MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANJARNEGARA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah didampingi Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Aisyah dan Latifah Iskandar hadiri Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang dilaksanakan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sumberejo pada Ahad (23/5) Kegiatan tersebut diawali dengan panen raya kentang Program Ketahanan Pangan PCA Sumberejo, Banjarnegara.
Dalam sambutannya, Salmah mengajak warga ‘Aisyiyah untuk menjadikan momentum milad sebagai refleksi perjuangan para pendahulu yang telah membesarkan organisasi. Ia menegaskan bahwa perjalanan panjang ‘Aisyiyah tidak lepas dari keteladanan tokoh pendiri ‘Aisyiyah yakni Nyai Walidah Dahlan.
“Kalau bicara tentang milad, tentang refleksi, kita tidak boleh melupakan pimpinan ‘Aisyiyah sebelumnya. Merekalah yang membentuk, membawa ‘Aisyiyah sampai sebesar ini, kita hanya meneruskan,” ujar Salmah.
Ia mengaku terkesan dengan perjuangan Nyai Walidah Dahlan yang pernah singgah di wilayah Batur dan Sumberejo untuk berdakwah di tengah kondisi perempuan yang saat itu masih banyak dipingit.
“Seorang perempuan yang saat itu banyak masih dipingit, tidak boleh keluar, perempuan masih dianggap konco wingking saat itu, tetapi Siti Walidah sudah berdakwah ke mana-mana melalui perdagangan hingga sampai di sini dengan menunggang kuda,” tuturnya.
Menurut Salmah, perjuangan Nyai Walidah tidak hanya berupa dakwah lisan, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian sosial dengan membina anak-anak yatim di Sumberejo dan membawa dua orang untuk belajar di Yogyakarta.
Ia menilai semangat perjuangan tersebut kini diwarisi oleh perempuan-perempuan ‘Aisyiyah di wilayah Banjarnegara, khususnya di Sumberejo dan Batur.
“Semangat ini harus terus dipertahankan dan diteruskan kepada para penerus ‘Aisyiyah. Refleksi milad tidak hanya berhenti kehikmatannya pada hari ini, tapi ‘Aisyiyah akan terus memperbaiki diri dan menyempurnakan gerakannya menuju yang lebih baik,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Salmah juga memaparkan tiga basis utama dalam memperkokoh dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian, yakni berbasis keluarga, masyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, keluarga harus menjadi tempat menyemai nilai-nilai kebaikan melalui keluarga sakinah, sementara di tengah masyarakat ‘Aisyiyah perlu hadir menciptakan kehidupan yang toleran, religius, inklusif, dan damai.






