Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Islam Mendorong Pemanfaatan AI Selama Mengarah pada Kemaslahatan

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Islam Mendorong Pemanfaatan AI Selama Mengarah pada Kemaslahatan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus diposisikan sebagai alat (tools) yang membantu manusia, bukan sebagai pengganti akal maupun otoritas agama.

Dalam Pengajian Tarjih yang digelar pada Rabu (22/7), Mukhlis mengajak jamaah memahami terlebih dahulu hakikat AI sebelum membahas hukum maupun penggunaannya dalam kehidupan beragama. Menurutnya, dalam tradisi Islam setiap persoalan harus diawali dengan memahami definisi objek yang dibahas.

Ia menjelaskan bahwa AI secara sederhana merupakan program komputer yang mampu menjalankan berbagai fungsi yang menyerupai kemampuan manusia, seperti berpikir, menganalisis, hingga membantu pengambilan keputusan. Meski demikian, kemampuan tersebut tetap merupakan hasil rancangan manusia sehingga tidak mungkin melampaui akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

“AI tidak bisa melampaui akal manusia. Dalam perspektif Islam, posisinya adalah sebagai tools, sebagai instrumen atau teknologi yang membantu manusia,” ujarnya.

Karena berfungsi sebagai alat, lanjut Mukhlis, nilai penggunaan AI sangat bergantung pada tujuan pemakainya. Jika digunakan untuk kemaslahatan, Islam mendukung pemanfaatan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, termasuk dalam mempelajari ajaran agama. Sebaliknya, penggunaan AI untuk menimbulkan mudarat atau merugikan orang lain tentu tidak dibenarkan.

Ia menilai perkembangan AI telah memunculkan beragam respons dari kalangan agama di seluruh dunia. Berdasarkan berbagai penelitian mutakhir, respons tersebut secara umum terbagi ke dalam dua kelompok, yakni menerima (accept) dan menolak (reject).

Menurut Mukhlis, kelompok yang menolak AI berangkat dari sejumlah kekhawatiran. Sebagian menganggap AI berpotensi menyesatkan manusia, bahkan ada yang menyamakannya dengan godaan setan. Kekhawatiran lain muncul karena AI dinilai dapat menggeser otoritas manusia, termasuk otoritas dalam urusan keagamaan.

Ia juga menyinggung pernyataan Elon Musk yang pernah menggambarkan AI sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga memicu diskusi luas di berbagai kalangan agama.

“Yang ditolak bukan semata-mata teknologinya, tetapi karena muncul kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih peran yang semestinya dimiliki manusia, bahkan ada yang mengaitkannya dengan persoalan ketuhanan,” jelasnya.

Mukhlis kemudian mengangkat contoh robot humanoid Sophia yang diperkenalkan di Arab Saudi. Robot berbasis AI tersebut sempat menarik perhatian dunia karena mampu menjawab berbagai pertanyaan, mengungkapkan keinginan memiliki anak, hingga memperoleh kewarganegaraan Arab Saudi.

Fenomena tersebut, menurutnya, memunculkan kritik dari sebagian ulama dan masyarakat Muslim yang menilai pemberian status demikian berpotensi bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan hadis Nabi Muhammad saw. tentang larangan menandingi ciptaan Allah, sehingga sebagian kalangan memandang pengultusan robot sebagai sesuatu yang harus diwaspadai.

“Fenomena seperti Sophia membuat sebagian kalangan khawatir jangan sampai manusia memosisikan AI seolah-olah menyamai atau bahkan menandingi ciptaan Allah,” katanya.

Di sisi lain, Mukhlis menjelaskan bahwa tidak sedikit komunitas agama yang justru menerima kehadiran AI sebagai sarana pelayanan keagamaan. Ia mencontohkan robot pendeta bernama Mindar di Jepang yang digunakan di sebuah kuil Buddha untuk menyampaikan khotbah dan berinteraksi dengan pengunjung.

Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut bertujuan mendekatkan generasi muda kepada kehidupan beragama melalui media yang akrab dengan keseharian mereka.

“Kalangan yang menerima melihat AI sebagai media untuk mendukung pelayanan keagamaan dan menarik minat generasi muda agar lebih dekat dengan agama,” ujarnya.

Dalam konteks Islam, Mukhlis juga menyinggung adanya sebagian peneliti yang mengaitkan perkembangan teknologi dengan kandungan Surah Al-Hadid ayat 25 tentang besi. Menurutnya, ada pandangan yang menafsirkan secara implisit bahwa teknologi modern, termasuk AI yang bergantung pada perangkat keras dan pusat data, tidak terlepas dari pemanfaatan besi sebagai material utama. Namun, ia menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan salah satu pendekatan interpretatif yang berkembang di kalangan akademisi.

Pada akhirnya, Mukhlis kembali menegaskan bahwa AI harus dipahami sebagai sarana, bukan tujuan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu manusia memperoleh informasi, termasuk informasi keagamaan, selama tetap digunakan secara kritis dan tidak menggantikan otoritas ilmu maupun bimbingan para ulama.

“AI adalah instrumen yang membantu manusia. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya tetap manusia itu sendiri. Karena itu, penggunaannya dalam persoalan agama harus disertai sikap kritis dan pemahaman yang benar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan