Setelah beberapa waktu hidup tanpa perlindungan politik, Nabi Muhammad Saw mulai mencari kemungkinan baru di luar Makkah. Keputusan itu datang sangat terlambat jika dilihat dari ukuran politik biasa. Tekanan Quraisy telah berlangsung bertahun-tahun, penghinaan terus meningkat, keselamatan beliau semakin rapuh.
Namun Nabi tetap bertahan. Dalam sejarah para nabi, kesabaran sering melampaui logika manusia biasa. Nabi Nuh berdakwah hampir satu milenium kepada kaum yang sama. Musa berulang kali kembali kepada Firʿaun meski ancaman pembunuhan terus membayangi. Nabi Muhammad saw menempuh pola serupa. Ketabahan menjadi strategi peradaban sebelum menjadi strategi politik.
Akan tetapi, situasi Makkah telah berubah drastis. Setelah wafatnya Abu Thalib, ancaman terhadap nyawa Nabi menjadi sangat nyata. Hijrah bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan untuk mempertahankan dakwah.
Kota besar terdekat dari Makkah adalah Tha’if. Hubungan kedua kota itu rumit. Kadang bersaing, kadang berdamai, kadang saling membutuhkan. Dalam banyak peradaban kuno, kota-kota besar tumbuh melalui pola serupa. Athena dan Sparta saling membenci sekaligus saling mengawasi. Baghdad dan Damaskus bergantian menjadi pusat pengaruh dunia Islam. Makkah dan Tha’if juga hidup dalam orbit politik yang kurang lebih sama. Penduduk keduanya saling mengenal dengan sangat baik.
Karena itulah Tha’if tampak menjanjikan. Nabi berangkat secara diam-diam bersama Zayd ibn Haritsah. Mereka berjalan kaki selama dua hari agar perjalanan itu tidak menimbulkan kecurigaan Quraisy. Di Tha’if, Nabi menemui tiga pemimpin utama Banu Tsaqif, yaitu ʿAbd Yalil, Masʿud, dan Habib.
Respons yang datang sangat kasar. Salah seorang berkata, “Kalau Allah benar-benar memilihmu sebagai nabi, lebih baik aku merobek tirai Kaʿbah.” Yang lain mengejek, “Apa Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?” Saudara ketiga berkata dengan nada menghina, “Kalau engkau benar nabi, engkau terlalu mulia untuk kuajak bicara. Kalau engkau pendusta, engkau terlalu hina untuk kutanggapi.”
Ucapan-ucapan itu memperlihatkan satu pola lama dalam sejarah manusia. Kekuasaan lama hampir selalu merespons gagasan baru dengan ejekan sebelum ketakutan. Nabi Nuh dianggap orang gila sebelum banjir besar datang menghancurkan kaumnya. Nabi Musa dituduh penyihir sebelum Firʿaun kehilangan kerajaannya. Para pengikut Nabi Isa dipandang kelompok kecil tanpa arti sebelum ajarannya menyebar melampaui Romawi. Nabi Muhammad saw menghadapi fase yang sama. Dakwah Islam pada masa itu masih dipandang sebagai gerakan kecil yang pantas dihina.
Nabi tetap tenang. Beliau hanya berkata, “Jika kalian menolak ajakanku, setidaknya jangan beritahukan kedatanganku kepada Quraisy.”
Walau ditolak dengan penghinaan, Nabi tidak langsung meninggalkan Tha’if. Selama beberapa hari beliau terus berdakwah kepada masyarakat umum. Tapi tak seorang pun menerima Islam. Sebagian mulai tertarik, tetapi para pemimpin kota segera panik. Mereka mengerahkan massa untuk mengusir Nabi Saw dan Zayd. Batu dilemparkan dari segala arah. Zayd berusaha melindungi tubuh Nabi Saw hingga keduanya penuh luka dan darah. Mereka keluar dari kota dalam keadaan sangat lemah lalu berhenti di bawah sebuah pohon.
Bertahun-tahun kemudian, ʿAisyah pernah bertanya kepada Nabi tentang peristiwa di Tha’if itu, “Apakah hari tersebut lebih berat daripada Uhud?” Beliau menjawab, “Ya.”
Jawaban itu tentu saja mengejutkan kita. Mengapa Nabi Saw menganggap peristiwa di Tha’if sebagai hari yang jauh lebih berat daripada pertempuran Uhud?
Kamu tahu Pertempuran Uhud merupakan palagan yang brutal. Di sana, taruhannya adalah nyawa. Baju besi koyak, gigi beliau patah, wajah bersimbah darah, dan paman tercinta gugur dengan tragis. Namun, Uhud adalah medan perang. Sejak awal, semua orang tahu risiko terburuknya adalah mati di ujung pedang. Secara mental, manusia bisa bersiap menghadapi benturan fisik sekeras itu karena situasinya memang perang terbuka.
Namun, di Tha’if, kondisinya sama sekali berbeda. Nabi Muhammad Saw datang hanya berdua dengan Zayd, tanpa senjata, tanpa pasukan, membawa pesan damai untuk mencari suaka politik. Beliau tidak siap untuk berperang. Ekspektasi kemanusiaan yang mendasar adalah jika pun ditolak, penolakan itu dilakukan dengan beradab.
