Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kepemimpinan Profetik Adalah Benteng Moral dan Kepercayaan Publik

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Kepemimpinan Profetik Adalah Benteng Moral dan Kepercayaan Publik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah yang mengandung ujian dan tanggung jawab moral yang besar. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XVI yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) di ASN Corporate University, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Syafiq menjelaskan bahwa kepemimpinan harus dipahami sebagai karunia Allah yang diperoleh melalui jalan yang benar, seperti dedikasi, prestasi, dan kontribusi nyata kepada masyarakat, bukan sesuatu yang dikejar secara ambisius demi kepentingan pribadi.

Mengutip QS Al-An’am ayat 165, Syafiq menyampaikan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan meninggikan derajat sebagian di atas yang lain untuk menguji mereka.

“Kepemimpinan bukan hanya amanah, tetapi juga anugerah yang di dalamnya terdapat ujian. Karena itu jabatan harus diraih dengan cara-cara yang benar melalui dedikasi dan prestasi, bukan dengan ambisi yang menghalalkan segala cara,” tegas Syafiq dalam rilis berita, Sabtu (13/6).

Dalam kesempatan tersebut, Syafiq juga menguraikan konsep Prophetic Leadership atau model kepemimpinan yang meneladani para nabi. Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengikuti keinginan masyarakat, terlebih apabila aspirasi tersebut bertentangan dengan nilai-nilai moral dan hukum.

“Tugas pemimpin bukan sekadar mengikuti arus, melainkan memberikan pencerahan, mendidik, dan menggerakkan masyarakat agar semakin kuat secara moral, intelektual, maupun material,” jelasnya.

Lebih lanjut, Syafiq menyoroti pentingnya menjaga integritas di tengah berbagai dilema organisasi dan birokrasi. Tidak jarang seseorang yang mempertahankan integritas justru dianggap kurang loyal karena tidak sejalan dengan praktik yang menyimpang di lingkungannya. Ia menjelaskan bahwa loyalitas tidak boleh dimaknai sebagai kepatuhan membabi buta kepada individu atau kelompok, melainkan harus berpijak pada nilai-nilai kebenaran sebagaimana pesan QS Ali Imran ayat 103 untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.

Sementara itu, perkembangan ilmu pengetahuan, lanjut Syafiq bersifat akumulatif dan terus bertambah. Sedangkan, moralitas dapat mengalami pasang surut sehingga harus senantiasa dipelihara.

“Penyair Mesir, Ahmad Shawqi pernah menyatakan bahwa runtuhnya akhlak akan berujung pada runtuhnya suatu bangsa. Mengelabui aturan untuk membenarkan sesuatu yang salah secara moral tetap merupakan kejahatan moral yang berkonsekuensi lipat ganda,” ujar Syafiq.

Pemimpin Harus Menjadi Seorang Moralis Berintegritas

Dari poin yang disampaikan Syafiq memperjelas bahwa mempertahankan integritas dalam birokrasi bukanlah perkara mudah. Seseorang yang konsisten memegang prinsip sering kali menghadapi tekanan, bahkan berpotensi memiliki banyak pihak yang tidak menyukainya. Namun demikian, Syafiq menilai terdapat dua pilihan bagi seorang moralis. Pertama, keluar dari sistem demi kenyamanan pribadi. Kedua, tetap bertahan di dalam sistem dan secara konsisten melakukan perbaikan secara bertahap.

Melanjutkan pemaparannya, Syafiq menyoroti bahaya normalisasi perilaku yang salah akibat tekanan kerja dan budaya organisasi yang tidak sehat. Fenomena tersebut membuat praktik yang sebenarnya menyimpang dianggap lumrah hanya karena telah berlangsung lama dan dilakukan banyak orang. Akibatnya, muncul krisis kepercayaan publik ketika terdapat ketidaksesuaian antara aturan yang tertulis dengan praktik yang terjadi di lapangan. Menurutnya, regulasi yang baik tidak akan berarti apabila tidak diiringi keteladanan dan integritas para pemimpin.

“pemimpin dan pejabat harus memiliki komitmen untuk membawa masyarakat keluar dari kegelapan moral. Jangan sampai terjadi efek saling menggoda yang akhirnya berujung pada “penggelapan” massal, bukan pencerahan,” tegas Syafiq.

Terakhir, merujuk kembali kepada konsep Prophetic Leadership, Syafiq berpesan kepada seluruh audiens agar seseorang tidak terjebak kepada dilema birokrasi, tekanan kerja tak etis, ataupun pilihan-pilihan hidup yang abu-abu.

“Nabi Muhammad pernah mengatakan, “Istafti Qalbak”. Tanyalah pada hati nuranimu. Hati nurani yang bersih tidak akan bisa dibohongi oleh teknikalitas hukum atau normalisasi kesalahan di lingkungan sekitar,” pungkas Syafiq.

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kepemimpinan yang berlandaskan moralitas, integritas, dan nilai-nilai profetik menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mewujudkan peradaban yang berkemajuan. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan