MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, krisis kemanusiaan, hingga ketimpangan sosial yang kian melebar. Menjawab tantangan tersebut, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu ditopang oleh kolaborasi yang erat antara dunia akademik, pembuat kebijakan, serta elemen masyarakat sipil.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI), Brian Yuliarto, saat memberikan keynote speech pada International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 bertajuk Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization yang diselenggarakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Brian menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk menjadi pusat lahirnya solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Menurutnya, universitas tidak hanya berperan menghasilkan pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
“Universitas harus hadir menjadi pusat solusi yang menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang mampu meningkatkan kehidupan masyarakat serta mendukung pembangunan berkelanjutan,” ujarnya pada Kamis (11/6).
Brian menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari kebaruannya, melainkan dari sejauh mana inovasi tersebut dapat diterapkan secara efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dalam konteks tersebut, ia menilai kepemimpinan perempuan memiliki posisi yang semakin penting dalam mendorong transformasi sosial yang berkelanjutan.
Menurutnya, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari proses pembangunan, tetapi juga memiliki kapasitas besar sebagai penggerak perubahan, pengambil keputusan, serta pemimpin yang mampu menghadirkan perspektif inklusif dalam menjawab berbagai tantangan global.
“Organisasi seperti ‘Aisyiyah telah menunjukkan bagaimana keimanan, pengetahuan, dan keterlibatan sosial dapat dipadukan untuk menciptakan banyak sekali kontribusi baik di masyarakat. Komitmen terhadap edukasi, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan kesadaran lingkungan memberikan fondasi yang kuat untuk pembangunan berkelanjutan,” jelas Brian.
Lebih lanjut, Brian menegaskan komitmen pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia untuk terus memperkuat kebijakan yang mendukung terciptanya ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, adil, dan setara bagi seluruh warga negara.
Ia memastikan bahwa perempuan harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan memimpin, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi, riset, sains, dan inovasi. Menurutnya, pembangunan peradaban yang berkelanjutan tidak mungkin terwujud apabila potensi perempuan masih dibatasi oleh berbagai hambatan struktural maupun kultural.
“Membangun peradaban yang berkelanjutan membutuhkan kontribusi dari seluruh masyarakat dan kita tidak dapat mencapai kemajuan yang berarti jika kita terus membatasi potensi dari setengah populasi kita,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Brian juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ICAS 2026 serta dedikasi ‘Aisyiyah yang konsisten mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan perempuan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap konferensi internasional tersebut dapat menjadi ruang strategis untuk melahirkan gagasan-gagasan inovatif, memperkuat jejaring kemitraan lintas sektor, serta menghasilkan rekomendasi konkret yang mampu berkontribusi bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan dan kemajuan peradaban kemanusiaan universal. (Bhisma)