Nyatanya, yang terjadi adalah anarki total. Penguasa kota memobilisasi massa, menyuruh budak dan anak-anak mengepung, lalu melempari beliau dengan batu dari segala arah sepanjang jalan keluar kota.
Kamu bisa merasakan bedanya secara psikologis. Terluka dalam perang itu hal yang wajar. Namun, dikepung, disoraki, dan dilempari batu seperti kriminal oleh masyarakat sipil yang ingin kamu selamatkan, itu adalah penghinaan yang menghancurkan martabat. Luka fisik di Uhud bisa sembuh dalam hitungan minggu, tetapi trauma penolakan dan isolasi sosial di Ta’if begitu masif hingga membuat beliau berjalan dalam kondisi disosiasi. Beliau mengalami kehilangan kesadaran akan realitas saking hebatnya tekanan mental yang dialami.
Menariknya, dalam lanskap sejarah dunia, para pemimpin pergerakan yang mengalami penghinaan sekasar ini biasanya akan melakukan dua hal, yaitu memanfaatkan penderitaan tersebut untuk membangun narasi kepahlawanan (martirdom) demi mendapat simpati publik, atau menggunakannya sebagai bahan bakar dendam kesumat.
Beliau tidak melakukan keduanya. Nabi Muhammad Saw menolak mengeksploitasi luka tersebut untuk memosisikan diri sebagai korban di hadapan manusia. Beliau tidak mengumbar trauma ini demi simpati murah. Seluruh rasa sakit, kehinaan, dan isolasi politik itu tidak ditumpahkan ke bumi, melainkan ditarik ke atas, diadukan secara privat hanya kepada Allah.
Di bawah pohon itu, Nabi memanjatkan salah satu doa paling menyentuh dalam sejarah Islam: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi, Engkaulah Tuhan kaum tertindas dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkanku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Namun perlindungan-Mu lebih menenangkan bagiku.”
Ketika duduk di bawah pohon itu, Nabi tidak menyadari bahwa kebun tersebut milik ʿUtbah dan Syaybah ibn Rabiʿah, dua tokoh Quraisy yang masih memiliki hubungan keluarga dengan beliau. Mereka menyaksikan pengusiran brutal dari kejauhan lalu merasa iba. Ada sisa naluri kesukuan Arab yang belum mati sepenuhnya.
ʿUtbah dan Syaybah kemudian mengirim pelayan Kristen bernama ʿAddas membawa anggur.
Sebelum makan, Nabi mengucapkan “Bismillah”.
ʿAddas terkejut. Ungkapan itu asing baginya. Percakapan kecil pun terjadi. Ketika mengetahui ʿAddas berasal dari Niniwe, Nabi berkata, “Itu negeri Yunus ibn Matta.”
Pelayan itu terdiam. Di tengah Jazirah Arab yang dipenuhi paganisme, seorang lelaki dari Makkah mengenal nabi dari Irak kuno. Nabi kemudian berkata, “Yunus adalah saudaraku. Kami sama-sama nabi Allah.”
ʿAddas langsung mencium tangan dan kaki Nabi.
Adegan itu menyimpan simbolisme yang sangat kuat. Saat kerabat dekat menolak dakwah beliau, justru orang asing dari wilayah jauh mengenali cahaya kenabian. Fenomena semacam ini berulang dalam sejarah. Banyak nabi, pemikir, dan reformis ditolak lingkungan terdekat lalu diterima orang-orang asing. Nabi Isa lebih dahulu diterima komunitas non-Yahudi. Para filsuf Yunani lebih dihargai dunia Islam abad pertengahan daripada sebagian masyarakat Eropa saat itu. Nabi Muhammad saw juga mulai menemukan pengakuan dari luar lingkaran Quraisy.
Tidak lama kemudian, Allah mengirim Jibril bersama Malaikat Gunung. Malaikat itu menawarkan untuk menghancurkan Tha’if dengan dua gunung yang mengapit kota. Tapi Nabi Saw menolak. Beliau berkata bahwa dirinya berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah semata.
Di sinilah keagungan moral Nabi mencapai puncaknya. Dalam sejarah manusia, korban kekerasan sering berubah menjadi pelaku balas dendam ketika kesempatan datang. Kekaisaran Romawi menghancurkan musuh-musuhnya tanpa ampun. Bangsa Mongol membalas perlawanan kota-kota dengan pembantaian massal. Nabi Muhammad saw memperoleh peluang menghancurkan Tha’if justru saat darah masih mengalir dari tubuh beliau. Namun yang muncul adalah harapan, bukan dendam.
Kurang dari sepuluh tahun kemudian, Tha’if benar-benar masuk Islam. Kota yang dahulu melempari Nabi dengan batu akhirnya dipenuhi orang-orang yang bersujud kepada Allah. Tempat beliau pernah berdarah kini berdiri sebagai masjid.
Referensi:
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.






