, berzakat, dan sebagainya.

“Cukup dengan pikiran memberi pikiran-pikiran terbaik untuk kebaikan umat. Dan itu juga termasuk bentuk-bentuk amal saleh,” lanjutnya.

Din juga menambahkan bahwa mempersiapkan generasi penerus yang shalih dan shalihah juga merupakan satu hal penting yang perlu diwujudkan. Karena menurutnya, kemunculan generasi itulah yang menjadi titik picu lahirnya kehidupan yang jauh lebih baik, bermakna, dan berwarna. (Syafa)

Tinggalkan Balasan